Jokowi Telepon Menkes saat Gagal Peroleh Obat Covid-19, Begini Percakapannya..

Presiden Joko Widodo atau Jokowi memantau pelaksanaan vaksinasi, Senin (14/6/2021) di Stadion Patriot Candrabhaga, Kota Bekasi, Jawa Barat. - Pemkot Bekasi
24 Juli 2021 12:57 WIB Hadijah Alaydrus News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Video viral berdurasi sekitar 36 detik itu menampakkan bahwa Kepala Negara yang mengenakan kemeja putih lengan panjang masuk ke sebuah apotek di kota Bogor.

Presiden Joko Widodo atau Jokowi menanyakan keberadaan dua obat yang digunakan untuk pasien Covid-19 yakni Oseltamivir dan Favipiravir. Namun, dia medapatkan informasi bahwa kedua obat tersebut sudah tidak tersedia di apotek tersebut. Jokowi pun menimpali jawaban petugas apotek tersebut.

"Terus saya cari di mana, kalau mau cari?," tanya mantan Wali Kota Solo tersebut.

BACA JUGA : Paket Obat & Vitamin Gratis Mulai Disalurkan ke Warga Bantul yang Isoman

Presiden juga menanyakan sejaka kapan obat tersebut tidak ada di apotek. "Kalau Oseltamivir itu yang generik sudah lama Pak. Kemarin itu masih ada merek Fluvir. itu patennya, tapi sekarang juga sudang kosong," jelas petugas apotek tersebut.

Mendapati obat-obatan Covid-19 yang dicarinya tidak ada, Jokowi kemudian menghubungi Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunaldi Sadikin.

Berikut ini, potongan transkrip komunikasi Presiden dan Menkes:

Presiden: Halo Pak Menteri, Pak saya cek ke apotek di Bogor, saya cari obat antivirus Oseltamivir enggak ada, cari lagi obat antivirus yang Favipiravir juga enggak ada kosong. Saya cari yang antibiotik Acetromicin juga enggak ada

Menkes: Baik kami cek ya

Presiden: Stok enggak ada sudah seminggu lebih. Terus vitamin D3 yang 5000 juga enggak ada

BACA JUGA : Polda Ancam Tindak Tegas Penimbun Oksigen dan Obat 

Menkes: Apa tadi Pak? Presiden: Vitamin D3 yang 5000 IU. Ini saya yang dapat hanya multivitamin yang mengandung zinc, hanya itu. Suplemen juga ini D3-nya tapi yang 1000, hanya dapat yang ini saja. Kemudian yang suplemen yang kombinasi multivitamin ada. Jadi yang lain-lain obat antivirus, antibioktik enggak ada semuanya

Menkes: Di kota Bogor ya Pak?

Presiden: Iya, iya

Menkes: Mohon maaf ya Pak

Presiden: Ini apoteknya Villa Duta

Menkes: OK Villa Duta, karena saya ada catatan Pak Presiden. Kita kan sudah ada yang online. Saya barusan cek ya Pak misalnya untuk Favipiravir di Apotek Kimia Farma Tajur baru ada 4.900, apotek Kimia Farma Juanda 30 ada 4.300, Kimia Farma di Semplak Bogor ada 4.200. Jadi nanti saya double check ya. Nanti saya kirim ke ajudan Pak, itu ada data online yang ada di rumah sakit, nanti bisa dilihat by kota segala macam untuk apoteknya Kimia Farma, Century, Guardian, K24

Presiden: Di situ ada semuanya?

Menkes: Ada online, bisa dibaca oleh semua rakyat Pak

Presiden: Oke saya ke sana saja. Saya beli itu coba, ada enggak

Menkes: Ah boleh Pak silakan, nanti saya kirim ya Pak

Presiden: Oke, oke Pak Menkes terima kasih

BACA JUGA : Begini Cara Mendapatkan Obat Covid-19 Gratis Saat Isoman

Sebelumnya, Menkes mengungkapkan sumber persoalan dari kelangkaan obat-obatan terkait Covid-19 adalah banyaknya pihak yang membeli untuk disimpan sebagai stok, baik oleh individu dan perusahaan. Tindakan ini dilakukan untuk antisipasi.

"Jadi semua orang ingin punya obat di taruh buat stok di rumah. Saya mengerti karena itu memberikan rasa aman, tapi itu mengurangi satu orang yang membutuhkan untuk bisa mendapatkan akses obat dan dia bisa mati," tegas Budi.

Dia pun meminta masyarakat tidak menimbun obat-obatan Covid-19. Setop membeli obat jika belum dibutuhkan, tegasnya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia