Deretan Maskapai Penerbangan Indonesia yang Gulung Tikar & Tak Lagi Terbang

Batavia Air - JIBI/Bisnis.com
27 Oktober 2021 18:47 WIB Mia Chitra Dinisari News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Di Indonesia, ada puluhan maskapai penerbangan yang beroperasi dan beberapa di antaranya sudah bangkrut.

Berikut daftar askapai penerbangan di Indonesia yang sudah gulung tikar dikutip dari itbu.ac.id, wiki.edunitas.com, dan infodephub.com: 

1. Mandala Airlines

Mandala Tigerair (sebelumnya bernama Mandala Airlines) adalah maskapai penerbangan bertarif rendah Indonesia yang berkantor pusat di Jakarta. Pada saat ini Tigerair Mandala memiliki bandar udara penghubung di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Bandar Udara Internasional Kuala Namu, Bandar Udara Sultan Syarif Kasim II dan Bandar Udara Internasional Juanda.

Tigerair Mandala adalah maskapai nasional berumur 40 tahun yang telah dibeli oleh Indigo Partners dan Cardig International pada tahun 2006. 

Pada 2007, Mandala telah memesan 30 pesawat airbus baru senilai 2,3 miliar dolar AS, Mandala dikelola jajaran manajemen berpengalaman internasional. Mandala juga telah menghentikan penggunaan semua Pesawat Boeingnya dan menjalin kerja sama dengan Singapore Airlines Engineering Company untuk perawatan pesawat.

Karena masalah utang, maskapai ini berhenti beroperasi pada tanggal 12 Januari 2011 ini. Maskapai ini kemudian meminta penjadwalan ulang pembayaran utangnya ke Pengadilan Niaga Jakarta Pusat. Utang Mandala saat itu sebesar 800 miliar rupiah kepada 271 kreditur, terutama kepada penyewa (lessor) pesawat-pesawatnya. Akhir Februari 2011, para kreditur menyetujui untuk merestrukturisasi utang Mandala menjadi saham. 70.58 persen kreditur menyetujui merestrukurisasi utang maskapai ini sebesar 2,4 triliun rupiah.

Pada April 2011, tim kurator menyatakan bahwa Mandala akan menjalankan operasinya kembali pada bulan Mei 2011. Maskapai ini kemudian memastikan diri kembali beroperasi pada bulan Juni 2011.[4] Sebagai bagian restrukturisasinya, maskapai ini pun mengalami pergantian kepemilikan saham. Pemegang saham mayoritas adalah PT Saratoga Investment Group sebesar 51%, diikuti oleh Tiger Airways dari Singapura sebesar 33%, dan 16% sisanya dimiliki oleh pemegang saham lama dan para kreditor.

Untuk kedua kalinya Mandala Tigerair akan memberhentikan seluruh operasionalnya. Pada tanggal 1 Juli 2014, Mandala Tigerair akan melaksanakan penerbangan terakhirnya dengan nomor penerbangan RI 545 tujuan Hong Kong ke Surabaya. Rencana ini dilakukan karena masalah ekonomi yang dialami oleh maskapai ini.[6][7]

2. Merpati Airlines

Merpati Nusantara Airlines atau selanjutnya dikenal dengan nama Merpati Nusantara (Merpati) adalah salah satu perusahan penerbangan nasional domestik di Indonesia. Pernah beberapa tahun yang lalu menerbangan rute rute regional Asia Tenggara dan Australia. Maskapai ini masuk penilaian kategori 1 (kinerja sangat baik) dari Kementerian Perhubungan.

Merpati mendapatkan penilaian bintang 2 (kualitas pelayanan kurang) dari Skytrax. Dalam masalah keselamatan penerbangan, maskapai ini memiliki rekor keselamatan yang tergolong tidak baik jika dibandingkan maskapai Indonesia lainnya.

Tahun 2007, Merpati mulai melaksanakan program revitalisasi dan modernisasi armada secara parsial, mengingat  masih bergelut dengan masalah keuangan, terutama armada perintis, dengan memesan 14 pesawat Xian MA60 dari Xian Aircraft China. Merpati juga sempat menyewa 1 ATR 72, namun kemudian dikembalikan karena dianggap tidak ekonomis (beberapa sumber menyatakan bahwa ATR hanya disewa sementara, menunggu tambahan MA60). Merpati juga mengumumkan akan membeli 11 pesawat 30-kursi untuk rute domestik. (tipe belum dikonfirmasi), serta juga kemungkinan akan memesan pesawat N-219 buatan PTDI sekitar tahun 2011 ini.

Pada 7 Mei 2011 lalu, sebuah pesawat Xian MA60 (PK-MZK) jatuh di perairan Kaimana, menewaskan seluruh penumpangnya yang berjumlah 27 orang (21 penumpang dan 6 kru). Kecelakaan ini menambah panjang daftar kecelakaan yang melibatkan armada perintis Merpati. Kecelakaan terakhir yang dialami Merpati adalah pada tanggal 2 Agustus 2009, dimana sebuah Twin Otter jatuh di pegunungan di Papua, menewaskan seluruh 16 penumpangnya (13 penumpang dan 3 kru). Setelah kecelakaan di Kaimana, banyak pihak mempertanyakan keputusan Merpati membeli pesawat Xian MA60 tersebut, serta dugaan mark-up dan kolusi yang terjadi saat proses pembeliannya.

Memasuki bulan Februari 2014, untuk sementara, Merpati memberhentikan semua operasi penerbangannya sampai bulan Maret 2014. Merpati berhenti beroperasi lantaran tidak mampu membayar Asuransi, Fuel dan Gaji Kru serta Pegawai nya. Kini Merpati terbebani hutang yang mencapai Rp7,3 Trilyun. Terkait rencana awal akan beroperasi pada Bulan Maret namun kembali diundur karena Program RR (Restrukturisasi dan Revitalisasi) yang masih belum selesai.

3. Riau Airlines

Riau Airlines adalah maskapai penerbangan daerah yang berpusat di Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru. Didirikan pada tahun 2002 dengan tujuan untuk membuka dan memajukan trasportasi udara di Riau.

Maskapai penerbangan ini didirikan pada tanggal 12 Maret 2002 dan memulai operasinya pada Desember 2002. Ini adalah satu-satunya maskapai penerbangan komersial Indonesia yang berkantor pusat di luar Jakarta. Riau Airlines juga merupakan maskapai penerbangan komersial satu-satunya yang dimiliki oleh pemerintah daerah. Saham perusahaan penerbangan ini secara mayoritas dimiliki oleh pemerintah daerah provinsi Riau dan beberapa provinsi lain seperti Lampung, Bangka Belitung dan Bengkulu.

Sebelumnya dibentuk untuk menghubungkan kota-kota di propinsi Riau yang memiliki banyak bandara perintis, hingga saat ini telah memperluas wilayahnya operasinya guna menghubungkan semua kota-kota besar di pulau Sumatera, dan juga melayani rute Jawa, Bali, dan Mataram, NTB, Pulau Flores, NTT. Juga diperluas untuk mengoperasikan penerbangan jalur Internasional yaitu ke Malaysia.

Namun, krisis keuangan muncul di maskapai ini, yang akhirnya memutuskan berhenti operasi pada tahun 2008[1]. Maskapai ini kembali beroperasi pada bulan Januari 2011 ini dengan rute penerbangan Pekanbaru - Tanjung Pinang - Natuna dengan pesawat Boeing 737-500 yang disewa dari PT. Aero Nusantara Indonesia.

Riau Airlines saat ini mengoperasikan 1 pesawat Boeing 737-500, dan akan menerima 1 pesawat Boeing 737-300 dengan mekanisme leasing

2 pesawat Fokker 50 Riau Airlines ditarik oleh AeroCentury, penyewa pesawat ini akibat tunggakan sewa pesawat yang belum dibayar. Karena 2 pesawat itu adalah sisa armada yang ada (karena pesawat sisanya dikembalikan atau dijual). Riau Airlines memutuskan berhenti beroperasi.

4. Batavia Air

Batavia Air (nama resmi: PT. Metro Batavia) adalah sebuah maskapai penerbangan di Indonesia. Batavia Air mulai beroperasi pada tanggal 5 Januari 2002, memulai dengan satu buah pesawat Fokker F28 dan dua buah Boeing 737-200.

Setelah berbagai insiden dan kecelakaan menimpa maskapai-maskapai penerbangan di Indonesia, pemerintah Indonesia membuat pemeringkatan atas maskapai-maskapai tersebut. Dari hasil pemeringkatan yang diumumkan pada 22 Maret 2007, Batavia Air berada di peringkat III yang berarti hanya memenuhi syarat minimal keselamatan dan masih ada beberapa persyaratan yang belum dilaksanakan dan berpotensi mengurangi tingkat keselamatan penerbangan.

Akibatnya Batavia Air mendapat sanksi administratif yang akan di-review kembali setiap 3 bulan. Bila tidak ada perbaikan kinerja, maka Izin Operasi Penerbangan (Air Operator Certificate) dapat dibekukan sewaktu-waktu. Namun, Batavia dengan cepat memperbaiki diri dan akhirnya mendapat penilaian kategori 1 dari Kementerian Perhubungan terhitung tahun 2009 lalu. Maskapai ini pun termasuk di antara 4 maskapai Indonesia yang diperbolehkan terbang ke Uni Eropa sejak Juni 2010.

Pada tanggal 31 Januari 2013, Batavia Air berhenti beroperasi karena dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat.

Pengadilan Niaga Jakarta Pusat dalam surat putusan No.77/pailit/2012/PN.NIAGA.JKT.PST pada tanggal 30 Januari 2013 mempailitkan Batavia Air. Hal ini berdampak pada berhentinya operasi terbang sejak 31 Januari 2013 Pukul 00.00. Pailit dikarenakan adanya permohonan yang di ajukan oleh perusahaan sewa guna pesawat International Lease Finance Corporation (ILFC).

5. Adam Air

Adam Air (didirikan sebagai PT Adam SkyConnection Airlines) adalah maskapai penerbangan swasta yang berbasis di Jakarta Barat, Jakarta, Indonesia.

Maskapai penerbangan ini mengoperasikan penerbangan berjadwal domestik ke 20 kota dan layanan internasional ke Penang dan Singapura. Basis utama dari maskapai penerbangan ini adalah di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta.

Meskipun kadang dikatakan sebagai maskapai penerbangan bertarif rendah, ia memasarkan dirinya sebagai maskapai penerbangan yang berada di antara maskapai penerbangan bertarif rendah dan tradisional, menyediakan layanan makanan di atas pesawat dan tarif murah, mirip dengan yang diadaptasi oleh maskapai penerbangan yang berbasis di Singapura, Valuair. Sebelum kecelakaan Penerbangan 574, maskapai penerbangan ini menjadi maskapai penerbangan bertarif rendah dengan pertumbuhan tercepat di Indonesia.

Setelah berbagai insiden dan kecelakaan yang menimpa maskapai-maskapai penerbangan di Indonesia, pemerintah Indonesia membuat pemeringkatan atas maskapai-maskapai tersebut. Dari hasil pemeringkatan yang diumumkan pada 22 Maret 2007, Adam Air berada di peringkat III yang berarti hanya memenuhi syarat minimal keselamatan dan masih ada beberapa persyaratan yang belum dilaksanakan dan berpotensi mengurangi tingkat keselamatan penerbangan. Akibatnya Adam Air mendapat sanksi administratif yang ditinjau ulang kembali setiap 3 bulan. Setelah tidak ada perbaikan kinerja dalam waktu 3 bulan, Air Operator Certificate Adam Air kemudian dibekukan.

Pada April 2007, PT Bhakti Investama melalui anak perusahaannya Global Air Transport membeli 50% saham Adam Air, namun setahun kemudian pada 14 Maret 2008 menarik seluruh sahamnya karena merasa Adam Air tidak melakukan perbaikan tingkat keselamatan serta tiadanya transparansi. Kegiatan operasional Adam Air kemudian dihentikan sejak 17 Maret 2008 dan baru akan dilanjutkan jika ada investor baru yang bersedia menalangi 50 persen saham yang ditarik Bhakti Investama tersebut.

Pada 18 Maret 2008, izin terbang atau Operation Specification Adam Air dicabut Departemen Perhubungan melalui surat bernomor AU/1724/DSKU/0862/2008. Isinya menyatakan bahwa Adam Air tidak diizinkan lagi menerbangkan pesawatnya berlaku efektif mulai pukul 00.00 tanggal 19 Maret 2008. [10] Sedangkan AOC (Aircraft Operator Certificate)nya juga ikut dicabut pada 19 Juni 2008, mengakhiri semua operasi penerbangan Adam Air.

6. Bouraq Indonesia Airlines

Bouraq Indonesia Airlines atau yang lebih dikenal sebagai Bouraq Airlines atau cukup Bouraq saja yaitu sebuah maskapai penerbangan yang telah tersedia waktu untuk telah tersedia di Indonesia. Buraq dalam agama Islam yaitu nama seekor kuda bersayap.

Pasca sepuluh tahun 80-an, Bouraq makin melaju. Masa itu Bouraq telah tersedia 4 (empat) pesawat Vickers Viscount (VC-843), 3 (tiga) buah CASA NC-212 dan 16 (enambelas) BAE-748 seri 2A dan 2B. Bali Cairan sendiri mengoperasikan 2 (dua) buah Britten Norman (BN) Islander dan 4 (empat) buah Britten Norman (BN) Trislander untuk jarak pendek atau penerbangan perintis. Pada tahun 1997 Bouraq bahkan telah tersedia 10 (sepuluh) buah Hawker Siddley HS 748 dan 8 (delapan) Boeing 737-200.

Langit Nusantara pun menghijau dengan makin bertambahnya armada Bouraq yang terbang melintasi bermacam tujuan Nusantara. Bouraq pun mencukupi permintaan penerbangan carter dan lainnya.

Sayang badai krisis menerpa Indonesia. Bouraq akhirnya mengambil bermacam langkah strategis agar mempu tetap bertahan, seperti penciutan armada, menutup beberapa operasi jalur penerbangan yang dinilai kurang menguntungkan.

Krisis ekonomi tidak berarti seluruh kegiatan operasional Bouraq terhenti pas sekali. Segala upaya terus dilangsungkan oleh jajaran manajemen Bouraq yang sekarang dibawah garis haluan Danny Sumendap, putra dari J.A. Sumendap agar Bouraq tetap dapat bertahan dan makin maju di masa mendatang.

Bermacam langkah yang strategis, menguntungkan, efektif dan efisien terus dijalankan. Aib satunya yaitu kemitraan dengan bermacam perusahaan penerbangan yang telah tersedia seperti Silk Cairan dan Royal Brunei Airlines (joint venture agreement) yang terbukti bisa menjadikan Bouraq tetap dapat terbang.

Pada penghujung 2004 Bouraq Airlines telah beristirahat beroperasi karena kalah bersaing dengan operator penerbangan yang baru yang muncul terus-menerus diawal reformasi (Lion Cairan, Batavia Cairan, Sriwijaya Cairan, dll).Sampai masa ini belum telah tersedia tanda-tanda kegamblangan mengenai penyelesaian dengan para karyawannya baik mengenai pesangon maupun sisa gaji yang belum dibayarkan. Masa ini masih menunggu putusan pengadilan mengenai upaya karyawan dan aib seorang kreditur untuk mempailitkan Bouraq Airlines.

7. Sempati Airlines

Sempati Air yaitu sebuah maskapai penerbangan di Indonesia. Maskapai penerbangan ini selesai beroperasi sejak 5 Juni 1998. Kode IATAnya, SG, kini kode tersebut dipergunakan oleh maskapai penerbangan dari India "SpiceJet".

Didirikan pada Desember 1968 dengan nama PT Sempati Air Transport, Sempati memulai penerbangan perdananya pada Maret 1969 menggunakan pesawat DC-3. Sempati awal mulanya hanya menawarkan jasa transportasi untuk karyawan perusahaan minyak, namun selepas DC-3 tambahan serta Fokker F27 dibeli, Sempati memulai penerbangan berjadwal ke Singapura, Kuala Lumpur dan Manila.

Pada pertengahan dan kesudahan 1980-an, armada Sempati mengembang dengan masuknya Fokker 100, Fokker 70 dan Boeing 737-200. Kemudian Airbus A300B4 juga masuk jajaran armada Sempati sehingga penerbangan ke tempat lain di Asia Tenggara dan Australia dapat dilakukan.

Nama perusahaan berganti dijadikan Sempati Air pada tahun 1996. Ketika krisis moneter 1998 menghantam Indonesia, Sempati Air terpaksa melakukan penjualan atau mengembalikan pesawatnya, namun tetap saja pada Juni 1998 Sempati harus membuat bubar operasi perusahaannya.

8. Jatayu Airlines

Jatayu Airlines (Jatayu Gelang Sejahtera) adalah sebuah maskapai penerbangan charter yang berbasis di Jakarta, Indonesia. Jatayu didirikan pada tahun 2000 dan pernah mengoperasikan penerbangan domestik dan internasional. Maskapai ini sempat berhenti beroperasi pada tahun 2007.

Setelah kembali mendapat lisensi pemerintah, maskapai ini beroperasi sebagai maskapai charter, terutama untuk mengisi "slot" terbang yang ditinggalkan Adam Air, yang telah dicabut lisensinya saat itu. Pada April 2008, Departemen Perhubungan Republik Indonesia membekukan izin penerbangan Jatayu Airlines karena tidak memenuhi kelayakan jumlah armada (minimal lima buah pesawat).

Sumber : JIBI/Bisnis.com