Mengenal Blue Light dan Pengaruhnya Terhadap Kesehatan Mata

Ilustrasi wanita kelelahan akibat terlalu lama menatap layar laptop (blue light) - Freepik
05 November 2021 04:27 WIB Ithamar Yaomi DC News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Kemungkinan Anda membaca artikel ini di perangkat smartphone yang memancarkan sinar biru (blue light). Haruskah Anda khawatir dengan pengaruh blue light yang terpancar ke mata Anda?

Dunia sekarang berdenyut dengan energi elektromagnetik. Hal itu bergerak di sekitar Anda dalam bentuk gelombang. Panjang gelombang bervariasi dari gelombang radio yang lebih panjang, gelombang mikro, inframerah, dan gelombang UV hingga spektrum elektromagnetik pendek: sinar-X dan sinar gamma.

Sebagian besar gelombang elektromagnetik tidak terlihat. Namun, gelombang kecil, yang dikenal sebagai cahaya tampak (visible light), dapat dideteksi oleh mata manusia.

BACA JUGA : Begini Cara Menjaga Kesehatan Mata Saat Belajar Daring

Dilansir dari Health Line, gelombang cahaya tampak bervariasi panjangnya dari 380 nanometer (violet light) hingga 700 nanometer (red light). Semakin panjang gelombang, semakin sedikit energi yang ditransmisikan. Cahaya biru memiliki gelombang energi tinggi yang sangat pendek.

Faktanya, mereka hanya sedikit lebih panjang dan kurang kuat daripada gelombang ultraviolet yang terlalu pendek untuk dilihat orang dengan mata telanjang.

Pakar kesehatan telah memperingatkan terhadap efek berbahaya dari sinar UV, yang dapat merusak kulit dan mata Anda. Gelombang cahaya biru berenergi tinggi hampir sama kuatnya.

Apa yang menghasilkan blue light?

Blue light, seperti warna visible light lainnya, ada di sekitar Anda. Matahari memancarkan sinar biru. Begitu juga dengan lampu neon dan lampu pijar.

Manusia terpapar lebih banyak sinar biru daripada sebelumnya karena meluasnya penggunaan perangkat yang mengandalkan teknologi light-emitting diode (LED). Layar komputer dan laptop, televisi layar datar, ponsel, dan tablet semuanya menggunakan teknologi LED dengan jumlah sinar biru biru yang tinggi.

Apa pengaruh blue light terhadap mata?

Mata Anda dilengkapi dengan struktur yang melindunginya dari beberapa jenis cahaya. Kornea dan lensa melindungi retina peka cahaya di bagian belakang mata Anda dari kerusakan sinar UV, misalnya.

Struktur itu tidak menghalangi sinar biru. Dan Anda terpapar banyak hal, cahaya biru alami dari matahari jauh melebihi jumlah dari satu gadget mana pun.

Namun demikian, beberapa ahli kesehatan mata telah menyatakan keprihatinannya tentang paparan sinar biru dari layar dan perangkat digital dengan lampu latar karena orang menghabiskan begitu banyak waktu untuk menggunakannya dalam jarak dekat.

Sebuah studi pada 2020 yang diterbitkan dalam Indian Journal of Ophthalmology menemukan bahwa selama isolasi Covid-19, sebanyak 32,4 persen dari populasi penelitian menggunakan perangkat pemancar cahaya biru 9 hingga 11 jam sehari.

BACA JUGA : Bukan Cuma Wortel, Ternyata Labu Juga Baik

15,5 persen lainnya menggunakan perangkat 12 hingga 14 jam sehari, peningkatan waktu layar yang cukup besar, mungkin karena perubahan cara orang bekerja selama pandemi.

Risiko dan efek samping dari paparan blue light?

Menurut sebuah studi pada 2018, sinar biru dapat menembus kornea dan lensa mata, hingga mencapai retina, di mana hal itu dapat menyebabkan beberapa masalah kesehatan, termasuk:
- Mata kering
- Katarak
- Degenerasi makula terkait usia
- Peningkatan produksi hormon, yang secara langsung dapat memengaruhi kualitas tidur

Sebaliknya, studi lain menunjukkan bahwa sementara paparan akut terhadap sinar biru dapat berbahaya bagi retina, paparan jangka panjang terhadap cahaya biru yang dipancarkan dari layar digital tidak menciptakan biohazard.

Sebuah studi tambahan menunjukkan bahwa paparan sinar biru sebelum seseorang tidur dapat mengganggu pola tidur mereka, yang menyebabkan kualitas tidur yang buruk.

Secara keseluruhan, lebih banyak penelitian akan membantu menentukan apakah paparan jangka panjang terhadap sinar biru dari perangkat elektronik berbahaya bagi mata atau penglihatan seseorang.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia