Unik! Desa di Klaten Ini Punya Puluhan Orang Kembar, Diduga Ini Penyebabnya

Sepasang warga kembar di Desa Jonggrangan, Klaten-JIBI - Solopos
22 Februari 2021 21:07 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, KLATEN– Sebuah desa di Klaten, Jawa Tengah punya keunikan karena terdapat puluhan orang kembar.

Desa Jonggrangan, Kecamatan Klaten Utara menjadi salah satu desa unik di Klaten menyusul banyaknya orang kembar di desa tersebut. Setidaknya, ada 20 pasang orang kembar di satu desa baik kembar identik maupun dampit.

Kepala Desa Jonggrangan, Klaten, Sunarno, mengatakan setidaknya ada 20 pasang atau 40 penduduk sebagai orang kembar di Jonggrangan yang tersebar di lima dukuh dari total 10 dukuh. Jumlah penduduk Jonggrangan ada 4.137 jiwa terdiri dari 2.026 laki-laki dan 2.111 perempuan.

“Rata-rata kembar identik. Ada satu yang kembar dampit [laki-laki dan perempuan]. Mayoritas juga kelahiran sini [Jonggrangan],” kata Sunarno saat ditemui wartawan di kantor Desa Jonggrangan, Senin (22/2/2021).

BACA JUGA: Sah! Cuti Bersama 2021 Dipangkas dari 7 Hari Jadi 2 Hari, Ini Rinciannya

Dukuh yang paling banyak terdapat orang kembar yakni di Dukuh Jonggrangan. Di kampung itu, ada sekitar 10 orang kembar. Soal rentang usia orang kembar, Sunarno menjelaskan saat ini orang kembar paling muda berumur tiga tahun sementara paling tua berumur sekitar 56 tahun. “Sebenarnya ini sudah lama. Tetapi, mulai booming itu pada tahun 2000-an,” urai dia.

Sunarno mengaku tak ada yang mengetahui sejak kapan ada orang kembar di desanya. Selain itu, tak ada cerita sesepuh desa tentang penyebab munculnya orang kembar di Jonggrangan. Selama ini, tak ada keterkaitan keluarga antara pasangan orang kembar satu dengan lainnya alias mereka berasal dari silsilah keluarga yang berbeda.

“Kami tidak tahu karena apa. Kalau perkiraan kami karena mbah-mbah mereka dulu memang ada yang kembar kemudian turun ke cucu. Jadi kalau menurut saya karena faktor genetik,” jelas dia.

Silsilah Keluarga
Sunarno mencontohkan seperti adiknya yang kembar identik. Setelah dirunut, silsilah keluarga dari ibunya ada yang pernah melahirkan orang kembar. Tak ada aturan khusus untuk orang kembar di desa setempat. Orang-orang kembar di Jonggrangan hidup dan tumbuh normal berbaur dengan warga lainnya.

Kerap kali ada kejadian keliru menyapa lantaran kemiripan wajah. “Akhirnya kalau ketemu dan tidak salah memanggil, biasanya hanya dipanggil kembar,” ungkap dia.

Salah satu pasangan orang kembar di Jonggrangan yakni Kris Joko Raharjo atau akrab disapa Koko dan Kris Joko Santoso atau akrab disapa Sasan. Orang kembar asal Dukuh Jonggrangan itu lahir pada 25 Desember 1980. Mereka masing-masing sudah berkeluarga dan kini tinggal terpisah. Kris Joko Santoso bekerja di SPBU sementara Kris Joko Raharjo bekerja di tempat usaha roti.

Kris Joko Raharjo menceritakan bagi orang yang sudah terbiasa, bisa membedakan antara dia dan kembarannya. “Kalau tidak biasa ketemu itu kerap keliru memanggil,” kata dia.

Sumber : Solopos.com