RAPAT PARIPURNA ISTIMEWA: Hari Jadi Menjadi Momen Penguat Kebersamaan
DPRD Kulon Progo menggelar Rapat Paripurna Istimewa Hari Jadi ke-75 Kulon Progo pada Kamis (15/10). Rapat yang digelar dengan menggunakan bahasa Jawa
Menkes Budi Gunadi Sadikin bersama Wakil Ketua DPR RI Korinbang Rachmat Gobel meninjau pabrik PHC Indonesia, salah satu perusahaan alat kesehatan berbasis elektronika yang berlokasi di Kawasan Industri MM 2100, Cikarang, Jawa Barat, Kamis (10/6/2021)./Istimewa
Harianjogja.com, CIKARANG—Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan pemerintah akan lebih mendorong penggunaan alat kesehatan produksi dalam negeri sehingga ketergantungan terhadap impor bisa berkurang sekaligus meningkatkan kegiatan ekonomi nasional. Untuk itu, mekanisme lelang pengadaan alkes oleh instansi pemerintah harus lebih memberi ruang yang lebih luas bagi pelaku industri alkes nasional.
“Jika selisih harga tidak terlalu besar, seharusnya produk dalam negeri lebih diutamakan,” kata Budi Gunadi Sadikin saat bersama Wakil Ketua DPR RI Korinbang Rachmat Gobel meninjau pabrik PHC Indonesia, salah satu perusahaan alat kesehatan berbasis elektronika yang berlokasi di Kawasan Industri MM 2100, Cikarang, Jawa Barat, Kamis (10/6/2021).
Budi mengatakan dari sisi kualitas cukup banyak produk lokal yang mampu bersaing. Namun dari sisi harga, produk dalam negeri masih kalah bersaing sehingga market share-nya masih di bawah 10%. “Untuk itu, kita akan berupaya memberi kemudahan kepada produk lokal, namun dalam target waktu tertentu misalnya 3 tahun. Setelah itu, produk lokal harus mampu bersaing,” kata Budi Sadikin.
Peluang pasar alat kesehatan masih sangat terbuka karena kebutuhan dalam negeri sangat besar, seperti alat ukur gula darah, ventilator, penyimpanan vaksin. “Suplai untuk produk-produk seperti ini akan terus kita besarkan,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Wakil Ketua DPR RI Korinbang Rachmat Gobel mengapresiasi langkah strategis yang akan dilakukan Budi Gunadi Sadikin. Rachmat menilai pemerintah memang perlu memberi perhatian dan stimulus yang lebih besar bagi pengembangan industri alat kesehatan nasional karena sampai saat ini ketergantungan terhadap impor sangat besar, diatas 90%.
Langkah Menkes ini, ungkap dia, tidak hanya akan mengurangi ketergantungan pada pasar luar negeri, dan sekaligus untuk menggerak ekonomi dan membuka lapangan kerja.
"Potensi industri alat kesehatan nasional sesungguhnya sangat besar, untuk itu perlu digarap secara lebih serius. Industri ini memang berbasis riset sehingga pengembangan membutuhkan biaya besar karena itu perlu dukungan penuh dari pemerintah,” kata Rachmat.
Terkait dengan kunjungan ke PHC Indonesia, Menkes Budi Gunadi mengakui, proses produksi perusahaan yang berbasis teknologi Jepang ini patut mendapat apresiasi. Tidak heran, sebagian besar produknya berhasil dipasarkan ke berbagai negara.
Perusahaan ini tercatat memproduksi berbagai alat kesehatan, termasuk yang terkait dengan penanganan Covid-19 seperti ventilator bersertifikat internasional, tipe Continuous Positive Airways Pressure (CPAP) Vent-I Esential 3.5, alat pendingin untuk penyimpanan vaksin berupa serangkaian peralatan biomedical freezer (pembeku biomedis) dan pharmaceutical refrigerator (pendingin farmasi). Alat ini dapat menyimpan vaksin dalam suhu -20 sampai -30 derajat celcius, seperti MDF-MU339 dengan volume 369 liter, MDF-MU539H dengan volume 504 liter, serta MDF-MU 539DH dengan volume 479 liter.
Menurut Direktur PHC Indonesia Dewanto Hari Sulaksono, ventilator Vent-I Esential 3.5. merupakan hasil kerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB). Alat ini diklaim efektif dan banyak dibutuhkan dalam menangani pasien Covid-19 fase 2, yaitu pasien yang masih bisa bernafas secara mandiri, namun saturasi oksigen nya di bawah 50%. Ventilator ini mampu meningkatkan oksigen pasien ke ke level yang cukup, yaitu di atas 50% secara terus menerus dengan tekanan terukur (5-15cmH2O).
Melalui kerja sama tersebut, PHC Indonesia yang selama ini dikenal sebagai pelaku industri alat kesehatan yang lebih dari 85% di pasar ekspor, mampu menekan harga ventilator CPAP VEnti-I menjadi jauh lebih murah. Alat ini dijual dengan harga Rp 60 juta per unit, jauh di bawah produk impor Rp 180 juta-Rp 230 juta. Ini terjadi karena sebagian besar yaitu sekitar 60% dari komponen Ventilator CPAP Vent-I menggunakan produk lokal.
Namun begitu, secara kualitas Ventilator CPAP Vent-I tidak kalah dengan produk impor karena mampu memenuhi standar internasional yaitu International Electronical Commission (IEC 60601) dan standar persyaratan ventilator (IEC80601), standar kompatibilitas elektro magnetik (Electro Magnetic Compatibility/EMC) EN55011 - CISPR 11.
“Ventilator CPAP Vent-I yang launching sejak akhir Januari 2021 ini , saat ini sudah memasuki produksi massal oleh PT. PHC Indonesia. Kami menggandeng PT Gobel Dharma Nusantara sebagai distributor dan layanan purna jual,” kata Dewanto. (***)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPRD Kulon Progo menggelar Rapat Paripurna Istimewa Hari Jadi ke-75 Kulon Progo pada Kamis (15/10). Rapat yang digelar dengan menggunakan bahasa Jawa
Frosinone vs Sassuolo di Serie A: simak jadwal, kondisi pemain, prediksi susunan pemain, dan peluang kedua tim meraih kemenangan.
Radithya Bayu Wardhana lolos ke semifinal BWF World Junior Championships 2026 usai mengalahkan wakil Malaysia dengan skor 15-8 dan 15-11.
Ingin menyembunyikan status online di Instagram? Simak cara mematikan tanda aktif dan Last Seen melalui pengaturan aplikasi.
NCT DREAM dikabarkan merilis album keenam DREAM AFTER DREAM pada 9 November 2026. Album ini disebut berisi 10 lagu dengan Boogie Woogie sebagai lagu utama.
Pemkot Jogja menaikkan tarif parkir kawasan II dan III. Motor menjadi Rp2.000 dan mobil Rp5.000 untuk mendukung pendapatan daerah.