Moeldoko: Todongan Wartawan Lebih Tajam daripada Senjata

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko - Antara/Akbar Nugroho Gumay
07 Februari 2021 21:07 WIB Nyoman Ary Wahyudi News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA — Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko membuat pernyataan mengejutkan saat peringatan Hari Pers Nasional 2021 yang digelar secara virtual, Minggu (7/2/2021). Ia mengaku bahwa dirinya lebih takut jika ditodong pertanyaan oleh wartawan ketimbang ditodong senjata api.

“Tiga bulan awal saya di KSP itu jujur keringat saya cukup banyak, waktu itu saya tidak takut ditodong apalagi ditodong senjata, saya tidak takut, tetapi todongan-todongan wartawan ini lebih cepat, lebih tajam,” kata Moeldoko.

Pengalaman bertugas di pemerintahan, lanjut mantan Panglima TNI itu, memberi kesempatan lebih banyak bagi dirinya untuk belajar bersama insan pers. Apalagi, perkembangan media daring belakangan mengubah cara masyarakat memperoleh informasi.

Baca juga: Hasil Survei: Masyarakat Tak Setuju Pilkada Digelar Bareng Pilpres dan Pileg 2024

“Kadang-kadang kita ngomong bener aja itu nulisnya salah, apalagi kalau saya salah, wah itu babak belur pasti! Nah, di situ pengalaman saya yang saya akui harus banyak belajar dari wartawan,” kata dia.

Saat diskusi, dia mengakui adanya keterlambatan dalam penanganan Pandemi Covid-19 di Indonesia. Keterlambatan itu, menurut Moeldoko, disebabkan rasio tenaga kesehatan yang timpang, kelangkaan alat deteksi, dan fasilitas kesehatan yang minim.

“Mengapa penanganan pandemi belum memuaskan? Kita juga perlu memahami bahwa rasio dokter di Indonesia itu cukup timpang 1 dibanding 4 ribu. Padahal, di Amerika itu ratusan perbandingannya,” tuturnya.

Baca juga: Tak Perlu Asrama, Pelatihan Dasar CPNS Bisa Digelar lewat Daring

Selain itu, dia menggarisbawahi, adanya hambatan dalam mengakses alat kesehatan terkait deteksi Covid-19 pada awal pandemi diidentifikasi di Tanah Air. Belakangan, fasilitas kesehatan pun sulit untuk dipersiapkan menekan laju pertumbuhan pasien konfirmasi positif Covid-19.

“Persoalannya mungkin karena pandemi ini dihadapi oleh semua negara kurang lebih 200 negara. Sehingga, masing-masing negara punya kepentingan dalam negeri masing-masing,” kata dia.

Sumber : Bisnis.com