Sindir Pfizer dan Moderna, WHO Imbau Negara Kaya Tak Gunakan Booster Vaksin

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus memberi info perkembangan situasi wabah Covi-19 di Jenewa, Swiss (24/2/2020). - Antara/Reuters
13 Juli 2021 10:27 WIB John Andhi Oktaveri News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meminta negara-negara kaya untuk tidak memesan pendorong vaksin (booster) dulu bagi warganya yang sudah divaksinasi pada saat negara-negara lain belum menerima vaksin Covid-19.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, angka kematian kembali meningkat akibat pandemi Covid-19.

Pada saat yang sama, varian Delta menjadi dominan dan banyak negara belum menerima dosis vaksin yang cukup untuk melindungi petugas kesehatan mereka.

BACA JUGA : Waspada! Puncak Kasus Aktif Covid-19 Kedua Diprediksi Akan Muncul

"Varian Delta menyebar di seluruh dunia dengan kecepatan tinggi, sehingga mendorong lonjakan baru dalam kasus Covid-19 dan kematian," kata Tedros dalam pengarahan terbarunya.

Dia mencatat, bahwa varian yang sangat menular, yang pertama kali terdeteksi di India tersebut kini telah ditemukan di lebih dari 104 negara.

"Kesenjangan global dalam pasokan vaksin Covid-19 sangat tidak merata. Beberapa negara telah memesan jutaan dosis booster, sebelum negara lain memiliki pasokan untuk memvaksinasi pekerja kesehatan mereka dan kelompok yang paling rentan," kata Tedros seperti dikutip ChannelNewsAsia.com, Selasa (13/7/2021).

Dia mencontohkan, pembuat vaksin Pfizer dan Moderna sebagai perusahaan yang berencana memberi suntikan booster di negara-negara yang tingkat vaksinasi yang tinggi.

BACA JUGA : Sepekan PPKM Darurat, Belum Ada Tanda Penurunan Kasus Harian Covid-19

Tedros mengatakan, kedua perusahaan itu seharusnya mengarahkan dosis mereka untuk program Covax, yakni berbagi vaksin terutama untuk negara-negara berpenghasilan menengah dan lebih miskin.

Kepala ilmuwan WHO, Soumya Swaminathan mengatakan, pihaknya sejauh ini belum melihat bukti yang menunjukkan bahwa suntikan booster diperlukan bagi mereka yang telah menerima vaksin lengkap. Dia mengatakan booster mungkin diperlukan suatu hari nanti karena belum ada bukti bahwa penguat vaksin itu dibutuhkan.

“Harus berdasarkan ilmu pengetahuan dan data, bukan pada masing-masing perusahaan yang menyatakan bahwa vaksin mereka perlu diberikan sebagai dosis booster,” katanya.

Mike Ryan, Kepala Program Kedaruratan WHO, mengatakan: "Saat ini, kami kecewa karena ratusan juta orang tidak memiliki perlindungan.”

"Kami kecewa dan kami malu kalau sejumlah negara menggunakan booster yang cukup mahal pada saat orang-orang yang rentan masih sekarat tanpa vaksin di tempat lain, kata Ryan.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia