Pemadaman Listrik PLN di Jawa Bikin Industri Baja Merugi
Pemadaman listrik di Jawa tekan industri baja hingga kehilangan produksi 1.200 ton akibat gangguan operasional pabrik.
Kader Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) memberikan vaksin imunisasi kepada balita di Posyandu Kunir, Desa Sukaurip, Balongan, Indramayu, Jawa Barat, Senin (10/8/2020)./Antara
Harianjogja.com, JAKARTA - Angka cakupan imunisasi dasar lengkap dan imunisasi lanjutan bayi di bawah dua tahun (baduta) secara nasional masih di bawah target minimal 95% pada 2020. Mayoritas imunisasi pun menurun.
Penurunan cakupan yang siginifikan salah satunya terjadi pada imunisasi polio suntik (IPV). Data terakhir dari Kementerian Kesehatan mencatat pada 2020, hanya 8,5 persen cakupan imunisasi IPV, sementara tahun sebelumnya mencapai 61,5 persen.
"Kekosongan vaksin IPV karena kendala proses pengadaan menyebabkan kesenjangan cakupan IPV antara Agustus 2019 sampai Agustus 2020," tutur Kepala Kelompok Penasihat Teknis Indonesia untuk Imunisasi (ITAGI) Prof.Sri Rezeki Hadinegoro dalam diskusi virtual, Jumat (23/4/2021).
Sementara itu, untuk cakupan imunisasi polio tetes (OPV 4), baru mencapai 54,8 persen pada 2020, sementara pada 2019 sebesar 71,2 persen.
Sri menjelaskan rendahnya cakupan vaksinasi ini disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, orang tua khawatir terpapar Covid-19 ketika datang bersama bayinya ke fasilitas kesehatan. Kemudian, ini juga dipicu adanya pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Ditambah lagi, kurangnya sumber daya manusia (SDM) di fasilitas kesehatan, dan pengalihan SDM kesehatan anak untuk mengatasi pandemi.
Padahal kata dia imunisasi dasar penting bagi bayi dan anak sampai umur 18 bulan untuk melindungi dari berbagai penyakit berbahaya lain yang telah berjalan selama ini. Vaksin bekerja dengan cara membuat sistem kekebalan tubuh untuk melawan penyakit tertentu secara efektif dan spesifik sehingga mencegah perkembangan penyakit atau mengurangi keganasan penyakit.
Selain itu, lanjut Sri, imunisasi adalah cara sederhana dan efektif untuk melindungi anak dari penyakit serius. Ini tidak hanya membantu melindungi individu, tetapi juga melindungi komunitas yang lebih luas dengan meminimalkan penyebaran penyakit.
"Apabila banyak bayi dan balita yang tidak mendapatkan imunisasi dasar lengkap kelak dapat terjadi wabah berbagai penyakit yang akan mengakibatkan banyak anak sakit berat, cacat, atau meninggal," pungkasnya.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular LangsungKemenkes dr. Siti Nadia Tarmizi mengakui bahwa capaian imunisasi nasional masih di bawah target minimal 95 persen.
"Tidak tercapai untuk hampir semua jenis imunisasi, masih ada 786.000 anak Indonesia belum mendapatkan imunisasi dasar lengkap di 2020, ini berpotensi muncul kejadian luar biasa pada anak," tegasnya.
Oleh karena itu, dia meminta masyarakat untuk tetap melakukan imunisasi sesuai dengan jadwal dan rekomendasi dokter demi melindungi diri dari penyakit infeksi yang berbahaya, bahkan penyakit yang mematikan, termasuk pada orang dewasa.
Dia menjelaskan keberhasilan dalam meningkatkan cakupan imunisasi dewasa akan berdampak pada penurunan angka kematian dan kesakitan serta biaya pengobatan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Sebanyak 30 ban pengaman di jalur ekstrem menuju Pantai Wediombo, Gunungkidul, terbakar. Warga mengumpulkan ban pengganti untuk mengurangi risiko kecelakaan.
Oknum TNI berpangkat Letkol ditetapkan sebagai tersangka kasus penyewaan rumah dinas di Cijantung yang diduga terkait operasional judi online.
Argentina memimpin daftar negara dengan utang IMF terbesar 2026 sebesar US$56,9 miliar. Simak 10 negara dengan kredit IMF tertinggi.
Kasus diare di Jogja mencapai 15.086 hingga 10 Oktober 2026. Dinkes memperkuat pemantauan, sanitasi, dan edukasi pencegahan.
Mousa Bagayoko absen 3-4 pekan akibat cedera lutut. Pieter Huistra menyiapkan sejumlah opsi gelandang PSS Sleman untuk melawan Persik.