Angin Topan Landa China Timur, Lebih dari 100.000 Orang Terpaksa Dievakuasi

China - Reuters
25 Juli 2021 23:17 WIB Reni Lestari News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Angin topan In-Fa menerjang di China Timur dan menyebabkan evakuasi lebih dari 100.000 orang, pembatalan penerbangan masuk dan keluar Shanghai, dan penghentian operasi bisnis.

Angin topan menerpa Zhoushan, Provinsi Zhejiang, pada pukul 12.30 waktu setempat, Minggu (25/7/2021) dengan kekuatan angin maksimum 38 meter (125 kaki) per detik, kata Administrasi Meteorologi China, dilansir Bloomberg.

Pemerintah setempat memerintahkan sekolah, pasar, dan bisnis untuk tutup, dan merelokasi lebih dari 100.000 orang, dengan perkiraan curah hujan 10 inci (25,5 sentimeter) hingga 14 inci.

Di Shanghai, semua penerbangan masuk dan keluar yang dijadwalkan pada hari ini dibatalkan untuk dua bandara kota, Bandara Internasional Pudong Shanghai dan Bandara Internasional Hongqiao. Kereta berkecepatan tinggi masuk dan keluar kota akan ditangguhkan mulai pukul 19:00, dan beberapa jalur metro telah menangguhkan layanan, menurut otoritas kereta api dan pemerintah kota.

Badai tropis diperkirakan akan mendarat lagi di kota Jiaxing provinsi Zhejiang dan distrik keuangan Pudong Shanghai pada hari Minggu. Hingga pukul 5 sore, topan masih melanda Zhoushan. Hujan lebat diperkirakan terjadi di Zhejiang utara, Shanghai, Jiangsu, dan sebagian Anhui dalam 24 hingga 48 jam ke depan.

Kantor Berita Xinhua, mengutip biro urusan maritim pelabuhan melaporkan Pelabuhan Yangshan mengevakuasi ratusan kapal saat kekuatan angin di lepas pantai mencapai hingga 102 kilometer per jam dan akan terus menguat. Semua kapal kontainer besar dievakuasi pada Sabtu dini hari.

Topan tersebut sebelumnya mengikuti banjir bersejarah pekan lalu di Provinsi Henan tengah di mana sedikitnya 63 orang tewas. Korban tewas termasuk 12 orang yang tewas setelah kereta bawah tanah dibanjiri di ibu kota Zhengzhou.

Kota berpenduduk lebih dari 10 juta ini terguncang dari rekor curah hujan, dengan curah hujan satu tahun hanya dalam tiga hari.

Sumber : Bloomberg