Hasil Penelitian Sebut Vaksin Sinopharm 78 Persen Efektif Cegah Keparahan Covid-19

Kotak-kotak berisi vaksin Covid-19 tertumpuk saat proses produksi di Beijing Biological Products Institute, unit dari China National Biotec Group (CNBG), anak perusahaan Sinopharm di Kota Beijing, China, Jumat (26/2/2021). - ANTARA/REUTERS
27 Mei 2021 20:27 WIB Mutiara Nabila News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Berdasarkan hasil studi terbaru dan hasil uji klinis dari yang dipublikasi jurnal kesehatan AS, vaksin Sinopharm efektif mencegah Covid-19.

Dua vaksin Sinopharm, dengan platform virus yang diinaktivasi, yang dikembangkan perusahaan China National Biotec Group Co. menunjukkan bisa mencegah keparahan infeksi masing-masing 72,8 persen dan 78,1 persen. Temuan ini dilaporkan melalui Journal of the American Medical Association (JAMA), Rabu (26/5/2021).

Vaksin asal China, termasuk dari Sinopharm dan Sinovac Biotech Ltd, telah menjadi vaksin utama yang digunakan di berbagai negara berkembang, dari Hungaria dan Serbia, sampai Seychelles dan Peru.

Sebelumnya, vaksinasi menggunakan dua jenis vaksin tersebut terus diawasi ketat karena produsennya sempat tidak memberikan data yang memadai terkait keamanan dan efikasi vaksinnya, serta sempat mendapat kritikan dari berbagai pihak atas hal tersebut.

Kurangnya transparansi tersebut menimbulkan keraguan bahwa kedua vaksin tersebut bisa mengurangi risiko parah jika terpapar Covid-19, terlebih setelah ada lonjakan kasus kembali setelah mayoritas penduduk divaksinasi, seperti yang terjadi di Seychelles dan Chili.

Penggunaan kedua vaksin tersebut juga sempat terhambat karena tak mendapat persetujuan dari regulator obat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Adapun, di Hong Kong dan Singapura masih meminta kedua perusahaan untuk menyertakan lebih banyak data pendukung.

Dilansir Bloomberg, studi yang dilakukan JAMA, yang melibatkan 40.832 orang dari Uni Emirat Arab, Bahrain, Mesir, dan Yordania. Mereka dibagi menjadi tiga kelompok dan masing-masing mendapatkan dua suntikan vaksin dengan interval tiga pekan atau mendapatkan plasebo.

Dua pekan setelah suntikan kedua, infeksi tercatat berkembang pada 26 orang yang mendapatkan vaksin dengan nama bets WIV04, 21 orang dari yang diberikan vaksin HBO1, dan 95 orang yang mendapat suntikan plasebo.

Namun, tak ada relawan yang diberi vaksin aktif yang mengalami keparahan, dibandingkan dengan yang hanya diberikan plasebo. Hasilnya telah diberikan ke JAMA pada 17 Maret 2021 dan paper tersebut diterima pada 12 Mei 2021.

Namun, studi tersebut masih menunjukan kelemahan. Tes yang dilakukan masih cenderung banyak diberikan kepada pria, yang jumlahnya mencapai 85 persen dari relawan yang terlibat. Kurang dari 2 persen berusia 60 tahun atau lebih, dan kebanyakan kondisinya sehat.

Hasilnya, hanya ada sedikit bukti untuk menunjukkan efikasi dan keamanan vaksin bagi wanita, dan orang tua dengan penyakit bawaan tertentu.

WHO sudah memberikan izin salah satu vaksin Sinopharm pada awal Mei ini dan membuatnya bisa digunakan secara massal di seluruh dunia melalui Covax Facility yang bisa memberikan akses pada vaksin aman dan efektif.

Sumber : Bisnis.com