Menkes Sebut 3 Provinsi dengan Kinerja Vaksinasi Terbaik, Termasuk Jogja

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin usai menjalani vaksinasi CoronaVac kedua di Istana Negara, Rabu (27/1/2021). JIB - Bisnis/Nancy Junita
28 Mei 2021 20:57 WIB Herdanang Ahmad Fauzan News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin menyebut bahwa per hari ini, Jumat (28/5/2021), setidaknya ada tiga provinsi yang telah melakukan program vaksinasi dengan cepat dan efektif. Ketiga daerah tersebut adalah DKI Jakarta, Bali dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

"Untuk urusan testing, saya lihat dari seluruh provinsi DKI yang paling baik. Kemudian vaksinasi, untuk vaksinasi saya bisa bilang tiga provinsi yang paling cepat adalah DKI, Bali dan Jogja. Saya juga terima kasih ke teman-teman tenaga kesehatan DKI terutama, karena lebih dari 60 persen lansia sekarang sudah disuntikkan vaksin," kata Budi dalam siaran pers virtual di akun Youtube Kemenkes RI, Jumat (28/5/2021).

Budi berharap kinerja gesit ketiga provinsi tersebut juga menjadi contoh bagi daerah lain.

Menurut Budi, komitmen dan sinkoronisasi langkah antara pemerintah provinsi dan daerah di seluruh Indonesia sangat dibutuhkan untuk segera mengakhiri pandemi yang usianya sudah hampir 1,5 tahun.

"Secara umum yang saya lihat, di seluruh dunia, yang paling penting adalah kerja sama dari stakeholder-stakeholder di dalam negara. Kalau kerja sama ini bisa kita rajut dengan baik, chance kita atau kesempatan kita untuk mengatasi pandemi ini tinggi," imbuhnya.

Per Kamis (28/5/2021), data Satgas Covid-19 BNPB menyebutkan bahwa jumlah vaksinasi dosis pertama yang telah dilakukan 34 provinsi telah mencapai 15.703.583 dosis. Sementara, jumlah dosis kedua yang telah diberikan mencapai 10.359.996.

Secara umum, pemerintah menargetkan 2 dosis vaksin bisa disuntikkan kepada 40.349.049 penduduk Indonesia. Salah satu hal yang menurutnya juga perlu diingat oleh seluruh pemerintah daerah adalah terkait fleksibilitas.

Budi menilai untuk mengatasi pandemi suatu daerah tidak boleh terpaku pada satu kebijkana. Semua mesti terbuka dengan adaptasi terhadap kemungkinan yang bisa muncul di lapangan.

"Ada kebijakan yang baik, tapi 6 bulan kemudian dengan adanya mutasi virus yang baru kita harus mengubahnya. Itu sebabnya, kajian-kajian atau review mengenai indikator strategi memang selalu berubah-ubah. Indonesia sendiri sudah banyak melakukan hal yang positif.Tapi dengan kerendahan hati saya juga sampaikan, masih banyak sekali kesempatan kita untuk memperbaiki diri," tandasnya.

Mengacu data terkini Satgas Penanganan Covid-19 BNPB per Kamis (28/5) siang kemarin, saat ini di Indonesia masih ada 98.405 kasus Covid-19 aktif.

Secara kumulatif, sejak awal kedatangan pandemi sudah pernah ada 1.797.499 kasus dengan 1.649.187 telah dinyatakan sembuh dan 49.907 korban meninggal dunia.

Sumber : Bisnis.com