Perlu Anda Ketahui! Ini 5 Gunung di Indonesia yang Masih Jarang Didaki

Gunung Masurai terletak di Provinsi Jambi dibawah pengelolaan Balai Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) - Eiger
24 Oktober 2021 22:57 WIB Mia Chitra Dinisari News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Sebagai negara beriklim tropis yang memiliki ratusan gunung, rupanya masih banyak gunung-gunung di Indonesia yang belum awam di telinga para pendaki maupun masyarakat pada umumnya

Meskipun saat ini belum ada data yang pasti mengenai jumlah gunung di Indonesia, namun setidaknya Indonesia memiliki 139 gunungapi yang menjadikan negara ini dikenal sebagai negara dengan gunungapi terbanyak ketiga di dunia.

Galih Donikara, EIGER Adventure Service Team Manager mengatakan dari sekian banyak gunung yang ada di Indonesia, 28 gunung diantaranya sudah pernah dijelajahi oleh EIGER Adventure saat melakukan Ekspedisi 28 Gunung pada tahun 2017 lalu.

“Banyak dari gunung-gunung yang didaki dalam ekspedisi tersebut tidak awam di telinga para pendaki maupun masyarakat Indonesia pada umumnya. Tapi ada juga yang masih jarang didaki,” ujarnya dikutip dari keterangan tertulisnya.

Berikut ini merupakan 5 gunung yang jarang didaki yang merupakan bagian dari Ekspedisi 28 Gunung oleh EIGER Adventure:

Gunung Halau Halau

Terletak di wilayah Kalimantan Selatan di jajaran Pegunungan Meratus, Gunung Halau Halau tercatat di peta sebagai Gunung Besar. Gunung ini berada di perbatasan tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Kabupaten Tanah Bumbu Kalimantan Selatan.

Gunung Halau Halau hanya memiliki ketinggian 1.901 mdpl, terbilang rendah dibandingkan rata-rata gunung lainnya. Namun uniknya titik ketinggian awal pendakiannya (desa terakhir) dimulai dari 200 mdpl yang merupakan khas pegunungan Kalimantan, tidak seperti di pegunungan lain dimana titik awal pendakiannya rata-rata sudah berada di atas 1.000 hingga 2.000 mdpl.

Dalam perjalanan, sebelum ekspeditor memasuki Desa Kiyu, yang merupakan titik terakhir sebelum memulai pendakian ke Gunung Halau Halau, ekspeditor menemui tulisan “Selamat Datang di Wilayah Hak Kelola Hutan Adat Desa Kiyu Putusan MK/35/PUU-X/2012, INI HUTAN ADAT KAMI, BUKAN HUTAN NEGARA” yang menjadi penanda bahwa hutan ini dirawat oleh masyarakat sekitar. Masyarakat Dayak Kiyu percaya bahwa hutan dan tanah adat mampu menghidupi keluarga mereka. Praktik berladang pun hanya boleh dilakukan di kawasan kelola saja dan tidak diperbolehkan menebang kayu di wilayah yang keramat, sebab diyakini jika hutan musnah adat pun akan hilang.

Menuju puncak Gunung Halau Halau, ekspeditor disuguhkan jalur yang menguras energi dengan medan tanjakan curam dan keadaan hutan semakin lembab. Yang sangat disayangkan, selama ekspeditor melakukan perjalanan menuju puncak, banyak ditemukan sampah berserakan diberbagai titik.

Gunung Rore Kautimbu

Gunung Rore Kautimbu merupakan salah satu gunung yang sering dikunjungi oleh pendaki lokal di Kota Palu namun masih awam di telinga banyak masyarakat Indonesia. Memiliki ketinggian kurang lebih 2.400 mdpl, menurut pengalaman ekspeditor lokasi gunung ini terletak di daerah operasi Tinombala yang erat kaitannya dengan aksi terorisme, sehingga mengharuskan setiap pendaki untuk melapor ke pos operasi tinombala yang berada di Desa Wuasa, tepatnya di Polsek Lore Utara dan juga di Pos Palang Brimob Sedoa agar para pendaki dapat mengetahui informasi terbaru seputaran aktivitas gunung dan terhindar dari aksi terorisme di area tersebut.

Gunung ini terletak di Taman nasional Lore Lindu Sulawesi Tengah.

Ketika melakukan pendakian, ekspeditor berada di tengah-tengah vegetasi yang sangat rapat namun jalur pendakian yang sangat jelas dan terbuka karena area ini merupakan tempat warga untuk mengambil hasil hutan berupa rotan dan damar.

Gunung Rore Kautimbu memiliki curah hujan yang cukup tinggi dan cepat berubah, sehingga perlu membawa jas hujan jika ingin melakukan perjalanan ke gunung ini. Dalam perjalanan, sekitar 1 jam dari Pos Helipad, ekspeditor menemukan lokasi habitat Tarsius, merupakan primate endemik yang hidup disekitar kawasan Sulawesi dan sangat dilindungi.

Puncak Gunung Rore Kautimbu memiliki trianggulasi yang dibuat dari kayu dan ditopang oleh susunan batu yang di beri semen, dengan tulisan “Gunung Rore Kautimbu ketinggian 2.400 mdpl”. Namun disayangkan, informasi mengenai Gunung Rore Kautimbu masih sangat minim sehingga menciptakan banyak persepsi berkaitan dengan letak dan ketinggian gunung.

Ekspedisi 28 Gunung yang dilakukan ke Gunung Rore Kautimbu menghasilkan kesimpulan bahwa Gunung Rore Kautimbu yang selama ini didaki dan diketahui sebagai gunung yang berada dalam kawasan Taman Nasional Lore Lindu merupakan puncakkan awal Gunung Torenali dengan ketinggian 2.519 Mdpl. Sedangkan lokasi Gunung Rore Kautimbu yang sesungguhnya berada jauh di sebelah utara dari posisi Gunung Torenali dan tidak lagi berada dalam kawasan Taman Nasional Lore Lindu.

Gunung Masurai

Gunung Masurai terletak di Provinsi Jambi dibawah pengelolaan Balai Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kaki Gunung Masurai, nama Masurai memiliki arti ‘emas yang terurai’. Gunung Masurai yang memiliki ketinggian 2.933 mdpl merupakan gunung vulkanik yang sampai saat ini masih menunjukkan aktivitas vulkaniknya.

Perjalanan dimulai dari Desa Sungai Lalang, yang berada di tengah-tengah antara Gunung Masurai dengan Gunung Nilo di ketinggian 1.416 mdpl. Perjalanan menyusuri desa memiliki kontur yang cenderung landai, kemudian memasuki jalan setapak yang sebagian sudah dibeton dan sebagian lagi masih berupa jalan tanah sampai dengan batas antara kebun dengan hutan kaki Gunung Masurai.

Vegetasi sepanjang perjalanan dari camp 1 sampai puncak utama Gunung Masurai didominasi oleh tanaman khas ketinggian yaitu pohon Cantigi dan hampir semua pohon-pohon di jalur ini diselimuti oleh lumut yang sangat hijau dengan tingkat kelembaban tinggi hingga tanah yang ekspeditor pijak pun hampir menyerupai lumpur. Bahkan di beberapa titik terdapat lubang-lubang di tanah berada diantara akar-akar pepohonan yang berisi air endapan tawar dan dapat dikonsumsi. 

Gunung Tambusisi

Gunung Tambusisi memiliki ketinggian 2.422 mdpl secara administratif terletak di desa Tambayoli Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah. Seperti karakteristik gunung di Sulawesi yang mempunyai ketinggian lebih dari 2.000 mdpl, Gunung Tambusisi yang memiliki ketinggian 2.422 mdpl memiliki hutan heterogen yang lebih luas daripada hutan homogennya.

Jalur pendakian dimulai dari Desa Tambayoli, Kecamatan Soyojaya, Kabupaten Morowali Utara, yang terletak di sebelah selatan Gunung Tambusisi menggunakan perahu kayu, membelah Teluk Tomori. Di beberapa titik, ekspeditor disuguhi dengan pemandangan rumah khas masyarakat adat Suku Taa yang tersusun rapi, dan melewati jalur dengan vegetasi yang bervariasi, dari savanna, cemara gunung, belukar bambu, semak, pakis hutan hingga balutan lumut.

Menuju Pos 6 sebelum puncak, setiap orang harus menjaga jarak karena banyak jalur bebatuan lepas yang harus dilewati. Bahkan ada satu jalur dimana ekspeditor harus scrambling di medan dengan kemiringan 50-60 derajat dan minim tempat berpegangan sehingga mengharuskan menggunakan bantuan tali.

Tantangan terberat untuk tim saat itu adalah, salah satu anggota yang terus-terusan diganggu oleh makhluk halus sepanjang perjalanan. Namun, semangat untuk mencapai puncak dan mengikrarkan teks Sumpah Pemuda menjadi penyemangat perjalanan saat itu.

Tibalah mereka di puncak Gunung Tambusisi pada jam 11.30 wita, dengan cuaca yang tiba-tiba berubah gelap dan mendung. Meskipun begitu, pembacaan teks Sumpah Pemuda tetap dilakukan, dipimpin seorang pendaki wanita yang saat itu bergabung.

Gunung Mekongga

Gunung Mekongga merupakan gunung tertinggi di pegunungan Mekongga dengan ketinggian 2.620 mdpl yang membentang di sisi utara wilayah Kabupaten Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara. Kawasan pegunungan ini merupakan jajaran Pegunungan Verbeck yang puncak-puncaknya terdiri dari jenis batuan karst dataran tinggi.

Desa Tinukari merupakan desa terakhir yang dilalui sebelum dusun terakhir menuju ke Gunung Mekongga yang masuk dalam Kecamatan Wawo. Yang menarik, di tengah perjalanan banyak didapatkan kepingan-kepingan mobil bekas. Ketika memasuki pos 6, ekspeditor disuguhkan dengan pemandangan Danau Coca-Cola, danau luas yang warnanya mirip dengan minuman bersoda. Menuju Pos 8, ekspeditor melewati hutan lumut, jalur yang semakin menanjak dan terjal, sehingga mengharuskan ekspeditor untuk beristirahat dan tidak memaksakan diri.

Setibanya di puncak pada tanggal 28 Oktober, setelah membacakan teks sumpah pemuda, tim Mekongga mendapatkan panggilan melalui alat komunikasi yang digunakan dari Bapak Ridwan Kamil yang saat itu menjabat sebagai Walikota Bandung.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia