Baterai Seng-Yodium Bisa Ngecas 3 Menit, Tahan 60.000 Kali
Peneliti Australia mengembangkan baterai seng-yodium yang bisa terisi tiga menit dan mencapai 60.000 siklus pengisian.
Ilustrasi SARS
Harianjogja.com, JAKARTA – Meski sama-sama disebabkan oleh virus Corona, SARS dan Covid-19 sebenarnya berbeda. Dulu, gejala SARS relatif lebih berat dan persentase kematiannya juga lebih tinggi jika dibandingkan dengan Covid-19. Namun, pernahkah Anda berpikir mengapa SARS dulunya dapat berakhir begitu saja tanpa vaksin, dan mengapa Covid-19 tidak bisa tereliminasi dengan cara yang sama?
SARS merupakan singkatan dari Severe Acute Respiratory Syndrome atau sindrom pernapasan akut berat.
“Disebabkan oleh SARS-CoV-1 yang masih bersepupu dengan SARS-CoV-2 (penyebab Covid-19). Sama-sama virus Corona,” tulis dr Samuel P. K. Sembiring, seorang dokter dan edukator kesehatan pada akun Instagramnya, Senin (27/9/2021).
Penyakit SARS ini pertama kali muncul pada akhir 2002 di Guangdong, China, diidentifikasi awal tahun 2003 dan berakhir pada pertengahan tahun 2004.
Penyakit SARS ini seolah-olah hilang begitu saja, tanpa vaksin. Mengapa bisa demikian? Apa resep rahasianya? Lalu apakah Covid-19 bisa hilang dengan cara yang sama?
Sebenarnya, dr Sam menjelaskan, vaksin untuk SARS dulunya sudah pernah sempat dimulai. Uji vaksin sudah sampai pada uji klinis fase pertama. Namun, wabah SARS sudah berakhir, sehingga penelitian tidak dilanjutkan.
Ada beberapa alasan mengapa wabah SARS bisa dieliminasi.
SARS memiliki gejala yang relatif lebih berat, dengan masa inkubasi 2 hingga 7 hari. Angka kematian juga lebih tinggi dibanding Covid-19.
“Wajar bila orang-orang yang berada di daerah dengan jumlah kasus SARS yang tinggi, cukup patuh menggunakan masker,” kata dr Sam.
Saat itu, tidak ada istilah OTG atau orang tanpa gejala. Berbeda dengan penyakit Covid-19 yang bisa saja tanpa gejala.
Setiap orang yang terinfeksi SARS diisolasi dengan ketat, sehingga penularan SARS sangat dapat dikendalikan. Sementara itu, masyarakat tetap menggunakan masker sebagai protokol kesehatannya.
“Sebaliknya, di saat wabah sekarang, OTG banyak berkeliaran. Pasien-pasien Covid-19 yang diminta isolasi di rumah, tidak benar-benar mengisolasikan diri,” ungkapnya.
Karena bergejala, SARS mudah dikenali. Umumnya, pasien SARS menunjukkan gejala sekitar 2 hingga 3 hari atau paling lama 7 hari setelah terpapar. Saat itu, skrining gejala mudah dilakukan. Setiap pasien yang mengalami gejala SARS atau dicurigai SARS segera diisolasi dan dilakukan penelusuran kontaknya.
Sayangnya, dr Sam mengatakan, cara ini sulit diterapkan sekarang. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah melakukan pelacakan atau tracing dengan tes swab.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Peneliti Australia mengembangkan baterai seng-yodium yang bisa terisi tiga menit dan mencapai 60.000 siklus pengisian.
UGM mempertimbangkan langkah hukum untuk mengadvokasi lima mahasiswa yang diduga menjadi korban kekerasan saat demo di Sudirman.
Sleman menyiapkan sanksi tegas bagi pelajar yang terbukti terlibat kejahatan jalanan, namun hak pendidikan tetap dijamin.
BPBD Kota Jogja mengingatkan warga memahami tingkatan sirine EWS agar tahu kapan harus waspada, bersiap, hingga melakukan evakuasi.
DPRD Gunungkidul menyoroti potensi parkir ilegal dan pungutan ganda di destinasi wisata serta mendorong pengelolaan bersama warga lokal.
BGN memberikan suspend 30 hari kepada SPPG Sidoarjo Tanggulangin setelah 512 santri keracunan. Investigasi penyebab masih dilakukan.