Target Pendanaan Iklim 45 Persen Dihapus, Transisi Hijau Terancam
Bank Dunia menghapus target pembiayaan iklim 45 persen setelah tekanan AS. Negara berkembang khawatir pendanaan transisi hijau dan adaptasi iklim melemah.
Pekerja menyortir kedelai yang baru tiba di gudang penyimpanan di Kawasan Kebayoran Lama, Jakarta, Rabu (19/2/2020)./JIBI-Bisnis.com-Eusebio Chrysnamurti
Harianjogja.com, JAKARTA – Kementerian Perdagangan memperkirakan harga kedelai global masih bertahan di level tinggi sampai Mei 2021 karena ketatnya pasokan dari negara produsen dan naiknya permintaan.
Harga diproyeksi mulai turun pada Juni seiring membaiknya produksi di negara-negara Amerika Selatan.
“Kami baru melihat hasil pertanian 2021 ini dinyatakan baik dan Brasil akan kembali produksi mungkin lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Jadi kami lihat harga akan menguat terus sampai Mei 2021. Juni mungkin sudah mulai membaik,” kata Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (11/1/2021).
Lutfi menjelaskan cuaca basah yang menyebabkan fenomena La Nina di Amerika Selatan telah mengakibatkan produksi di Brasil dan Argentina terganggu pada akhir tahun. Selain itu, aksi mogok pekerja di Argentina turut menyebabkan gangguan logistik pada pengapalan.
Di samping itu, Amerika Serikat selaku produsen utama lainnya justru menerima lonjakan permintaan kedelai dari China seiring membaiknya peternakan babi di Negeri Panda usai sempat terganggu akibat fenomena demam babi Afrika (ASF). Permintaan kedelai China yang biasanya di kisaran 15 juta ton kini mencapai 28 juta ton dalam setahun.
Meski pasokan dan permintaan kedelai masih akan ketat sampai 4 bulan ke depan, Lutfi memastikan pasokan kedelai ke Tanah Air tetap akan aman meski harga tinggi tidak bisa dihindari.
Dia menyebutkan selama harga kedelai saat tiba di Tanah Air berada di atas Rp8.000 per kilogram (landed cost), Kementerian Perdagangan akan menjadi penengah dari sisi importir sampai ke pasar demi memastikan harga jual berada di level wajar.
“Kementerian Perdagangan akan membantu mereka untuk memberikan estimasi harga wajar tahu dan tempe. Misal pada hari ini, harga wajar adalah Rp15.000 per kilogram. Jika pada kemudian hari harga akan naik kami akan mengumumkan pada pasar berapa harga yang wajar untuk tahu dan tempe,” papar Lutfi.
Harga kedelai di gudang importir untuk saat ini berkisar di level Rp8.500 per kilogram yang diikuti dengan harga di perajin di level Rp8.800 sampai Rp8.900 per kilogram. Sementara itu, harga tempe diketahui mencapai Rp15.000 per kilogram menyesuaikan naiknya biaya produksi.
Lutfi mengatakan kenaikan harga di konsumen idealnya mengikuti pergerakan harga di tingkat perajin. Tetapi, jika harga kedelai impor telah bergerak di bawah Rp8.000 per kilogram, dia mengharapkan mekanisme pasar dapat membentuk keseimbangan harga baru mengingat tata niaga komoditas ini tidak diatur oleh Kementerian Perdagangan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Spider-Noir Nicolas Cage resmi dibatalkan setelah satu musim. Serial ini justru meraih 11 nominasi Emmy dan skor tinggi di Rotten Tomatoes.
Port USB-C HP rusak? Kenali penyebab, cara mengecek, biaya perbaikan, hingga kapan komponen tersebut perlu diganti agar tidak salah mengambil keputusan.
DPRD Bantul mendorong pelajar bijak bermedia sosial sekaligus produktif di ruang digital. Program kecakapan digital menyasar hampir 20 sekolah.
Riset World Giving Report 2026 mengungkap Rumania menjadi salah satu negara paling dermawan di Uni Eropa. Simak temuan CAF soal donasi masyarakat Eropa.
Budaya lokal dinilai bisa menjadi pembeda kuat di tengah tren wisata dan pengalaman yang semakin seragam. Namun, agar mampu menarik perhatian generasi saat ini,