Pertama dalam Sejarah, Pesawat Buatan Indonesia Terbang dengan Bahan Bakar Nabati

Pesawat CN 235 sedang melakukan Pengisian Bahan Bakar Bioavtur dalam acara Ground Run untuk Pengujian Bioavtur (J2.4) di Dirgantara Indonesia, Bandung. - Istimewa.
06 Oktober 2021 12:37 WIB Muhammad Ridwan News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Pesawat buatan PT Dirgantara Indonesia (Persero) CN235-220 melakukan uji terbang dengan menggunakan bioavtur 2,4 persen buatan PT Pertamina (Persero). Uji terbang itu untuk mengetes keandalan bioavtur untuk digunakan sebagai bahan bakar pesawat terbang.

Uji terbang dilakukan di Hanggar 2 PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk. pada Rabu (6/10/2021) yang disaksikan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif, dan Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati.

Menteri ESDM Arifin Tasrif mengatakan bahwa salah satu strategi yang didorong pemerintah untuk percepatan implementasi energi baru dan terbarukan (EBT) dan penurunan emisi gas rumah kaca adalah substitusi energi primer pada subsektor transportasi.

Untuk transportasi udara, pemerintah akan menggenjot penggunaan bioavtur guna menekan penurunan emisi yang dihasilkan.

Baca juga: Siap-Siap! Asteroid Lebih Besar dari Big Ben Akan Dekati Bumi 6 Oktober

Pengembangan bioavtur telah dicanangkan pemerintah dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 12/2015 dengan target pencampuran sebesar 3 persen pada 2020, dan ditingkatkan menjadi 5 persen pada 2025.

“Implementasi pencampuran bioavtur belum berjalan karena kendala, seperti ketersediaan bioavtur, proses teknologi, dan keekonomiannya,” katanya dalam acara Uji Terbang Pesawat CN-235 FTB dengan bioavtur 2,4 persen (J2,4), Rabu (6/10/2021).

Arifin menuturkan, uji terbang pada pesawat CN235-220 adalah sebuah sejarah baru karena menjadi penerbangan perdana yang menggunakan bahan bakar nabati. Adapun, uji terbang dilakukan dari Jakarta sampai ke Bandung.

Menurutnya, Kementerian ESDM optimistis dan berkomitmen untuk terus mengembangkan bioavtur sampai nantinya bisa menghasilkan bioavtur murni atau J100 yang digunakan untuk seluruh maskapai penerbangan di Indonesia dan internasional.

“Kami harapkan dukungan dari semua pihak untuk tahap-tahap uji coba selanjutnya, termasuk roadmap untuk komersialisasinya,” jelasnya.

Sumber : bisnis.com