Tes Covid-19 Mandiri Diduga Penyebab Gelombang Ke-4 di Korsel

Foto ilustrasi. - ANTARA FOTO/Jojon
17 Juli 2021 23:27 WIB Mediani Dyah Natalia News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Tes Covid-19 yang dapat dilakukan sendiri di rumah dipercaya menjadi salah satu penyebab peningkatan kasus positif sehingga dapat menjadi gelombang keempat pandemi Covid-19 di Korea Selatan. Saat melakukan sendiri terkadang hasilnya tak valid sehingga mereka yang saat tes mandiri negatif ternyata ditemukan positif. 

Dilansir dari Korea Times, Sabtu (17/7/2021), para ahli mengatakan negara seharusnya mengontrol dan mendata mengenai efisiensi penjualan kit pemeriksaan Covid-19 secara mandiri.

Tes periksa mandiri memberikan kesempatan bagi siapapun untuk memeriksa dirinya sendiri apakah mereka positif atau negatif Covid-19. Produk ini ada di pasaran sejak akhir April sebagai salah satu pilihan selain PCR karena tes ini lebih mudah dan cepat dilakukan.

Sayangnya akuransi metode ini dipertanyakan, bahkan sebelum kit ersebut dijual karena alat ini kurang sensitif dibandingkan tes PCR. Awal tahun ini, tim riset yang diketuai Profesor Kim Nam Joong dari Fakultas Kedokteran Seoul National University menemukan jika kevalidan produk ini hanya 17,5% dibandingkan tes PCR. Namun produsen alat mengklaim kesensitivan alat ini lebih dari 90%.

Karena alasan ini, para ahli menyatakan alat pemeriksaan mandiri justru menjadi penyebab munculnya gelombang keempat pandemi. Apalagi jumlah kasus positif baru lebih dari 1.000 hanya dalam waktu 10 hari. Selain itu, prevalensi penularan varian Delta yang sangat tinggi juga menjadi penyebab terbesar. Karena itu pemerintah menetapkan aturan jaga jarak yang baru.

Para tenaga kesehatan juga mendapati beberapa pasien yang positif dari PCR tetapi saat melakukan tes mandiri sebelumnya, diketaui hasilnya negatif. Karena merasa dirinya baik-baik saja, tanpa sadar mereka turut menulari orang lain.

"Dari awal kami meragukan akuransi alat ini," ujar Profesor Kim Mi Na selaku profesor di laboratorium kesehatan Asan Medical Center.

Pihak yang berwenang pun mengatakan hal serupa, ada kemungkinan "penyebaran terselubung" Covid-19 karena kesalahan tes mandiri. "Kami belum tahu jumlahnya karena kami belum mengumpulkan seluruh data, tetapi ada kemungkinana orang-orang ini hasilnya positif walau sebelumnya saat mencoba tes mandiri negatif," ujar Park Young Joon, penyelidik epidemiolog Pusat Bencana dan Keamanan.

Namun pihak berwenang lain mengatakan tes mandiri ini membantu untuk menemukan orang tanpa gejala (OTG). "Alat ini telah digunakan di Amerika Serikat dan Inggris," ujar Chon Eun Mi, Profesor THT dari Fakultas Kedokteran Ewha Womans University.

"Sebelum menyalahkan alat periksa mandiri ini sebagai penyebab gelombang keempat, harus data yang relevan terlebih dahulu," ujarnya.

Chon menyampaikan saat ini prioritas yang harus difokuskan adalah penambahan jumlah tes dan menemukan OTG secepat mungkin.

Perdana Menteri Kim Boo Kyum meminta pemerintah daerah di luar Seoul untuk melarang pertemuan privat lebih dari empat orang. Aturan juga berlaku di kota besar yang memiliki angka pertumbuhan Covid-19. Sebab saat ini mobilitas orang semakin tinggi saat libur musim panas.

"Di daerah-daerah yang tak padat penduduk, jumlah pertemuan yang diizinkan bervariasi, dari empat orang, enam dan delapan. Mempertimbangkan efek balon yang meningkat selama libur musim panas dan aturan karantina harus dipertimbangkan untuk menghambat pertumbuhan kasus harian," kata dia.

Pemerintah Daerah Jeju, membuat kebijakan sendiri, yakni dengan menerapkan jaga jarak di level tiga mulai Senin. Dari aturan tersebut, pertemuan untuk lima orang atau lebih dilarang, restoran dan kafe hanya beroperasi hingga pukul 22.00 waktu setempat dan hiburan malam harus ditutup.

==

Kabar Gembira, Insentif Nakes Ditambah Rp1,08 Triliun

Sumber : Korea Times