Di Jepang, Sekitar 200 Orang Meninggal Dunia saat Karantina Mandiri

Deretan properti di Tokyo, Jepang./Bloomberg - Akio Kon
26 Januari 2021 03:27 WIB Rezha Hadyan News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Sekitar 200 orang yang terpapar Covid-19 meninggal dunia ketika menjalani karantina mandiri di rumah dan tempat lain di penjuru Jepang, setelah kondisi mereka memburuk tiba-tiba.

Mengutip Perusahaan Penyiaran Jepang (Nippon Hoso Kyokai/NHK), Badan Polisi Nasional menyebutkan setidaknya 197 kasus kematian seperti itu terkonfirmasi mulai Maret tahun lalu hingga Januari 2021.

Badan itu memastikan 75 kasus kematian seperti itu dalam sekitar tiga pekan mulai 1 hingga 20 Januari. Jumlah itu melampaui 56 kematian yang terkonfirmasi pada Desember.

BACA JUGA : Rapid Antigen Positif, Wabup Bantul Isolasi Mandiri di RSUD

Badan itu menyebutkan dalam sebagian besar kasus infeksi terkonfirmasi setelah orang itu meninggal. Para pasien itu biasanya tidak ditangani dengan cepat di institusi medis meski sakit parah.

Sejumlah pemerintah daerah melakukan langkah-langkah untuk mendeteksi tanda-tanda dari kemungkinan memburuknya kondisi orang-orang yang menjalani karantina mandiri.

Pemerintah daerah itu telah mengirimkan perawat-perawat untuk mengecek pasien di rumah atau mendirikan saluran siaga ke dokter atau perawat sepanjang waktu.

Sebelumnya dilaporkan bahwa sebanyak 122 orang yang terinfeksi virus korona meninggal dunia di rumah dan tempat lainnya di seluruh Jepang setelah kondisinya memburuk.

BACA JUGA : 700 OTG Corona di Sleman Isolasi Mandiri 

Informasi tersebut diumumkan oleh Perusahaan Penyiaran Jepang (Nippon Hoso Kyokai/NHK) pada Rabu (6/1/2021). Adapun, sebelumnya, Badan Kepolisian Nasional Jepang mencatat 56 kasus kematian pada Desember 2020 dengan 50 di antaranya meninggal saat menjalani karantina di rumah atau tempat-tempat yang disediakan bagi orang yang mengalami gejala ringan.

Badan itu juga menyebutkan bahwa dalam beberapa kasus, orang-orang merasakan sakit tetapi tidak bisa mendapatkan perawatan tepat waktu dan mereka baru dipastikan terinfeksi setelah meninggal dunia.

Presiden Asosiasi Penyakit Menular Jepang Tateda Kazuhiro mengatakan pasien yang tampaknya hanya mengalami gejala minor dapat tiba-tiba menderita sakit serius. Oleh karena itu, dia menyerukan satu kerangka kerja untuk memeriksa orang yang terinfeksi secara rutin dan mengirim mereka ke institusi-institusi medis untuk mendapatkan perawatan apabila kondisinya mendadak berubah.

Sumber : NHK