Kisah Sulastri, Bakul Soto yang 6 Kali Kemalingan tapi Tak Pernah Lapor Polisi

Warung Soto di pinggir Jl. Bypass Klaten, tepatnya di Jamalan, Kelurahan Tonggalan, Kecamatan Klaten Tengah, yang kerap kemalingan maling, Rabu (2/6/2021). - JIBI/Solopos/Ponco Suseno
02 Juni 2021 14:37 WIB Ponco Suseno News Share :

Harianjogja.com, KLATEN—Sulastri, 71, penjual soto di Tonggalan, Kecamatan Klaten Tengah sudah berulang kali menjadi korban pencurian. Hingga saat ini, Sulastri sudah enam kali menjadi korban pencurian.

Sulastri lahir Mojosongo, Kabupaten Boyolali. Sejak 11 tahun terakhir, Sulastri mengais rezeki sebagai bakul soto di pinggir Jl. Bypass Klaten, tepatnya di Jamalan, Kelurahan Tonggalan, Kecamatan Klaten Tengah. Sehari-harinya, Sulastri juga tidur di warung tersebut.

BACA JUGA: Sering Diprotes di Medsos, Wisata DIY Wajib Berbenah

Sulastri mencari lokasi berjualan soto di pinggir Jl. Bypass agar warungnya ramai dikunjungi pembeli. Ternyata warung sotonya tersebut juga sering menjadi incaran pencuri. Sulastri yang memperoleh omzet tak pasti setiap harinya mengaku sudah menjadi langganan menjadi korban pencurian sejak empat tahun terakhir. Sepanjang waktu tersebut, Sulastri sudah enam kali menjadi korban pencurian.

"Kerugian yang saya alami berbeda-beda [setiap kejadian pencurian]," kata Sulastri, di warungnya di Jl. Bypass Klaten, Rabu (2/6/2021).

Sulastri menyebutkan enam kali pencurian itu berlangsung dalam kurun waktu empat tahun terakhir. Pada pencurian pertama, yakni munculnya seorang laki-laki yang berpura-pura membeli nasi soto dan es teh. Saat dibikinkan soto, ternyata laki-laki tak dikenal itu mengambil uang Rp900.000 milik Sulastri.

Berikutnya, Sulastri pernah kehilangan uang Rp700.000 (kejadian kedua), Rp600.000 (kejadian ketiga), Rp600.000 (kejadian keempat), Rp250.000 (kejadian kelima), sejumlah uang yang ditaruh di blek warna hitam, terakhir korban pencurian dengan kerugian di atas Rp2 juta, Rabu (2/6/2021) pagi.

BACA JUGA: Belajar Sejarah Jogja & Objek Wisata dalam Usapan di Ponsel

"Saya itu enggak pernah lapor polisi. Kalau ada yang dicuri, ya sudah diikhlaskan saja. Diserahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sebelum pencurian hari ini, saya sempat dihipnotis orang. Waktu itu, saya tak hafal secara detail kerugian yang saya alami," katanya.

Sulastri mengatakan kali terakhir menjadi korban pencurian, Rabu (2/6/2021) pukul 05.00 WIB. Saat tersebut, Sulastri, 71, pergi meninggalkan warung untuk membeli tempe, kubis, dan seledri di Pasar Candi di Klaten. Pasar tersebut berjarak kurang lebih 1,5 kilometer dari warung soto milik Sulastri. Setelah selesai membeli tempe, Sulastri, kembali ke warung sotonya. Tiba di depan warungnya, Sulastri dikagetkan dengan gembok pintu warung dalam kondisi rusak. Begitu dicek di bagian dalam, ternyata sejumlah barang dan uang raib diembat pencuri. Beberapa barang yang hilang itu, seperti tiga tabung gas melon, beras seperempat kilogram, sejumlah bungkus rokok, dan uang senilai Rp700.000.

"Saya perjalanan ke pasar lalu pulang ke warung membutuhkan waktu 15 menit. Mungkin pencurinya itu sudah tahu kalau saya sedang ke pasar. Meski semuanya dicuri, saya tetap berjualan soto. Tadi, saya pinjam tabung gas melon milik tetangga terlebih dahulu," katanya.

BACA JUGA: Selter untuk Orang Telantar di Bantul Ditarget Beroperasi November 2021

Salah seorang pembeli soto bikinan Sulastri, yakni Yuli, 41, mengatakan masakan Bu Sulastri dikenal sangat enak. Tak heran, dirinya selalu makan siang di warung soto Sulastri setiap harinya.

"Saya sudah langganan di sini sejak lima tahun terakhir. Soto bikinan Bu Lastri memang enak. Saya pun ikut kasihan saat mendengat warung Bu Lastri dibobol maling hari ini. Pencurinya itu kebangetan. Masak, semuanya diambil, seperti uang, beras, gas melon, dan rokok," kata Yuli.

Sumber : JIBI/Solopos