Kemendag Prediksi Harga Kedelai Terus Naik Sampai Mei

Pekerja menyortir kedelai yang baru tiba di gudang penyimpanan di Kawasan Kebayoran Lama, Jakarta, Rabu (19/2/2020). - JIBI/Bisnis.com/Eusebio Chrysnamurti
11 Januari 2021 16:07 WIB Iim Fathimah Timorria News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Kementerian Perdagangan memperkirakan harga kedelai global masih bertahan di level tinggi sampai Mei 2021 karena ketatnya pasokan dari negara produsen dan naiknya permintaan.

Harga diproyeksi mulai turun pada Juni seiring membaiknya produksi di negara-negara Amerika Selatan.

“Kami baru melihat hasil pertanian 2021 ini dinyatakan baik dan Brasil akan kembali produksi mungkin lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Jadi kami lihat harga akan menguat terus sampai Mei 2021. Juni mungkin sudah mulai membaik,” kata Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (11/1/2021).

Lutfi menjelaskan cuaca basah yang menyebabkan fenomena La Nina di Amerika Selatan telah mengakibatkan produksi di Brasil dan Argentina terganggu pada akhir tahun. Selain itu, aksi mogok pekerja di Argentina turut menyebabkan gangguan logistik pada pengapalan.

Di samping itu, Amerika Serikat selaku produsen utama lainnya justru menerima lonjakan permintaan kedelai dari China seiring membaiknya peternakan babi di Negeri Panda usai sempat terganggu akibat fenomena demam babi Afrika (ASF). Permintaan kedelai China yang biasanya di kisaran 15 juta ton kini mencapai 28 juta ton dalam setahun.

Meski pasokan dan permintaan kedelai masih akan ketat sampai 4 bulan ke depan, Lutfi memastikan pasokan kedelai ke Tanah Air tetap akan aman meski harga tinggi tidak bisa dihindari.

Dia menyebutkan selama harga kedelai saat tiba di Tanah Air berada di atas Rp8.000 per kilogram (landed cost), Kementerian Perdagangan akan menjadi penengah dari sisi importir sampai ke pasar demi memastikan harga jual berada di level wajar.

“Kementerian Perdagangan akan membantu mereka untuk memberikan estimasi harga wajar tahu dan tempe. Misal pada hari ini, harga wajar adalah Rp15.000 per kilogram. Jika pada kemudian hari harga akan naik kami akan mengumumkan pada pasar berapa harga yang wajar untuk tahu dan tempe,” papar Lutfi.

Harga kedelai di gudang importir untuk saat ini berkisar di level Rp8.500 per kilogram yang diikuti dengan harga di perajin di level Rp8.800 sampai Rp8.900 per kilogram. Sementara itu, harga tempe diketahui mencapai Rp15.000 per kilogram menyesuaikan naiknya biaya produksi.

Lutfi mengatakan kenaikan harga di konsumen idealnya mengikuti pergerakan harga di tingkat perajin. Tetapi, jika harga kedelai impor telah bergerak di bawah Rp8.000 per kilogram, dia mengharapkan mekanisme pasar dapat membentuk keseimbangan harga baru mengingat tata niaga komoditas ini tidak diatur oleh Kementerian Perdagangan.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia