Kesenjangan Negara Kaya dan Miskin Kian Lebar Lantaran Vaksinasi Covid

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden. - Antara/Reuters
11 Maret 2021 16:57 WIB Reni Lestari News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Presiden Amerika Serikat Joe Biden  memesan dosis vaksin yang hampir sepenuhnya cukup untuk menyuntik seluruh penduduk dewasa Amerika Serikat sebanyak dua kali. Dia menyerukan perluasan produksi di tengah ketikdapastian akan kebutuhan domestik dan perebutan pasokan vaksin oleh sekutu.

Biden mengumumkan dia akan menggandakan pesanan AS untuk vaksin dosis tunggal Johnson & Johnson menjadi 200 juta suntikan, setelah perusahaan mencapai kesepakatan minggu lalu dengan Merck & Co. untuk meningkatkan produksi.

"Banyak yang bisa terjadi, banyak yang bisa berubah, dan kami perlu bersiap,” kata Biden di Gedung Putih, dilansir Bloomberg, Kamis (11/3/2021).

Administrasi Biden mengatakan prioritasnya adalah memvaksinasi setiap orang AS yang bersedia sebelum mengirim pasokan vaksinnya ke luar negeri. Pengumuman tersebut menunjukkan bahwa presiden mengharapkan surplus vaksin sebelum AS mulai membantu mengirim pasokan pada dunia, selain juga menyumbang miliaran dolar untuk program vaksin bagi negara-negara berpenghasilan rendah.

Pejabat administrasi membela pendekatan AS, mengatakan bahwa vaksin belum disetujui untuk anak-anak dan tidak jelas mana yang paling cocok untuk mereka. Selain itu, suntikan penguat mungkin diperlukan jika kekebalan yang diberikan vaksin tidak tahan lama atau tidak melindungi terhadap varian baru.

Seorang pejabat Biden yang meminta untuk tidak disebutkan namanya, menyebutkan, AS memiliki lebih banyak kematian akibat Covid daripada negara lain sehingga membutuhkan vaksin untuk melindungi dari kematian lebih lanjut.

Meskipun demikian, pesanan baru dosis J&J oleh Biden berisiko semakin memperburuk kesenjangan vaksin antara negara kaya dan miskin. Meksiko pekan lalu meminta AS untuk berbagi dosis dan ditolak. Uni Eropa juga telah mengajukan hal serupa.

Negara-negara yang berfokus pada imunisasi penduduknya sendiri menghadapi kenyataan pahit bahwa pandemi hanya akan berakhir ketika semua negara dapat mengatasinya. Varian virus baru menambah komplikasi kondisi pandemi saat ini.

Menurut data yang diungkap, sejauh ini UE telah mengekspor 34 juta dosis, termasuk hampir satu juta ke AS. Bahkan ketika Biden mengatakan dunia harus menunggu bantuan dari AS, dia mengakui kebutuhan itu.

"Pertama, kami akan mulai memastikan orang Amerika diurus, tetapi kami kemudian akan mencoba membantu seluruh dunia,” kata Biden.

Gedung Putih belum mengatakan apakah ada vaksin yang diproduksi AS yang telah diekspor. Sedangkan Moderna Inc. mengatakan produksi AS sepenuhnya untuk penggunaan domestik. Pfizer Inc. dan J&J telah menolak untuk mengatakan apakah mereka telah mengekspor dosis atau rencana produksi di AS.

Seorang pejabat administrasi, yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan tidak ada larangan langsung terhadap ekspor vaksin. Perusahaan-perusahaan tersebut bebas untuk mengirimkan vaksin mereka ke luar negeri, tetapi harus memenuhi persyaratan yang disebutkan dalam kontrak mereka dengan AS.

AstraZeneca Plc, yang suntikannya digunakan secara luas di Eropa tetapi belum diizinkan di AS, sudah memproduksi dosis di Negeri Paman Sam. Adapun Moderna dan Pfizer memproduksi vaksin mereka di luar negeri untuk penjualan internasional.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia