Peringati HPN, Wartawan Magelang Ziarah ke Makam Mantan Menteri Penerangan Boedihardjo

Wartawan Magelang menabur bunga di makam almarhum Boedihardjo di Wanurejo, Borobudur, Selasa (9/2/2021). - Harian Jogja/Nina Atmasari
09 Februari 2021 19:47 WIB Nina Atmasari News Share :

Harianjogja.com, MAGELANG- Bertepatan dengan Hari Pers Nasional 2021, Selasa (9/2/2021), belasan wartawan di Kabupaten dan Kota Magelang melakukan ziarah di makam mantan Menteri Penerangan, Boedihardjo di Dusun Tingal, Desa Wanurejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang.

Para wartawan yang tergabung dalam Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten dan Kota Magelang ini berupaya memaknai HPN dengan mengenang jasa para tokoh yang berjasa pada pers nasional.

Almarhum Boediharjo lahir di Magelang, Jawa Tengah pada 16 November 1921 dan meninggal di Jakarta 15 Maret 1997 dalam usia 75 tahun. Almarhum dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) Wanurejo Borobudur Kabupaten Magelang.

Baca juga: Peringatan HPN 2021: PWI DIY Adakan Ziarah dan Tumpengan

Sosok yang dikenang bersahaja itu memiliki peran penting dalam memperjuangkan pers dan profesionalismenya di tanah air saat menjabat sebagai Menteri Penerangan pada tahun 1968-1973 di era kepemimpinan Presiden Soeharto. Pada tahun 1968, Boediharjo bersama T. Sjahril menandatangani hasil rumusan Panitia Tujuh Dewan Pers sebagai Kode Etik Jurnalistik.

Ketua PWI Kabupaten Magelang, Yohanes Bagyo Harsono mengatakan ziarah ke makam tokoh ini merupakan agenda tahunan PWI di Magelang yang dilaksanakan setiap peringatan HPN. Dalam kegiatan ini dilakukan doa bersama dan tabur bunga ke atas makam almarhum Boedihardjo.

Bagyo juga berharap dengan kegiatan tersebut para wartawan muda khususnya yang bertugas di Magelang Kota dan Kabupaten tidak melupakan sejarah.

Baca juga: Begini 2 Skenario agar Indonesia Bebas Covid-19

“Para wartawan masa kini harus bisa mengambil inspirasi dari wartawan senior. Hal ini penting agar wartawan bisa memberitakan secara objektif dan tidak memihak kepentingan tertentu,” ujarnya.

Cucu Almarhum Boedihardjo, Muhammad Reza mengungkapkan terima kasih atas diselenggarakannya kegiatan doa bersama tersebut. "Keluarga berterima kasih karena para wartawan mendoakan leluhur kami, semoga kerjasama bisa terus terjalin," kata Reza yang juga Direktur Pondok Tingal tersebut.

Peninggalan Boedihardjo

Ia menambahkan almarhum Boediardjo sebagai anak asli Dusun Tingal - Wanurejo merupakan sosok yang juga mencintai seni dan pelestarian budaya. Pak Boed, demikian sapaan akrabnya, memiliki sebuah misi untuk mempersiapkan akomodasi yang terjangkau group - group turis lokal /mahasiswa supaya bisa memiliki waktu untuk belajar mengenai Candi Borobudur dengan lebih mendalam.

Berawal dari misi itu, pada tahun 1991, didirikan Pondok Tingal yang menyediakan kamar dormitory yang saat ini berjumlah 10 kamar, 16 Kamar Standard dan 18 kamar Family baru, serta 2 Villa yakni Villa Uti dan Villa Kakung. Sekarang, pengelolaan Pondok tingal dilanjutkan oleh anak cucu keturunannya, dan ruangan dormitory tetap dipertahankan.

"Kekuatan budaya tetap menjadi akar Pondok Tingal, dimana tidak saja sarana informasi, kamipun menyelenggarakan dengan rutin kegiatan budaya dan pelatihan kepada komunitas. Adapun yang secara rutin kami lakukan adalah kesenian tradisional wayang kulit," jelas Reza.

Pagelaran Wayang Kulit dilaksanakan rutin sebulan sekali di hari Sabtu pada minggu terakhir, di Pendopo Saraswati, Pondok Tingal Hotel. Selain itu,ada Pesta Rakyat Padang Bulan yang merupakan pertunjukan kesenian berupa tarian – tarian yang dibawakan oleh para pelaku kesenian di daerah Borobudur dan sekitarnya dan tak jarang juga dari luar kota.

Rata- rata anggota kelompok kesenian sekitar 50 orang personil. Padang Bulan dilaksanakan setiap malam minggu bertepatan atau mendekati bulan purnama. Pertunjukan ini dibuka untuk umum dan masyarakat sekitar Borobudur.

Adalagi yang tak kalah menarik, yaitu Dongeng Anak. Dongeng Anak dibagi menjadi 2 kategori, kategori untuk anak tingkat SD/MI dan kategori untuk anak TK/PAUD. Dongeng Anak menceritakan tentang budi pekerti, dongeng pewayangan dan dongeng hewan. Pendongeng adalah guru-guru yang mengajar di sekolah wilayah Borobudur. Dongeng Anak dilaksanakan setiap bulan minggu ke-3 hari Sabtu.

Saat menginap di Pondok Tingal, tidak lengkap kalau tidak mengunjungi museum wayang milik Pak Boed. Ada ratusan koleksi wayang, antara lain wayang Sasak, Bali, Jawa Timur, wayang gaya Surakarta, gaya Jogja, Kedu, Banyumasan dan Cirebonan. Ada juga wayang Golek Sunda, Wayang Magelangan, Wayang Pancasila, Wayang Kulit Budha, Wayang Serangga, Wayang Batik, Wayang Ukur, Wayang Klitik hingga Wayang Suket. Selain itu ada juga koleksi wayang dari luar negeri seperti China, Turki dan Kamboja.

"Dengan ini diharapkan juga setiap tamu yang menginap dan mampir di Pondok Tingal akan pulang dengan tambahan oleh - oleh budaya yang bisa dijadikan tambahan ilmu kepada anak cucu," tambah Reza.

Ia menambahkan saat ini sedang dilaksanakan renovasi sebagai bagian dari peremajaan Pondok Tingal. Sejumlah titik yang dibangun yakni salah satu sayap, kolam berenang privat khusus untuk tamu, musala dan segera menyusul peremajaan area makan dan lobby.

"Peremajaan ini tepat waktu dengan dimasukkannya Borobudur pada daerah percepatan ekonomi pariwisata oleh Presiden. Dan diharapkan perekonomian daerah akan bangkit tanpa merusak nilai budaya daerah," jelas Reza.