Pembenahan Kerusakan Banjir di Klaten Masih Menunggu Air Surut

Kondisi perkampungan Dukuh Mawen, Desa Pesu, Wedi, Klaten, masih kebanjiran hingga Jumat (5/2/2021) sekitar pukul 10.00 WIB. - JIBI/Taufiq Sidik Prakoso
06 Februari 2021 12:27 WIB Taufik Sidik Prakoso News Share :

Harianjogja.com, KLATEN — Hujan menyebabkan air sungai meluap, tanggul jebol, hingga banjir menggenangi permukiman di empat kecamatan Kabupaten Klaten, Kamis (4/2/2021).

Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten hingga Jumat (5/2/2021) banjir terjadi pada beberapa wilayah seperti Desa Pesu, Kecamatan Wedi.

BACA JUGA : Kota Jogja Antisipasi Banjir dan Tanah Longsor

Banjir itu lantaran tanggul Sungai Slegrengan jebol dan berdampak pada permukiman warga Dukuh Mawen, Desa Pesu. sebagian warga dukuh setempat mengungsi ke kantor desa, masjid, serta rumah kerabat atau tetangga mereka.

Di Desa Dengkeng, Kecamatan Wedi, Klaten, banjir menggenangi permukiman warga Dukuh Dengkeng Wetan dan beberapa warga sempat dievakuasi ke kantor Desa Canan.

Namun mereka hanya transit kemudian mengungsi ke rumah keluarga lain yang aman. Di Desa Jimbung, Kecamatan Kalikotes, banjir akibat luapan Sungai Ujung menggenangi permukiman dan persawahan Dukuh Jimbung Kulon.

Warga terutama kaum rentan sempat dievakuasi ke sejumlah lokasi aman. Di Kecamatan Bayat, luapan air Sungai Dengkeng menyebabkan banjir di permukiman warga Dukuh Talangwetan, RW 001. Jumlah warga terdampak mencapai 136 keluarga.

Air banjir wilayah Kecamatan Bayat, Klaten, ini sempat memasuki rumah warga setinggi 20 sentimeter hingga 40 sentimeter. Sekitar 13 jiwa sempat mengungsi di rumah saudara mereka.

BACA JUGA : Hujan Lokal Sebabkan Banjir di Sleman

Di Desa Kebon, Kecamatan Bayat, luapan air Sungai Dengkeng menggenangi permukiman warga Dukuh Sutan, RT 001/RW 002. Sebanyak empat warga yang tinggal dekat tanggul sungai sempat mengungsi ke rumah warga lain yang lokasinya lebih aman.

Di Desa Karangasem, Kecamatan Cawas, tanggul Sungai Gamping jebol dan semakin melebar serta berpotensi mengikis badan jalan poros desa menuju wilayah Desa Barepan, Cawas.

Kepala Pelaksana BPBD Klaten, Sip Anwar, mengatakan banjir pada permukiman akibat luapan air sungai dan tanggul jebol mulai surut hingga Jumat siang.

Warga yang sempat mengungsi sebagian sudah pulang ke rumah masing-masing. Ia menjelaskan dampak banjir paling parah terjadi di wilayah Desa Pesu, Kecamatan Wedi, Klaten.

Hingga Jumat siang, air sungai masih membanjiri permukiman, persawahan, hingga jalan. Sebagian warga juga masih mengungsi.

Sip Anwar mengatakan tanggul Sungai Slegrengan yang jebol hingga menyebabkan permukiman kebanjiran segera ditambal. Penanganan tanggul jebol secara gotong royong melibatkan BPBD, DPUPR, BBWSBS, pemerintah desa setempat, warga serta sukarelawan.

BACA JUGA : Banjir Setinggi Pinggang Orang Dewasa dan Rumah Longsor 

Proses penanganan untuk menutup tanggul yang jebol menunggu air sungai surut. Sip Anwar mengatakan Pemkab jauh-jauh hari sudah siap untuk mengantisipasi dampak bencana. Termasuk potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, angin kencang, serta tanah longsor.

Salah satunya dengan kesiapan anggaran untuk penanganan. “Peralatan kami sudah siap. Di BPBD juga sudah dialokasikan anggaran untuk dana siap pakai Rp1 miliar yang bisa digunakan sewaktu-waktu menangani dampak bencana,” kata Sip Anwar.

Sekretaris BPBD Klaten, Nur Tjahjono Suharto, juga mengatakan banjir yang terjadi di sejumlah kecamatan berangsur surut. Terutama yang sempat menggenangi permukiman.

Hanya, sejumlah lahan persawahan masih tergenang. “Kami berharap sukarelawan, pemerintah desa, serta masyarakat tetap waspada,” katanya.

Kabag Pembangunan Setda Klaten, Fadzar Indriawan, mengatakan penanganan tanggul Sungai Slegrengan di Desa Pesu yang jebol sesegera mungkin ditangani. Hla itu agar permukiman tak terus menerus kebanjiran.

“BBWSBS mendukung alat berat, beronjong, dan karung pasir. sedangkan batu disediakan dari desa. Masalahnya tanah, di sekitar sini sulit mendatangkan tanah atau pasir. Kami sampaikan ke pemkab bisa membantu pengadaan tanah atau pasir. Untuk penanganan yang jelas secepatnya,” kata Fadzar.

Sumber : JIBI/Solopos