Darurat Karhutla Kalimantan, Udara Pontianak Masuk Level Berbahaya
Kualitas udara Pontianak mencapai AQI 328 dan masuk kategori Berbahaya akibat karhutla. Palangkaraya juga masuk kategori Tidak Sehat.
Ilustrasi. Penjual menyusun dagangan ikan di Pasar Palima Palembang, Sumsel, Sabtu (3/10/2020). /ANTARA
Harianjogja.com, JAKARTA - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong perguruan tinggi mengembangkan teknologi di bidang perikanan sehingga bisa mendongkrak produktivitas dan kualitas hasil produk, hingga menumbuhkan perusahaan rintisan (startup).
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengajak perguruan tinggi di Indonesia berpartisipasi dalam mengembangkan teknologi di bidang perikanan. Sentuhan teknologi terbukti mampu mendongkrak produktivitas dan kualitas hasil perikanan di banyak negara, termasuk Indonesia.
BACA JUGA : Ini Program Kerja Sakti Wahyu Trenggono Jadi Menteri KKP
"Sekarang orientasinya lebih ke startup, tapi jangan lupa begitu masuk digital-app, fundamental bisnis juga harus kuat. Kalau bisa ada satu kelompok mahasiswa yang berpikir soal fundamental bisnis, infrastruktur, dan kelompok lainnya di riset. Saya kira itu bisa kita tindaklanjuti," kata Trenggono dalam siaran pers, Rabu (17/3/2021).
Dia mencontohkan salah satu negara yang berhasil memanfaatkan teknologi budidaya adalah Norwegia, yang saat ini menjadi negara penghasil salmon terbesar di dunia. Indonesia sebenarnya memiliki sejumlah komoditas perikanan yang berpotensi merajai pasar dunia di antaranya lobster, udang dan juga rumput laut.
Menurutnya, budidaya untuk komoditas tersebut juga sudah berjalan. Namun, sebagian besar pembudidaya masih mengandalkan cara konvensional, sehingga kuantitas dan kualitas produk yang dihasilkan belum optimal.
BACA JUGA : Menteri KKP Sebut Permen Penggunaan Cantrang Belum
"Nah dengan teknologi, salah satunya bagaimana menghasilkan produksi udang yang level tinggi, yang panjang sekian, berat sekian. Begitu juga dengan lobster," ujarnya.
Trenggono menambahkan penggunaan teknologi juga dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas sub sektor perikanan tangkap. Salah satunya, teknologi dipakai untuk mengawasi kapal-kapal penangkap ikan yang beroperasi di WPPNRI dan area Regional Fisheries Management Organizations (RFMOs).
Teknologi dapat mendeteksi pergerakan kapal secara realtime termasuk jenis dan jumlah ikan yang ditangkap. Dengan demikian, persoalan penangkapan ikan di luar area operasi bisa dicegah.
Manfaat lain dari penerapan teknologi, lanjutnya, penyelamatan terhadap kapal penangkap ikan yang mengalami musibah di laut bisa segera dilakukan. Seperti yang sudah diterapkan pada sistem penerbangan selama ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Kualitas udara Pontianak mencapai AQI 328 dan masuk kategori Berbahaya akibat karhutla. Palangkaraya juga masuk kategori Tidak Sehat.
Harga pangan terbaru PIHPS Nasional mencatat cabai merah keriting Rp118.150 per kg. Simak daftar harga komoditas pangan lainnya.
Pilur 2027 Gunungkidul akan digelar serentak di 55 kalurahan. Pemkab mulai mengkaji kebutuhan anggaran untuk pelaksanaan pemilihan.
Final FIFA ASEAN Cup 2026 mempertemukan Indonesia vs Thailand. Simak prediksi line up, jadwal dan link live streaming pukul 20.00 WIB.
Prabowo memimpin upacara HUT ke-81 TNI di Mabes TNI. Sejumlah satuan baru akan diresmikan dan komandan satuan dikukuhkan.
Mensos Saifullah Yusuf menargetkan 50 persen penduduk Indonesia masuk sistem Perlinsos Digital hingga Desember 2026.