Dipanggil Prabowo, Menkes Ungkap Kondisi Keuangan BPJS Kesehatan
Menkes Budi Gunadi Sadikin membahas kondisi keuangan BPJS Kesehatan, suntikan Rp20 triliun, hingga kualitas layanan rumah sakit.
Warga berlarian di atas timbunan material guguran awan panas Gunung Semeru saat terdengar suara gemuruh dari Gunung Semeru di Desa Sumber Wuluh, Lumajang, Jawa Timur, Minggu (5/12/2021). Akibat awan panas guguran Gunung Semeru tersebut puluhan rumah warga rusak dan ratusan warga mengungsi. ANTARA FOTO/Zabur Karuru
Harianjogja.com, JAKARTA – Akademisi dan Praktisi Klinis, Ari Fahrial Syam mengimbau agar masyarakat semakin waspada terhadap dampak dari debu vulkanik, seperti Gunung Semeru yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada mata, kulit, maupun saluran pernapasan.
“Efek akibat terhirup debu, juga bisa muncul dua minggu setelah debu tersebut bertahan dalam sistem pernapasan manusia sehingga menyebabkan infeksi pada saluran pernapasan bawah,” kata Ari kepada wartawan, Minggu (5/12/2021).
Bahkan, dia melanjutkan jika kandungan silika terus bertahan di paru-paru dalam jangka panjang, hal ini akan menyebabkan silikosis, suatu kondisi yang pada akhirnya membuat fungsi paru akan menurun.
Ari menjelaskan, saat ini, debu vulkanik akan menyebabkan perih pada mata dan menimbulkan gangguan pernafasan berupa batuk dan sesak nafas. Pada kulitpun menyebabkan gatal-gatal jika terpapar debu tersebut.
“Permasalahan kesehatan para pengungsi harus diidentifikasi sehingga langkah-langkah yang tepat harus dilakukan. Permasalahan kesehatan yang muncul seputar pengungsi adalah gangguan fisik maupun psikis,” ujarnya.
Lebih lanjut, dia menyebutkan debu vulkanik juga menyebabkan jalan-jalan raya di beberapa kota seputar Semeru menjadi licin dan berlumpur setelah hujan tiba dan menyebabkan beberapa kecelakan.
Menurutnya, kondisi lain yang perlu diperhatikan adalah fasilitas pengungsian yang terbatas seperti keterbatasan tempat tidur yang layak, sarana air bersih khususnya untuk mandi, cuci dan kakus (MCK) yang terbatas. Kondisi yang tidak layak di pengungsian, imbuhnya, juga dapat mempengaruhi kesehatan para pengungsi.
Selain itu, dia menilai faktor lain yang wajib menjadi perhatian adalah kondisi kejiwaan para pengungsi juga akan terganggu, karena terdapat keadaan yang dapat mencetuskan terjadinya stres bagi para pengungsi.
“Hidup di pengungsian yang tidak jelas, masa depan yang juga tidak jelas, apalagi para pengungsi juga sudah mengalami kerugian akibat kerusakan dan kehilangan harta benda. Hal ini akan menyebabkan kondisi kejiwaan para pengungsi akan menurun. Semoga para korban sakit segera diobati dan masyarakat yang berdampak terhindari dari gangguan kesehatan lebih lanjut,” ujar Ari.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Menkes Budi Gunadi Sadikin membahas kondisi keuangan BPJS Kesehatan, suntikan Rp20 triliun, hingga kualitas layanan rumah sakit.
Jadwal KRL Solo-Jogja dari Palur pada Sabtu 3 Oktober 2026 tersedia mulai pukul 05.00 WIB. Simak jadwal lengkap tiap stasiun.
Jadwal KRL Jogja-Solo Sabtu 3 Oktober 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak jadwal lengkap tiap stasiun dan tarifnya Rp8.000.
Indonesia masih berpeluang menambah emas Asian Games 2026 lewat sepak takraw dan padel setelah mengoleksi 35 medali.
KBRI Bangkok mengimbau WNI di Thailand memantau cuaca dan kondisi jalan untuk mengantisipasi banjir hingga 7 Oktober 2026.
Hashim mundur dari WIFI. Pengamat menilai Internet Rakyat dan pemanfaatan spektrum 1,4 GHz tetap berjalan sesuai komitmen perusahaan.