Pelaku Pariwisata di Pegunungan Menoreh Didorong Terapkan Adaptasi Kebiasaan Baru

Kepala Disparpora Kabupaten Magelang, Ahmad Husein memberikan materi dalam Pelatihan dan Pendampingan Pelaku Pariwisata Sebagai Bentuk Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) Destinasi Pariwisata di Kedai Susu Etawa Kang Im Desa Ngargoretno Kabupaten Magelang, Senin (22/3/2021). - Harian Jogja/Nina Atmasari
22 Maret 2021 16:57 WIB Nina Atmasari News Share :

Harianjogja.com, MAGELANG – Badan Otorita Borobudur (BOB) berharap adanya adaptasi kebiasaan baru (AKB) di masa pandemi Covid-19 dapat memulihkan pariwisata. Apalagi, saat ini BOB sedang mengembangkan proyek Borobudur Highland di Pegunungan Menoreh yang merupakan pengembangan pariwisata terpadu berbasis resort.

“Adanya masa AKB ini diharapkan dapat mulai memulihkan perekonomian melalui kunjungan wisatawan dengan mulai dibukanya daya tarik wisata dengan tetap menerapkan protokol kesehatan,” kata Direktur Industri dan Kelembagaan BOB, Bisma Jatmika, di sela kegiatan Pelatihan dan Pendampingan Pelaku Pariwisata Sebagai Bentuk Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) Destinasi Pariwisata di Kedai Susu Etawa Kang Im Desa Ngargoretno, Salaman, Kabupaten Magelang, Senin (22/3/2021).

Sebanyak 20 orang menjadi sasaran kegiatan yang akan berlangsung tujuh hari ke depan. Mereka merupakan pelaku wisata dan anggota Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) di kawasan Pegunungan Menoreh.

Baca juga: Jaga Sumber Daya Air, Sleman Punya Banyak Aturan

Pelatihan diawali dengan sosialisasi terkait kebijakan pemerintah daerah tentang pengelolaan daya tarik wisata pada masa AKB. Pelaku pariwisata kemudian diberi materi tentang penerapan CHSE (Cleanliness, Health, and Environmental Sustainability). Adapun aktivitas pelatihan dan pendampingan dilakukan melalui pembekalan materi terkait visitor management yang meliputi carrying capacity dan alur wisatawan, pemetaan zonasi kunjungan wisatawan, traffic management, hingga simulasi kunjungan wisatawan oleh pengelola destinasi wisata.

Bisma menjelaskan sesuai dengan Perpres 46/2017, BOB ditugaskan untuk mengembangkan pariwisata terpadu berbasis resort. Terdapat lahan seluas 309 hektare di Perbukitan Menoreh dengan akses masuk melalui Kabupaten Purworejo dan Kulonprogo. Kawasan ini nantinya akan menciptakan sekitar 1.050 kamar atau seperempatnya dari Nusadua Bali. Estimasi tamu yang akan menginap sekitar 500.000 per tahun.

“Jumlah kamar sebanyak ini ditarget terpenuhi pada 8-10 tahun ke depan. Waktu ini sangat singkat, sehingga mulai dari sekarang sudah disiapkan pendukungnya. Terutama dari desa-desa sekitar yang akan menjadi penopang ke depan. Maka, perlu basis komunitas yang mendukung ini,” paparnya.

Kawasan yang akan dikembangkan meliputi tujuh titik di sekitar Borobudur Highland. Nantinya, BOB akan menggandeng desa wisata untuk terlibat sebagai destinasi pendukung hingga suplai kebutuhan resort.

Baca juga: Bagaimana Kelanjutan Proyek Fasilitasi UMKM di Hotel Mutiara dan Eks Bioskop Indra?

Kepala Disparpora Kabupaten Magelang, Ahmad Husein yang hadir dan ikut memberikan materi dalam kegiatan tersebut mengatakan pihaknya menyambut baik program nasional yang dilaksanakan lewat BOB tersebut. Selama ini, menurutnya Pemkab Magelang terus melakukan penguatan desa wisata.

Ia memperkirakan terdapat beberapa kebutuhan yang diperlukan oleh wisatawan yang nantinya dapat ditopang oleh UMKM yang ada di desa wisata setempat.  “Semua desa wisata sudah merespon baik. Namun, perlu diingat jangan sampai ada kesenjangan antara program nasional dan Pemda. Ada beberapa kebutuhan wisatawan bisa ditopang UMKM di desa wisata. Kita tidak hanya jadi penonton, tapi juga pemain atau subjek,” ungkapnya.