Jumlah Penumpang Pesawat di Dunia Anjlok 60 Persen Selama 2020

Boeing 737-8. - Boeing
19 Januari 2021 11:37 WIB Rezha Hadyan News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (International Civil Aviation Organization/ICAO) menyatakan jumlah penumpang pesawat anjlok pada tahun lalu seiring dengan pandemi virus corona menghentikan perjalanan global.

Melansir Perusahaan Penyiaran Jepang (Nippon Hoso Kyokai/NHK) pada Selasa (19/1/2021), ICAO menyebut terjadi total penumpang domestik dan internasional mencapai 1,8 miliar pada 2020. Jumlah itu turun dari 60 persen atau 4,5 miliar penumpang dibandingkan dengan tahun sebelumnya atau 2019.

BACA JUGA : Jumlah Penumpang Pesawat di DIY Turun hingga -15% 

Penyebaran virus corona menyebabkan pemerintah di seluruh dunia membatasi perjalanan internasional dan mendesak warga negaranya untuk tinggal di rumah saja. Langkah-langkah ini menurunkan lalu lintas udara domestik 50 persen dan internasional hingga 74 persen.

ICAO menyebutkan penurunan pendapatan maskapai global mencapai US$370 miliar dan itu mengancam jutaan pekerjaan di seluruh dunia.

Selain itu, selama setahun penuh hingga 31 Desember 2020, ICAO menemukan 51 persen lebih sedikit kursi penumpang yang ditawarkan oleh maskapai dibandingkan tahun 2019. Secara keseluruhan, ICAO memperkirakan maskapai penerbangan di seluruh dunia kehilangan pendapatan usaha kotor sebesar US$391 miliar.

BACA JUGA : 2020, Jumlah Penumpang Pesawat di AP I 'Terjun Bebas

Analisis ICAO menegaskan apa yang sudah banyak dari kita ketahui. Tahun 2020 dimulai dengan catatan optimis untuk sebagian besar maskapai penerbangan. Tetapi dengan waktu hanya dua bulan, virus telah membuat industri penerbangan terhenti.

Pada akhir Maret 2020, maskapai penerbangan melarang penerbangannya, dan dalam beberapa kasus, menangguhkan 100 persen atau seluruh penerbangannya.

April 2020 adalah titik nadir bagi industri penerbangan. Lalu lintas turun 92 persen dibandingkan periode yang sama pada 2019. Rebound berumur pendek dan sporadis karena masing-masing negara berjuang melawan gelombang Covid-19 berikutnya dengan berbagai metode dan tingkat keberhasilan yang berbeda-beda.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia