Advertisement
China Perintahkan Media Batasi Pemberitaan Soal Alibaba & Jack Ma
Presiden Grup Bank Dunia Jim Yong Kim (kiri) bersama Pendiri Alibaba Jack Ma menjadi pembicara di sela-sela Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018 di Bali Nusa Dua Convention Center, Nusa Dua, Bali, Jumat (12/10/2018). - ANTARA/M Agung Rajasa
Advertisement
Harianjogja.com, BEIJING — China memerintahkan media setempat membatasi pemberitaan tentang penyelidikan antitrust terhadap Alibaba Group Holding karena spekulasi tentang masa depan salah satu perusahaan terbesar di negara itu meningkat.
Arahan pemerintah menjelang akhir tahun lalu memerintahkan media lokal untuk secara tegas menyuarakan penyelidikan terhadap raksasa teknologi itu dan melarang mereka terlibat dalam pelaporan asli dan memperpanjang analisis atau menarik kesimpulan mereka sendiri tanpa izin, kata orang-orang yang meminta untuk tidak disebutkan namanya.
Advertisement
Menurut www.straitstimes.com, Sabtu (9/1/2021) mengutip dari Bloomberg, pembatasan pemberitaan juga berlaku untuk Jack Ma, pendiri Alibaba, kata sumber-sumber tersebut.
Otoritas Beijing secara teratur mengeluarkan arahan dan pedoman propaganda kepada media domestik untuk memajukan tujuan kebijakan pemerintah.
Kerajaan Jack Ma telah menjadi target paling menonjol dari kampanye China melawan industri teknologi, yang sejauh ini telah merusak penawaran umum perdana afiliasi Ant Group senilai US$35 miliar dan menyebabkan penyelidikan antitrust terhadap bisnis dagang-el miliknya.
Ma, yang tidak terlihat di depan umum selama berbulan-bulan, telah dinasihati oleh pemerintah untuk tinggal di negara itu, kata seseorang yang mengetahui masalah tersebut kepada Bloomberg News.
Beberapa blog online yang berspekulasi tentang keberadaannya telah disensor, kata FT.
"Itu karena pemerintah tidak ingin melihat dua hal: satu adalah orang-orang mempertanyakan intervensi yang melampaui batas, yang lain adalah orang-orang yang mengecam sektor swasta dan mengecilkan mesin ekonomi China," kata Fang Kecheng, profesor komunikasi di Universitas China dari Hong Kong.
Di satu perusahaan media, pembatasan diberlakukan pada media berbahasa Mandarin, tetapi tidak untuk jurnalis berbahasa Inggris, kata sumber lainnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Darurat Kecelakaan di Sleman, Layanan PSC 119 Tangani 1.228 Kasus
Advertisement
Pesawat Terbakar Saat Lepas Landas, 232 Penumpang Dievakuasi
Advertisement
Berita Populer
- Daftar Mobil Listrik 500 Km+ di Indonesia, Termurah Rp380 Juta
- Tantangan Sekolah Rakyat Teratasi, Pembelajaran Dinilai Makin Stabil
- Akademisi UGM: Program Magang Nasional Bantu Tekan Pengangguran
- Viral Balik Nama Tanah Warisan Kena Pajak? DJP Tegaskan Tak Ada PPh
- Perlintasan KA di Jogja Rawan, Aulia Reza Dorong Keselamatan Kolektif
- Sam Altman Minta Maaf, Kasus Penembakan Kanada Seret OpenAI
- Eks Pekerja Sritex Desak Pemerintah Ambil Alih Pabrik Jadi BUMN
Advertisement
Advertisement







