Saat Negara Lain Kesulitan karena Covid-19, China Cetak Rekor Surplus Perdagangan

Foto udara kbongkar muat kontainer di Pelabuhan Yangshan Deepwater, Shanghai, China, Senin (23/3/2020). - Bloomberg/Qilai Shen\\n
14 Januari 2021 18:37 WIB Reni Lestari News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Ekspor China terus meningkat sangat kuat pada Desember tahun lalu dan mendorong surplus perdagangan ke rekor tertinggi dan membantu mendukung pemulihan ekonomi.

Badan Bea Cukai China mengatakan ekspor tumbuh 18,1 persen pada Desember dari tahun sebelumnya, sementara impor naik 6,5 persen. Angka itu menjadikan surplus perdagangan sebesar US$78,17 miliar atau sekitar Rp1.094 triliun (kurs Rp14.000/dolar AS) untuk bulan tersebut, lebih tinggi dari perkiraan median US$72 miliar dalam survei Bloomberg terhadap para ekonom.

Selama setahun penuh, surplus perdagangan mencapai US$535 miliar, meningkat 27% persen dari 2019 dan tertinggi sejak 2015.

Ekspor melonjak tahun lalu karena virus Corona dan penguncian berikutnya memicu permintaan luar negeri untuk alat pelindung diri dan perangkat elektronik rumah tangga. Dengan pandemi yang sebagian besar terkendali di dalam negeri, pabrik-pabrik dapat melanjutkan produksi lebih awal daripada kebanyakan tempat lain, memungkinkan China untuk memenuhi permintaan global yang meningkat.

Pengiriman pada Desember berkurang dari peningkatan sebesar 21,1 persen pada November, tetapi masih tetap kuat karena ekonomi global terus pulih.

Penguncian baru di Eropa, Amerika Serikat, dan tempat lain dapat terus memacu permintaan untuk barang-barang konsumen buatan China, meskipun hal itu akan membebani pemulihan global.

China juga sedang memerangi gelombang baru kasus virus, dengan pembatasan untuk menahan infeksi di beberapa daerah yang telah menyebabkan gangguan pada aktivitas bisnis.

Li Kuiwen, seorang pejabat di Administrasi Umum Kepabeanan China, mengatakan surplus perdagangan mungkin terus tumbuh tahun ini, didukung oleh pemulihan yang diharapkan dalam ekonomi global dan pertumbuhan domestik yang stabil.

Jian Chang, kepala ekonom China di Barclays Plc, mengatakan data tersebut sejalan dengan angka regional yang kuat di tempat lain, seperti di Korea Selatan dan Vietnam. Biaya pengiriman juga melonjak karena kekurangan peti kemas jelang liburan Tahun Baru Imlek.

"Pemulihan eksternal terus berlanjut. Produsen China telah secara fleksibel menyesuaikan jalur produksi mereka untuk memproduksi barang guna memenuhi permintaan di era pandemi yang baru,” kata Chang, dilansir Bloomberg, Kamis (14/1/2021).

Dia mengatakan baik barang terkait dan tidak terkait pandemi tumbuh dengan kuat.

Sementara itu, David Qu, Ekonom Bloomberg mengatakan permintaan eksternal mendorong pemulihan ekonomi China, dan ini kemungkinan akan berlanjut dalam beberapa bulan mendatang. Ekspor akan melonjak pada kuartal pertama, sebagian karena permintaan AS yang lebih kuat didorong paket bantuan ekonomi.

Chang menambahkan bahwa data tersebut mungkin tidak akan menggeser bank sentral dari sikapnya yang secara bertahap menarik stimulus moneter, tanpa perubahan tajam dalam kebijakan. Dia mengatakan tidak mungkin ada penurunan atau kenaikan suku bunga tahun ini.

Adapun ekspor China ke AS melonjak 34,5 persen pada Desember dari tahun sebelumnya, sementara impor barang-barang AS naik 47,7 persen, terbesar sejak Januari 2013.

Untuk setahun penuh, surplus perdagangan dengan AS adalah US$316,9 miliar, 7 persen lebih tinggi dari 2019. Sedangkan Asean Blok masih menjadi mitra dagang utama China, diikuti oleh Uni Eropa dan AS.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia