Inilah Vaksin yang Pertama Ditemukan di Dunia

Ilustrasi. - Freepik
28 Juli 2021 17:17 WIB Mia Chitra Dinisari News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Sebelum Covid-19, umat manusia telah diserang beberapa zoonosis.

Zoonosis adalah penyakit menular yang melompat dari hewan ke manusia. Ketika zoonosis muncul, di situ pula vaksin mulai dikembangkan untuk mencegahnya.

Jadi, vaksin mana yang pertama kali disiapkan manusia di laboratorium?

Berdasarkan sejarah, vaksin pertama yang dikembangkan adalah vaksin rabies. Kala itu, Luis Pasteur memberikan vaksin anti-rabies kepada Joseph Meister yang berusia 9 tahun, dan sukses menyelamatkan nyawanya pada 6 Juli 1885.

Selanjutnya, kesuksesan itu diperingati sebagai Hari Zoonosis Sedunia di seluruh dunia.

Itu adalah hari di mana dunia menyaksikan vaksin pertama yang dibuat di laboratorium untuk melawan penyakit zoonosis yang diinokulasi.

Uniknya, penemuan ini juga dilakukan secara tidak sengaja.

Saat itu tahun tepatnya tahun 1879 Louis Pasteur yang seorang ahli kimia dengan pelatihan, tengah memproduksi vaksin pertama yang dikembangkan di laboratorium. Vaksin itu, untuk kolera ayam (Pasteurella multocida).

Pasteur melemahkan (melemahkan) bakteri untuk digunakan dalam vaksin. Bagaimana Pasteur menemukan metode atenuasi secara kebetulan. Tapi tentu saja, kekuatan pengamatan Pasteur juga banyak berhubungan dengannya.

Pasteur mulai mempelajari kolera ayam pada tahun 1877 dan pada tahun berikutnya berhasil membiakkan organisme penyebab, Pasteurella multocida. Pada tahun 1879, Pasteur menemukan secara kebetulan bahwa kultur bakteri ini secara bertahap kehilangan virulensinya seiring waktu.

Pasteur berada di labnya, mempelajari kolera unggas dengan menyuntikkan bakteri hidup ke ayam dan mencatat perkembangan penyakit yang fatal.

Dia telah menginstruksikan seorang asisten untuk menyuntikkan ayam-ayam itu dengan biakan bakteri yang segar sebelum hari libur. Ternyata, asisten itu tidak melakukan tugasnya, dan justru ikut berlibur ketika Pastuer meninggalkannya untuk liburan.

Sebulan kemudian, si asisten kembali ke lab dan mencari akal untuk tidak dimarahi tuannya karena tidak menjalankan instruksinya.

Dia menginokulasi ayam dengan biakan, yang saat ini telah ditinggalkan di laboratorium selama sebulan, ditutup hanya dengan sumbat kapas. Ayam yang diinokulasi mengalami gejala ringan tetapi pulih sepenuhnya.

Hal itu mengejutkan Pasteur dan asistennya. Ketika ayam-ayam itu sehat kembali, Pasteur menyuntik mereka dengan bakteri segar kali ini. Ayam tidak menjadi sakit. Yang mengejutkan Pasteur karena Kolera ayam adalah penyakit yang sangat menular dan mematikan (disebabkan oleh sejenis bakteri) yang terjadi pada epidemi di peternakan unggas dan morbiditas dan mortalitas dapat mencapai 100%.

Hal itu membuat Pasteur menyadari bahwa dosis yang lebih rendah sebelumnya telah membangkitkan kekebalan di dalam tubuh ayam dan ketika mereka terkena strain kuat penyebab penyakit yang sebenarnya, tubuh mereka melawan dan menyelamatkan mereka dari sakit. Pasteur akhirnya beralasan faktor yang membuat bakteri kurang mematikan adalah karena paparan oksigen.

Kelahiran vaksin anti-rabies:

Pada tahun 1881, Victor Galtier seseorang yang tertular rabies dari anjing ke kelinci melaporkan bahwa domba yang disuntik dengan air liur dari anjing rabies memiliki kekebalan tersendiri.

Berbekal hal itu, Pasteur berniat mengembangkan vaksin rabies hidup pertama yang dilemahkan.

Pasteur, pada 6 Juli 1885, menggunakan vaksin rabiesnya untuk mengobati Joseph Meister yang berusia 9 tahun, yang telah digigit parah oleh anjing gila tetangganya.

Louis Pasteur bukanlah seorang dokter berlisensi dan karena itu berhati-hati dalam menyuntik anak tersebut. Sisanya, seperti yang mereka katakan, adalah sejarah. Anak itu selamat. Pada akhir tahun 1885, beberapa orang terpapar rabies yang putus asa melakukan perjalanan ke laboratorium Pasteur untuk divaksinasi. Dari situlah akhirnya Pasteur  mendirikan Institut Pasteur pertama pada tahun 1888.

Sumber : JIBI/Bisnis.com