WHO: Kesenjangan Vaksin Covid-19 Global Harus Dihentikan!

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus - Antara/Reuters
14 November 2021 10:57 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Kepala Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan kesenjangan dalam distribusi dan akses vaksin Covid-19 di seluruh dunia menjadi sebuah skandal yang harus dihentikan sekarang.

"Setiap hari ada enam kali lipat (vaksin) booster yang diberikan secara global dibanding dosis pertama di negara-negara berpenghasilan rendah," kata Tedros saat konferensi pers, Jumat (12/11/2021).

Menurut data WHO terkini, kesenjangan global paling kentara di Afrika, yang baru 6 persen dari populasinya mendapatkan vaksin Covid-19 lengkap.

WHO juga sedang bergelut dengan krisis Covid-19 baru di Eropa. Hampir 2 juta kasus baru tercatat di benua tersebut dalam sepekan terakhir - tertinggi dalam sepekan di Afrika sejak awal pandemi.

Badan kesehatan PBB itu berencana memvaksin 40 persen populasi di setiap negara hingga akhir 2021. Namun, WHO menyebutkan perlu 550 juta dosis tambahan untuk memenuhi target tersebut.

Diberitakan sebelumnya, cakupan vaksin yang tidak merata dan pelonggaran tindakan pencegahan telah membawa Eropa kembali ke titik kritis pandemi Covid-19. Jumlah kasus di benua biru itu mendekati rekor dan diperkirakan akan mencatat 500.000 kematian hingga Februari tahun depan.

Hans Kluge, direktur WHO untuk Eropa mengatakan semua dari 53 negara di kawasan itu menghadapi “ancaman nyata kebangkitan Covid-19 dan mendesak pemerintahan untuk menerapkan kembali protokol kesehatan. Selain Jerman, Estonia dan Latvia termasuk negara yang mengalami lonjakan kasus dan angka kematian.

“Kita, sekali lagi, berada di pusat penyebaran,” kata Kluge seperti dikutip TheGuardian.com, Jumat (5/11/2021).

Dengan lonjakan infeksi virus yang meluas dia meminta setiap otoritas kesehatan untuk mempertimbangkan kembali dengan hati-hati pelonggaran atau pencabutan langkah-langkah pencegahan saat ini.

Dia mengatakan bahwa hanya di negara-negara dengan tingkat vaksinasi yang tinggi imunisasi dapat berbuat banyak.

Sumber : Antara