Kena Covid-19 Setelah Divaksin, Gejalanya Lebih Ringan

Kegiatan vaksinasi Covid-19 untuk warga usia 18 tahun ke atas di Mall Cilandak Town Square (Citos), Jakarta Selatan - IG: @townsquarecilandak
24 Juni 2021 14:37 WIB Sartika Nuralifah News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Di Indonesia, tengah marak kasus orang positif covid-19 setelah disuntik vaksin.

Hal itu, memicu keraguan atas efektivitas vaksin yang disuntikkan. Untuk diketahui, vaksin yang dipakai saat ini adalah vaksin Sinovac.

Ternyata kasus semacam ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Di AS, kasus yang sama juga muncul. Di AS vaksin yang dipakai adalah Pfizer, Moderna, dan Jhonson&Jhonson.

Dilansir dari New York Times, Kevin seorang pria berusia 42 tahun telah divaksinasi Covid-19 pada bulan Maret untuk melindungi dirinya sendiri. Tetapi setelah mengunjungi bar dengan teman-temannya, dia merasa hidungnya tersumbat selama beberapa waktu.

"Saya pikir itu alergi musim semi yang khas di New England," kata Kevin.

Gejala memburuk menjadi sakit kepala, nyeri tubuh dan tidak bisa tidur. Dokter mengatakan mungkin flu tetapi dokter menyarankan tes virus corona. Ternyata hasilnya positif.

Kevin pun terisolasi di Townhome Provincetown selama 10 hari. “Pada akhirnya, vaksinasi masih berhasil,” katanya. “Saya tidak sakit seperti orang yang terkena Covid sebelum vaksinasi tersedia.”

Vaksin Covid-19 sangat efektif dalam mencegah Covid-19, terutama rawat inap dan kematian, serta umumnya bekerja seperti yang diharapkan, kata dokter. Vaksin juga dapat mengurangi risiko penyebaran virus.

Menurut para ahli, meskipun risiko orang yang divaksinasi terinfeksi virus itu rendah, itu masih bisa terjadi. “Ya, ini akan terjadi, memang tidak biasa tetapi akan terjadi,” kata Dr. Sandro Galea, dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Boston.

Menurut data Gavi, pada 30 April, ada lebih dari 10.000 infeksi jenis ini yang dilaporkan dari 46 negara bagian dan teritori Amerika, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit. C.D.C..

Tapi, mereka telah berhenti mencatat infeksi tersebut jika tidak ada gejala yang parah, sehingga jumlah kasus, termasuk yang ringan, kemungkinan besar lebih tinggi.

Untuk COVID-19, sejauh ini jenis infeksi ini tampaknya sangat jarang, dengan satu laporan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS menunjukkan bahwa infeksi terobosan ini hanya terjadi pada 0,1% orang yang divaksinasi lengkap, dan hanya 2% dari mereka yang divaksinasi penuh meninggal dunia.

Selain itu, orang yang terinfeksi bahkan setelah divaksinasi cenderung memiliki gejala ringan karena peningkatan kekebalan dari vaksin dapat melindungi dari penyakit parah.

Penting untuk dicatat bahwa orang yang hanya memiliki satu dosis vaksin belum sepenuhnya terlindungi dan disarankan untuk mengambil tindakan pencegahan yang sama seperti orang yang tidak divaksinasi dalam hal menjaga jarak sosial dan mengenakan masker.

Sumber : Bisnis.com