Pendataan Sudah Dilakukan, Pengusaha Tunggu Kepastian Stok Vaksin

Sejumlah tenaga kesehatan mendapatkan vaksinasi dosis pertama vaksin Covid-19 Sinovac di Istora Senayan, Jakarta, Kamis (4/2/2021). - Antara\\r\\n
26 Maret 2021 01:27 WIB Rahmad Fauzan News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Pelaku usaha menanti kepastian ketersediaan vaksin dari pemerintah yang menunjuk PT Bio Farma (Persero). Sampai saat ini, pemerintah baru memberikan estimasi bahwa vaksin akan tiba di Indonesia pada April 2021.

Wakil Ketua Umum Bidang Hubungan Internasional Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Shinta Widjaja Kamdani mengatakan kepastian vaksin sangat dinanti oleh pelaku usaha karena swasta dinilai sudah siap untuk menyelesaikan tugas utamanya, yakni pendataan dan pendaftaran.

"Sekarang kunci utamanya adalah penyediaan vaksin. Kalau pendataan dan pendaftaran sudah jelas, sebab banyak perusahaan yang minat. Namun, soal kesediaan vaksin ini penting dan kami sekarang menunggu kapan vaksinnya tersedia," ujar Shinta ketika dihubungi, Kamis (25/3/2021).

BACA JUGA : Siap-Siap! Pelaku Wisata di Sleman Mulai Divaksin 5 April Mendatang

Pemerintah yang mengestimasikan vaksin datang pada April 2021, lanjutnya, belum memberikan kepastian mengenai tanggal persis kedatangan, jumlah spesifik, serta harga yang akan ditetapkan untuk vaksin yang akan digunakan dalam program Vaksinasi Gotong Royong.

Perlu diketahui, proses pemulihan dunia usaha sangat bergantung dengan progres vaksinasi. Program vaksinasi yang masif pun dinilai menjadi kunci bagi sektor tersebut untuk bisa keluar dari persoalan pandemi dan kembali pulih.

Sejauh ini, program vaksinasi yang telah berlangsung dinilai cukup mampu memberikan efek positifnya ke sektor riil. Diharapkan, dimulainya program Vaksinasi Gotong Royong mampu mengakselerasi program vaksinasi Covid-19 di Tanah Air.

Berdasarkan data terakhir industri manufaktur di Kementerian Perindustrian (Kemenperin), 3 sektor industri berhasil mencatatkan pertumbuhan positif sampai dengan kuartal ketiga tahun lalu, antara lain makanan dan minuman (mamin) 1,16 persen, perumahan dan perlengkapan rumah tangga 2,82 persen, serta kesehatan dan pendidikan 3,94 persen.

BACA JUGA : Gus Hilmy Kritik Vaksinasi Covid-19 untuk Kiai di Jogja Lambat

Selain itu, IHS Markit melaporkan Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia periode Februari berada di level 50,9. Kendati pun lebih rendah dari periode Januari dengan PMI di angka 52,2, kondisi manufaktur dalam negeri masih di level ekspansif.

Bahkan, Kemenperin meyakini sektor mamin mampu tumbuh 5 - 9 persen tahun ini. Terutama, karena terdorong oleh penjualan pada periode Ramadan-Lebaran yang diperkirakan melonjak seiring dengan sudah berjalannya program vaksinasi pemerintah.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia