Kerajaan Inggris Kehilangan Banyak Dukungan, Sebagian Tak Ingin Monarki Dilanjutkan

Ratu Elizabeth berusia 94 tahun memimpin Kerajaan Inggris. - @theroyalfamily
14 April 2021 15:07 WIB John Andhi Oktaveri News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Setelah Pangeran Philip mangkat pada 9 April 2021, penghormatan mengalir dari seluruh dunia bersama dengan dukungan untuk Keluarga Kerajaan Inggris.

Meski banyak orang bersimpati untuk keluarga yang berduka, tidak semua orang di Inggris mendukung monarki sebagai sebuah institusi yang harus langgeng. Kebanyakan orang mengatakan mereka masih menghargai tradisi dan simbolisme keluarga kerajaan dan akan sedih melihatnya hilang.

Namun, sebagian besar warga Inggris yang lebih memilih reformasi konstitusional dengan seorang kepala negara terpilih.

Menurut jajak pendapat yang dilakukan oleh YouGov bulan lalu, 63 persen orang berpikir Inggris harus terus memiliki monarki di masa depan.

Sementara itu, satu dari empat orang mengatakan mereka lebih memilih kepala negara terpilih, dan sekitar satu dari 10 orang ragu-ragu.

Dipimpin oleh Ratu Elizabeth II yang berusia 94 tahun, Kerajaan Inggris telah memerintah dalam beberapa bentuk selama hampir 1.000 tahun selain dari periode lima tahun yang singkat pada tahun 1600-an setelah Perang Saudara Inggris.

Kerajaan juga memiliki sejumlah tugas konstitusional, termasuk menandatangani undang-undang, menunjuk perdana menteri dan membuka  sidang parlemen, tetapi sebagian besar kekuasaan itu telah didelegasikan dari waktu ke waktu.

Ratu Elizabeth juga menjabat sebagai raja untuk 54 negara Persemakmuran yang berakar di Kerajaan Inggris.

"Saya pribadi berpikir kita tidak membutuhkan monarki lagi. Saya tidak tahu tujuan pelayanan mereka, dan ini adalah sisa kolonialisme dan ada di waktu yang sangat berbeda," kata Kirsten Johnson, seorang administrator universitas dari Derby seperti dikutip BBC.com, Rabu (14/4/2021).

"Jika Anda memikirkan saat Ratu Elizabeth menjadi ratu, kita belum jauh melewati Perang Dunia Kedua dan saat itu Persemakmuran berada dalam situasi yang sama sekali berbeda. Itu terkait dengan Kerajaan, berbeda dengan yang ada sekarang.”

"Kita sudah memiliki pejabat yang dipilih, jadi saya tidak begitu mengerti mengapa kita membutuhkan monarki," tambahnya.

Menurutnya, secara teori Ratu harus menandatangani semuanya, tapi pada dasarnya, dia hanya pemimpin tanpa kekuasaan, meski  berbiaya mahal.

Pangeran William (tengah) berada di jalur suksesi Kerajaan Inggris yang saat ini dipimpin Ratu Elizabeth II. JIBI/Bisnis-Nancy Junita @royalfamily.

Biaya Tinggi

Pada tahun 2020, biaya Keluarga Kerajaan yang dibayar pembayar pajak Inggris mencapai £69,4 juta (Rp1,4 triliun) menurut angka yang dikeluarkan oleh Keluarga Kerajaan.

Uang itu disebut Sovereign Grant dan digunakan untuk mendanai pekerjaan Ratu dan keluarganya. Demikian juga untuk perjalanan resmi kerajaan dan pemeliharaan istana kerajaan, termasuk renovasi terbaru Istana Buckingham dan renovasi di Frogmore Cottage, yang sebelumnya merupakan rumah bagi Pangeran Harry dan istrinya Meghan.

"Uang pembayar pajak digunakan untuk mendukung banyak bangsawan, yang karena gelar, bisa mendapatkan pekerjaan tertentu, sejumlah perlindungan, dan sebagainya. Tetapi apa yang sebenarnya mereka lakukan untuk negara?”

"Saya tak mengatakan mereka tidak melakukan apa-apa, tapi apa yang mereka lakukan yang begitu istimewa dan begitu terkait dengan monarki, sehingga orang lain tidak akan bisa melakukannya? "kata Kirsten.

Dia mengatakan, bahwa Ratu Elizabeth telah memerintah untuk waktu yang sangat lama, dan melakukannya dengan anggun.

Ratu tampak seperti perempuan yang baik, tetapi dia tidak melihat perlunya monarki selain pariwisata. Orang-orang yang ingin datang dan melihat Istana Buckingham dapat tetap pergi ke sana meskipun tidak ada monarki, katanya

Ratu dan sebagian besar keluarga dekatnya dikenal sebagai 'bangsawan yang bekerja' dan melakukan lebih dari 2.000 acara resmi kerajaan setiap tahun di Inggris dan luar negeri.

Peran mereka dimaksudkan untuk memperkuat persatuan dan stabilitas nasional melalui pelayanan publik dan amal.

"Saya memandang Keluarga Kerajaan sebagai pegawai negeri yang sangat istimewa, yang lahir dengan karier mereka dan tidak dapat mengubahnya," kata Sammy Knight.

Lahir dan besar di Kanada, tetapi sekarang menjadi warga negara Inggris, Sammy yakin monarki tidak memiliki tempat di masa depan Inggris Raya atau Persemakmuran.

"Pandangan saya adalah bahwa monarki sebagai institusi mati bersama Ratu," katanya.

Dia mengaku tidak peduli dengan kekuasaannya, tapi diakuinya dia perempuan yang luar biasa pada tingkat individu.

“Saya sedih melihat Pangeran Phillip pergi karena sekarang hanya tinggal ada Ratu,” ujarnya.

"Saya mengagumi pengabdian Ratu dan Duke of Edinburgh karena mereka memiliki kehidupan yang sangat luar biasa dan saya pikir mereka telah berdedikasi secara luar biasa untuk pelayanan publik meskipun usia mereka sudah tua.”

Ratu Elizabeth II bersama Pangeran Philip. JIBI/Bisnis-Nancy Junita @royalfamily

Hasil Survei

Ketika data survei dipecah berdasarkan usia, ada perbedaan besar antar generasi.

Mereka yang berusia 18 hingga 24 tahun adalah yang paling tidak berpikir bahwa Inggris harus memiliki monarki. Adapun, orang yang berusia di atas 65 tahun sangat mendukung untuk mempertahankan Keluarga Kerajaan Inggris.

Ada juga perbedaan dalam hasil pemungutan suara di berbagai wilayah di Inggris.

Hanya setengah dari orang di Skotlandia yang menyatakan pandangan yang baik tentang masa depan monarki atau proporsi terkecil dari populasi regional mana pun.

"Sebagai orang Skotlandia, monarki sangat jauh dan asing bagi saya," kata Mathew Burton-Webster, seorang pekerja pengasuh anak di pusat perawatan di Kirkaldy di pantai timur Skotlandia.

Dia mengatakan, satu-satunya pengingat tentang mereka adalah tentang uang, atau jika salah satu dari mereka meninggal.

"Mereka memiliki hak atas tempat-tempat di Skotlandia dan untuk berlibur di perkebunan pribadi mereka di sana, tetapi rasanya seperti mereka tidak memberikan imbalan apa pun,” tukasnya.

Tidak semua orang mendukung penghapusan total monarki.

Reformasi Parsial

Stephen Allison, pensiunan konsultan politik, mempertimbangkan reformasi konstitusional parsial.

"Saya sebenarnya menyukai tradisi dan kontinuitas yang diberikan oleh bangsawan senior, tetapi terlalu banyak bangsawan-bangsawan minor," katanya.

Dia mengaku membutuhkan Ratu dan Pangeran Wales dan memilih untuk memiliki Pangeran William dan Pangeran George karena mereka berada di garis suksesi langsung, tetapi selain itu, tidak membutuhkan lusinan pangeran dan putri.

"Jadi, saya rasa saya menyukai gagasan beberapa bangsawan, tapi tidak semua," katanya.

Kerajaan berdaulat melalui persetujuan rakyat di Inggris dan dalam beberapa tahun terakhir Kerajaan Inggris telah menjadi bahan perdebatan.

Tapi untuk saat ini, mereka yang ingin melihat akhir dari Keluarga Kerajaan tetap menjadi minoritas, meski jumlahnya cukup besar.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia