Advertisement
Menkes Tegaskan Indonesia Tidak Perlu Bangun RS Baru untuk Tangani Covid-19
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin - Youtube Sekretariat Presiden
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut Indonesia punya kapasitas rumah sakit yang besar, ada sekitar 70.000 tempat tidur. Pada masa pandemi, seharusnya kapasitas tersebut cukup untuk menampung pasien Covid-19 jika yang kesakitannya parah dan harus masuk rumah sakit sampai 20 persen dari kasus aktif.
“Sementara di badan layanan umum rumah sakit [BLU RS], pada saat saya masuk bed occupancy rate [BOR]-nya rendah tapi orang yang Covid tidak bisa masuk. Ini karena RS kurang mengalokasikan tempat tidurnya. Di Kemenkes sendiri BLU-nya 15.000, yang dialokasikan cuma 10 persen, makanya saya naikkan 30 persen,” kata Budi pada pembahasan strategi BLU dengan Kemenkeu, Jumat (19/3/2021).
Advertisement
Menkes berpesan, dalam penanganan pandemi Indonesia tak perlu keluarkan anggaran lebih lagi untuk terburu-buru membangun rumah sakit baru. Menurutnya, yang perlu dilakukan adalah bagaimana mengelola rumah sakit untuk tampung pasien Covid-19 terlebih dahulu.
“Kita akan melakukan revisi renstra, bahwa di masa krisis ini memang tepat untuk melakukan transformasi fundamental, termasuk di sektor kesehatan,” ujarnya.
Di sektor kesehatan, Budi mengungkapkan bahwa biaya kesehatan tumbuh lebih tinggi dari produk domestik bruto (PDB) dalam 20 tahun terakhir. Hal ini akan sangat membebani bagi negara untuk menanggung beban kesehatan yang terus meningkat.
Dia mengatakan, tingginya pengeluaran karena terlalu banyak yang dihabiskan pemerintah untuk mengatasi kesakitan atau kuratif, bukan preventif.
“Jangan kita fokus sembuhkan orang sakit tapi tidak fokus membentuk orang sehat,” imbuhnya.
Dia mengatakan, tantangan yang dihadapi saat ini adalah untuk melihat lansekap kesehatan seluruh Indonesia. Bagaimana pemerintah bisa mengefisienkan belanja kesehatan untuk sebesar-besarnya tetap bermanfaat pada masyarakat.
“BPJS hampir 91 persen kuratif. Ini tugasnya menyembuhkan orang sakit, bukan menciptakan orang sehat. Ini juga 90 persen masuknya ke RS, bukan ke puskesmas yang harusnya jadi tempat pencegahan dilakukan. Kuratif sangat mahal dan tidak produktif juga,” ujarnya.
Dia berharap ke depan anggaran kesehatan bisa lebih baik dan digunakan untuk menciptakan orang sehat. “Dengan mengedepankan langkah prefentif, harapannya biaya kesehatan bisa jadi lebih murah dan produktif,” paparnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- PLN Hadirkan Tambah Daya Listrik Instan untuk Hajatan dan Proyek
- KPK Duga Modus CSR Dipakai dalam Aliran Dana Wali Kota Madiun
- OTT Madiun Seret Kepala Daerah hingga Swasta, Ini Rinciannya
- Guru dan Murid di Jambi Adu Jotos, Kasus Berujung Laporan ke Polda
- Banjir Tak Halangi Ela dan Muhadi Gelar Resepsi Pernikahannya
Advertisement
Dorong Wisata Budaya Partisipatif, Wisatawan Diajak Terlibat
Advertisement
Diawali dari Langgur, Cerita Wisata Kepulauan Kei Dimulai
Advertisement
Berita Populer
- Libur Isra Miraj Dongkrak Okupansi Hotel DIY hingga 85 Persen
- Permohonan Akta Kematian Terlambat Dominasi Layanan Posbakum PN Sleman
- Libur Isra Mikraj, Tol Jogja-Solo Catat Lonjakan Lalu Lintas
- ASUS Tinggalkan Bisnis Smartphone, Fokus ke PC dan AI
- SPPG Berpeluang Jadi PPPK, DPRD DIY Minta Prioritas Guru Honorer
- Gelombang Panas Ekstrem Landa Chile, Kebakaran Hutan Tewaskan 19 Orang
- Cek Jadwal KRL Solo-Jogja Terbaru untuk 20 Januari 2026
Advertisement
Advertisement



