Bocah Bisa Buka Tuas Pintu Darurat Pesawat, Ini Kronologinya

Selama masa pembatasan penerbangan, perusahaan memaksimalkan utilisasi pesawat dengan mengoperasikan 20 persen armadanya sebagai angkutan kargo. - Citilink
02 Oktober 2021 16:47 WIB Anitana Widya Puspa News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Citilink menuturkan kronologi secara lengkap insiden yang membuat pesawatnya dengan jadwal keberangkatan Jakarta – Batam pada 27 September 2021 harus mengalihkan pendaratannya di Palembang.

Vice President Safety, Security & Quality Citilink Indonesia Captain Teguh Kristiono menceritakan secara lengkap bagaimana kronologi pesawat Citilink tujuan Batam ini mendarat darurat di Palembang setelah mendapati anak-anak berusia 7 tahun membuka tuas penutup pintu darurat.

Dia menerangkan penumpang berusia 7 tahun tersebut bepergian dengan bapak ibunya. Anak tersebut duduk di bangku row 11, sedangkan pintu darurat pesawat berada dekat row 12 dan 14.

“Sebenarnya, bangku darurat pada penerbangan itu kosong, kemudian pramugari akan melakukan visiting dan meletakkan satu penumpang yang memenuhi kriteria untuk duduk di row pintu darurat. Adapun jumlah penumpang yang berada di penerbangan itu ada 124 orang, dengan rincian 121 dewasa, 3 anak-anak, dan 1 infant," ujarnya dikutip Sabtu (2/10/2021).

Teguh kemudian mengatakan berdasarkan keterangan di lapangan, perjalanan pada saat itu berjalan seperti biasa, berjalan normal, dan tidak ada tanda yang mencurigakan atau yang agresif. Awak kabin selalu melakukan passengers profiling.

"Jadi anak tersebut proses duduk di row 11 dimana pintu emergency darurat itu berada di nomor 12 . Jadi sepertinya bapak ibunya pada saat itu sedang tertidur, entah apa, lebih tepatnya tidak sedang mengawasi. Jadi bukan si anak ini keluar dari tempat duduknya lalu ke pindah ke row 12 atau ke dekat pintu emergency exit, cuman dia ada di tempat duduknya dan menjangkau dan membuka penutup tuas," jelasnya.

Penutup tersebut pun lepas dan lampu indikator yang ada di pintu pun menyala. Di kokpit juga ada peringatan bahwa pintu darurat tidak tertutup secara baik. Awak kabin tidak menyadari itu karena pada saat itu kondisi awak kabin sedang membelakangi. Kemudian pramugari mendapat teks call dari penumpang yang duduk di bangku 15.

Namun justru penumpang yang berada di row 12 dan 14 pada saat itu tidak menyadarinya. Jadi awak kabin mendapat laporan dari penumpang nomor 15 kemudian pramugari mendatangi dan mengembalikan penutupnya seperti kondisi awal, hingga lampu indikatornya padam.

Setelah itu, pilot pun melakukan pendaratan darurat di Palembang untuk memeriksa bagaimana kondisi pesawat. "Saat ini kenapa pilot mendarat di Palembang, masih dalam penelusuran. Setelah pemeriksaan selesai, penerbangan kembali dilanjutkan, namun tidak bersama anak dan orangtua yang membuka penutup pintu. Mereka berangkat di hari selanjutnya," terangnya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia