Harga Kedelai Tembus Rp11.000, 40% Perajin Tahu Tempe di Jateng Kolaps

Seorang perajin mengolah tempe di tempat usahanya di kawasan Medoho, Gayamsari, Kota Semarang, Rabu (2/6/2021). - JIBI/Solopos/Imam Yuda S.
02 Juni 2021 16:17 WIB Imam Yuda Saputra News Share :

Harianjogja.com, SEMARANG—Pusat Koperasi Produsen Tahu-Tempe (Puskopti) menyebut hampir 40% perajin tahu tempe di Jawa Tengah (Jateng) mengalami kolaps akibat tingginya harga kedelai.

Hal itu diungkapkan Ketua Puskopti Jateng, Sutrisno Supriantoro, Rabu (2/6/2017).

BACA JUGA: Kisah Sulastri, Bakul Soto yang 6 Kali Kemalingan tapi Tak Pernah Lapor Polisi

"Perajin tahu tempe di Jateng saat ini menjerit karena tingginya harga kedelai. Bahkan banyak yang kolaps. Hampir 40 persen anggota kami mengalaminya. Padahal total anggota kita itu mencapai 10.000 perajin dan tersebar di 35 kabupaten/kota di Jateng," ujar Sutrisno.

Sutrisno mengatakan harga kedelai eceran di pasaran saat ini memang tidak wajar. Harga kedelai saat ini mencapai Rp10.600-Rp11.000 per kilogram (kg). Padahal, menurut Sutrisno, sebelum Lebaran harga kedelai masih berkisar Rp7.000 per kg.

"Kalau saya lihat ini bukan lagi kenaikan harga, tapi perubahan harga. Dari perajin sudah berusaha mengakali dengan membuat kemasan tahu tempe lebih kecil. Tapi, kalau harganya enggak turun-turun juga sulit. Makanya banyak yang menghentikan produksi," tutur Sutrisno.

Sutrisno pun berharap pemerintah segera memberikan solusi untuk mengatasi tingginya harga kedelai eceran tersebut. Salah satunya dengan menggelar operasi pasar secara rutin.

Sutrisno mengaku Puskopti Jateng sudah menyurati Kementerian Perdagangan (Kemendag) melalui Gabungan Koperasi Perajin Tahu Tempe Indonesia (Gapokti).

Dalam surat itu, Puskopti Jateng minta agar pemerintah segera menggelar operasi pasar secara rutin.

Hal itu dirasa cukup efektif membuat harga di pasar stabil seperti saat bulan puasa beberapa waktu lalu.

"Kami sudah surati Kemendag melalui Gapokti agar segera dilakukan operasi pasar. Kalau bisa ya harga dalam operasi pasar itu lebih murah. Itu kan bisa jadi subsidi juga bagi perajin," tutur Sutrisno.

Sementara itu, seorang perajin tempe di Medoho, Gayamsari, Kota Semarang, Slamet, berharap pemerintah memberikan subsidi kepada perajin tahu tempe menyusul tingginya harga kedelai.

Menurutnya, harga kedelai saat ini sudah tidak wajar dan paling tinggi selama dirinya berkecimpung dalam usaha pembuatan tempe sejak 1985.

"Dulu waktu zaman pak SBY [Presiden Susilo Bambang Yudhoyono] harga paling tinggi Rp8.000 per kg. Itu saja kami dapat subsidi. Tapi, sekarang malah tembus Rp11.000 kami enggak dapat apa-apa [subsidi]," tutur Slamet saat dijumpai wartawan di rumahnya.

Slamet pun mengaku agar usahanya tetap bertahan dirinya mengubah kemasan tempe menjadi lebih kecil.

"Saya enggak naikin harga, tapi cuma mengubah kemasan jadi lebih kecil. Itu saja omzet masih turun drastis," kata dia.

Sumber : JIBI/Solopos