Proses Rumit, Belasan Ribu Ton Oksigen dari Singapura Tertahan di Pabean Adi Soemarmo

Pemprov DKI Jakarta menyediakan posko "Oxygen Rescue" di Kawasan Monas, Jakarta Pusat, untuk memenuhi kebutuhan oksigen di rumah sakit ibu kota, Minggu (4/7). - Antara
19 Juli 2021 12:37 WIB Suharsih News Share :

Harianjogja.com, SOLO - Bantuan oksigen dari Singapura untuk Solo hingga kini belum bisa didistribusikan dan dimanfaatkan untuk penanganan pasien Covid-19.

Pemerintah Kota (Pemkot) Solo menyebut bantuan oksigen itu tertahan di Pabean Bandara Adi Soemarmo. Sesuai aturan, bantuan dari luar negeri dalam bentuk apa pun harus melalui mekanisme yang sudah ditetapkan pemerintah pusat. Alhasil, bantuan tersebut belum bisa dimanfaatkan.

BACA JUGA : Petrokimia Akan Buka Unit Produksi untuk Tambah Pasokan Oksigen Medis

Sekretaris Daerah (Sekda) Solo, Ahyani, mengatakan oksigen berikut tabungnya seberat 14,150 ton itu harus diterima pemerintah pusat dulu baru diserahkan ke daerah.

 “Saat ini baru diurusin Dinas Kesehatan Kota [DKK]. Ya, sayang sebenarnya, tapi kami harus mengikuti aturan. Inginnya dalam kondisi darurat segera bisa digunakan,” katanya kepada wartawan melalui Zoom, Minggu (18/7/2021).

Ahyani mengatakan, bantuan oksigen dari Singapura itu dialamatkan untuk DKK Solo.

Pabean bandara tidak bisa melepas bantuan itu sebelum ada izin dari kementerian terkait. Penyerahan bantuan bisa secara tidak langsung melainkan dalam bentuk surat.

BACA JUGA : Solo Terima Pasokan 14.175 Ton Oksigen dari Singapura

Pemkot wajib mengantongi izin dari Kementerian Kesehatan dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk menerima bantuan itu.

 “Bantuan itu ada 200 unit tabung, beratnya 14,150 ton. Kebutuhan Solo per hari sekitar 59 ton, ya memang tidak banyak. Tapi, tabungnya itu bisa digunakan berkali-kali kalau bentuknya liquid. Cukup untuk beberapa jam atau tidak sampai sehari. Tapi namanya bantuan di masa kritis seperti ini sangat berarti,” bebernya.

Ketua Pelaksana Satgas Penanganan Covid-19 Kota Solo itu menyebut mekanisme penyerahan bantuan kebencanaan semestinya tak rumit mengingat kondisi saat ini.

Bantuan oksigen dari Singapura tersebut datang dengan sendirinya, meski Pemkot Solo tak meminta.

“Nanti koordinasi dengan wali kota, dengan Kementerian, BNPB, dan Bea Cukai. Bisa langsung diambil dan mengatur dengan kebencanaan tentunya tidak akan serumit ini. Bantuan itu tidak hanya untuk warga Solo karena yang dirawat di rumah sakit Solo asalnya dari mana saja,” ungkap Ahyani.

Selain Singapura, sejumlah pemerintah daerah di luar negeri juga berkorespondensi dan berniat memberi bantuan oksigen ke Solo. Namun, DKK tak akan menyampaikan sebelum bantuan itu datang.

Berpacu Dengan Nyawa

Pemkot Solo juga akan berkoordinasi terlebih dahulu dengan pemerintah pusat sebelum bantuan itu datang agar kondisi saat ini tak terulang. “Bantuan semacam oksigen ini tentu yang dibutuhkan. Toh, boleh dibilang Indonesia juga sering memberi bantuan ke luar negeri juga,” katanya.

Sebelumnya, Kepala DKK Solo, Siti Wahyuningsih, mengatakan pengantaran oksigen masih membutuhkan pengawalan dari kepolisian.

“Kami koordinasi pada pengantaran. Sebab berpacu dengan nyawa. [Distribusi] belum lancar. Krisis oksigen ini bukan masalah depo, tapi pasokannya. Kalau [masalahnya di] depo, GOR Indoor Manahan juga bisa [dapat pasokan]. Depo hanya untuk menampung saja. Faktanya pasokan enggak ada,” ucapnya, Kamis (15/7/2021).

 

Sumber : Solopos.com