Varian Delta Capai Menyebar di Hampir Separuh China, Perbatasan Diperketat

Suasana jalanan di kota Beijing China - Bloomberg
05 Agustus 2021 14:07 WIB Reni Lestari News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - China membatasi perjalanan dan pergerakan baru di seluruh negeri, termasuk di ibu kota Beijing, setelah kasus Covid-19 kembali melonjak. Wabah yang didorong varian Delta kini tercatat sebanyak 500 kasus bergejala yang tersebar di 15 provinsi, hampir setengah dari total 32 provinsi di negara itu.

Layanan transportasi umum dan taksi dibatasi di 144 daerah yang paling parah terkena dampak nasional di China, sementara para pejabat membatasi layanan kereta api dan penggunaan kereta bawah tanah di Beijing, di mana tiga kasus baru dilaporkan kemarin.

Sementara itu, Hong Kong memberlakukan kembali karantina pada pelancong dari China daratan, meskipun pengecualian tetap berlaku untuk provinsi Guangdong selatan yang bertetangga dengan kota keuangan.

Dilansir Bloomberg, Kamis (5/8/2021) pejabat melaporkan 94 infeksi lokal baru yang terdeteksi kemarin, termasuk 32 infeksi tanpa gejala, menambah ancaman Covid-19 terluas di negara itu sejak patogen pertama kali muncul di Wuhan pada akhir 2019.

Meskipun 61 persen populasi telah divaksinasi, China tetap berpegang pada pedoman penahanan agresif dari pengujian massal dan penguncian yang ditargetkan dalam upaya untuk membasmi varian yang sangat menular.

Hanya dalam dua minggu, kasus yang dikonfirmasi telah berkembang menjadi lebih dari 500. Infeksi dapat ditelusuri kembali dari tiga daerah klaster di China, yakni wabah di antara staf kebersihan bandara di kota timur Nanjing, di rumah sakit yang merawat pasien Covid di Zhengzhou, dan kasus sporadis terdeteksi di Yunnan, provinsi yang berbatasan dengan Myanmar.

Varian delta telah menyebar ke Wuhan, yang telah bebas virus sejak China menahan wabah awal di sana awal tahun lalu. Kota ini telah mendeteksi 12 kasus pada 3 Agustus dan saat ini sedang menguji seluruh populasinya yang berjumlah 12 juta orang.

Pihak berwenang China mendesak orang untuk membatalkan perjalanan bisnis dan liburan, sementara beberapa perguruan tinggi di seluruh negeri telah meminta mahasiswa, terutama yang berasal dari daerah berisiko tinggi, untuk menunda kembalinya mereka ke kampus pada semester baru.

Sumber : Bloomberg