Bukan Batuk & Pilek, Ini Gejala Covid-19 Paling Umum pada Anak-Anak

Siswa Sekolah Dasar didampingi orang tua melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dengan sistem daring pada hari pertama tahun ajaran baru 2020-2021 di Palembang, Sumatera Selatan, Senin (13/7/2020). ANTARA FOTO - Feny Selly
06 Januari 2021 15:47 WIB Muhammad Khadafi News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA--Dari ribuan anak yang dites Covid-19, banyak yang merasakan gejala sakit perut, kehilangan rasa atau bau, demam serta sakit kepala. Namun berdasarkan catatan peneliti, sepertiga dari anak-anak dan remaja dengan virus Corona ternyata tidak menunjukkan gejala.

Mengutip situs artikel kesehatan Amerika Serikat WebMD, peneliti temuan tersebut Finlay McAlister mengatakan bahwa mengidentifikasi anak-anak yang kemungkinan terinfeksi virus Corona adalah sebuah tantangan. Rasio anak positif Covid-19 bisa jadi lebih tinggi dari hasil penelitian, karena banyak yang tidak hadir saat pengambilan spesimen. 

Dia melanjutkan bahwa batuk dan pilek sering terjadi di antara anak-anak yang positif Covid-19. Namun permasalahannya adalah batuk dan pilek juga sering ditemukan pada anak-anak yang tidak terinfeksi virus Corona. 

"Banyak gejala serupa influenza lainnya seperti batuk, pilek, dan sakit tenggorokan yang sama, atau lebih umum, pada anak-anak yang dites negatif untuk SARS-CoV-2," tulis para peneliti dalam CMAJ (Jurnal Asosiasi Medis Kanada) edisi 24 November.

Penemuan ini menunjukkan bahwa kuesioner untuk penyaringan awal di sekolah atau tempat penitipan anak perlu merevisi pertanyaan. Lazimnya batuk dan pilek menjadi pertanyaan utama.

Adapun peneliti melakukan tes PCR kepada 2.400 anak di provinsi Alberta, Kanada, antara 13 April 2020 hingga 30 September 2020. Hasilnya, kehilangan bau atau rasa adalah gejala paling umum anak yang positif Covid-19.

Kemudian sakit perut lima kali lebih tinggi dan sakit kepala dua kali lebih tinggi. Para peneliti juga menemukan demam 68 persen lebih mungkin terjadi pada anak-anak dengan hasil tes positif.

Pada anak-anak, kombinasi kehilangan penciuman atau rasa dengan sakit kepala serta sakit perut, menghasilkan kemungkinan positif Covid-19 65 kali lebih tinggi dibandingkan dengan anak-anak dan remaja tanpa gejala-gejala tersebut.

“Mengingat tingginya proporsi anak-anak dengan SARS-CoV-2 yang tetap tanpa gejala, tidak mungkin strategi penyaringan gejala apa pun akan mencegah setiap anak dengan infeksi SARS-CoV-2 untuk memasuki sekolah,” kata dokter spesialis penyakit anak kata Nisha Thampi di Rumah Sakit Anak Ontario Timur.

Oleh karena hal paling penting adalah menjaga protokol kesehatan, seperti menjaga jarak fisik, menjaga kebersihan tangan, dan menggunakan masker. Selain itu menambah ventilasi dalam ruangan juga menjadi kunci untuk mencegah penyebaran virus. 

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia