Kasus Prank Rp2 Triliun, Dahlan Iskan Ungkap Siapa Sosok Akidi Tio

Perwakilan Keluarga Almarhum Akidi Tio memberikan sumbangan kepada Polda Sumsel/Dok. Polisi
04 Agustus 2021 22:17 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA--Kasus prank sumbangan Rp2 triliun untuk penanganan Covid-19 melambungkan nama Akidi Tio.

Keluarga Akidi Tio mendadak menjadi perbincangan hangat. Keluarga dari keturunan Tionghoa yang bermukim di Sumatra Selatan (Sumsel) itu menyumbangkan uang dengan nilai fantastis yaitu Rp 2 triliun.

Namun demikian, sumbangan untuk penanganan Pandemi Covid-19 dari keluarga Akidi Tio ini hingga kini belum cair. Hal itu, menjadi sorotan kepolisian dan para tokoh Nasional untuk mengungkap siapa keluarga Akidi Tio.

Dikutip dari Suara.com-jaringan Harianjogja.com, Wartawan senior Dahlan Iskan bahkan memperkirakan Akidi Tio ialah seangkatan pengusaha Tong Djuo. Orang kaya Tionghoa kaya Palembang biasa berbisnis di Singapura.

BACA JUGA: Hingga Akhir Agustus, Pengelolaan RS Darurat Covid-19 Respati Sleman Dibiayai Pemkab

Menurut Dahlan Iskan, bagi orang Tionghoa kaya Palembang berbisnis di Singapura bukan barang baru. Ada orang Palembang yang sangat terkenal di Singapura, dan juga di Jakarta, Tong Djou.

"Saya juga kenal baik dengan Tong Djou –sebelum meninggal Februari lalu. Aki adalah pengusaha angkatan Tong Djou. Generasi sekarang tidak kenal nama itu. Tapi di generasi saya, siapa yang tidak tahu Tong Djou: ia pengusaha minyak yang dibesarkan oleh Dirut Pertamina Ibnu Sutowo," tulis Dahlan Ikan.

Perkiraan Dahlan, Akidi yang telah 12 tahun meninggal punya patner bisnis di Singapura. Selama itu pula, aset tersebut berputar di perusahaan.

Dahlan pun memprakirakan jika Akidi bukan pemegang saham mayoritas di perusahaan sehingga RUPS selalu sah tanpa kehadirannya.

"Tentu undangan RUPS untuk Aki sudah selalu dikirim. Ke alamat Aki yang didaftarkan ke perusahaan. Tentu Aki memakai alamat di Singapura. Entah di alamat mana. Hanya perusahaan itu yang tahu," sambung Dahlan.

"Dua belas tahun itu lama sekali. Saya bisa membayangkan apa saja yang terjadi di perusahaan itu selama 12 tahun. Bisa saja saham Aki sudah hilang atau dihilangkan. Itu mudah. Apalagi kalau lewat hostile," sambung ia.

Dahlan mengungkap ada orang yang akhirnya memberitahu jika Akidi memiliki aset di perusahaan tersebut.

"Yang kecewa itulah yang memberi tahu anak-anak Aki: "papamu punya harta di Singapura. Perkiraan saya: anak-anak Aki lantas mulai mengurus harta itu. Tapi masalahnya tidak sederhana. Lalu enam anak Aki ''menyerah''. Ruwet. Tidak mau lagi mengurusnya. Tinggal Heryanti sendiri yang masih bersemangat. Biar pun perlu biaya mahal," sambung ia.

Biaya mengurus aset milik Akidi Tio bukan hal mudah dan murah

"Perkiraan saya: Heryanti kecewa dengan pengacara yang pertama. Lalu kenal pengacara lainnya. Yang memberi harapan lebih besar. Heryanti pun ganti pengacara. Harus diskusi lagi dengan pengacara baru berjam-jam –argometer jalan terus. Saya tidak berani memperkirakan apakah Heryanti juga kecewa dengan pengacara kedua. Sehingga harus mencari pengacara ketiga dan seterusnya," sambung ia.

Kini, Heriyanti tengah sakit. Polip yang ia derita, kambuh dan petugas kesehatan juga mendatangi rumah Heriyanti. Karena polip, Heryanti urung diperiksa.

Polisi kini mengaku masih menyelidiki aliran rekening anak Akidi Tio guna memastikan keberadaan uang donasi Rp2 triliun tersebut.

Sumber : Antara