Kita Muda Kreatif Rayakan Capaian Perempuan

Fitria dari Lawe Indonesia (tengah) menunjukkan karya hasil kolaborasi penenun Lombok dalam temu wicara, Selasa (23/3/2021). - Harian Jogja - Ist
24 Maret 2021 15:57 WIB Galih Eko Kurniawan News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Program Creative Youth at Indonesian Heritage Sites menjadi sebuah kolaborasi UNESCO Jakarta dan Citi Indonesia di bawah dukungan Citi Foundation sejak 2017 yang sekarang dalam tahap lanjutan Fase IV pada 2021.

Program yang dikenal pula dengan nama Kita Muda Kreatif ini, pada tahun ini menargetkan 300 wirausaha muda yang tinggal di sekitar kawasan budaya atau alam ternama, yaitu Danau Toba, Borobudur, Prambanan, Klaten, Jogja, Kotatua Jakarta, Bali, dan Lombok dengan lebih dari 50% para wirausaha muda ini adalah perempuan.

Bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional tahun ini, UNESCO Jakarta dan Citi Indonesia dengan dukungan Citi Foundation turut merayakan pencapaian para penenun perempuan Indonesia, dengan menggelar kegiatan live streaming berdurasi 90 menit pada Selasa (23/3/2021).

Mengangkat tema #ChoosetoChallenge, acara ini menampilkan kisah-kisah inspiratif dari para perempuan penenun Indonesia, yang menerima tantangan melestarikan kain tenun tradisional Indonesia di tengah pandemi Covid-19 yang melanda dunia.

Seorang perempuan penenun ulos dan pemilik Soit Tenun Ulos dari Tapanuli Utara, Toba, Sartika Martilova Sihombing, berbagi pengalamannya. “Sebagai penenun ulos, pandemi Covid-19 merupakan tantangan yang berat,” ujarnya, Selasa.

Awal pandemi dia mengaku sempat pesimis bisa bertahan sebagai penenun ulos karena pesanan tenun ulos turun drastis. Setelah beberapa bulan masa pandemi, Sartika mulai bangkit dan semangat lagi.

Salah satu yang membuat semangat bertenun yakni pendampingan program Kita Muda Kreatif dari UNESCO-CITI Indonesia. Ketika mengikuti berbagai pelatihan daring, dia melihat ternyata bukan hanya dirinya yang terdampak Covid-19. Akhirnya, para peserta program berbagi informasi dan pengalaman.

Sri Hartini, Ketua Kelompok Nina Penenun dari Pringgasela, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, berharap UNESCO bisa membantu meregenerasi penenun yang ada di Desa Pringgasela Selatan dengan berbagai pelatihan yang dapat meningkatkan kapasitas anak.

Officer-in-Charge UNESCO Jakarta Hans Thulstrup memaparkan meskipun Hari Perempuan Internasional dirayakan setiap tahunnya tetapi kerja keras dan pencapaian kaum perempuan tidak selalu mendapatkan perhatian yang layak mereka terima.

Di Indonesia dan seluruh dunia, banyak perempuan yang menjadi pemimpin dan penggerak berbagai kegiatan budaya yang menghasilkan banyak invasi dan pencapaian. “Saat ini, sektor tenun tradisional ini bertahan berkat generasi perempuan muda Indonesia yang dinamis, yang memadukan kreativitas artistik dengan keterampilan bisnis,” paparnya.

Country Head of Corporate Affairs Citi Indonesia, Puni A. Anjungsari, menyatakan program Kita Muda Kreatif merupakan sebuah program yang didedikasikan untuk Indonesia dan salah satu keistimewaan program ini adalah mengangkat prinsip keberagaman.

“Apresiasi yang setinggi-tingginya kepada para wirausaha muda kreatif dengan mengangkat para pengrajin penenun perempuan atas upayanya dalam melestarikan budaya bangsa dan tetap tangguh dalam masa sulit ini terutama untuk sektor pariwisata,” tuturnya.