Simak Perbedaan Vaksin Covid-19 Buatan Oxford, Pfizer dan Moderna

Ilustrasi vaksin Covid-19. - Antara
25 November 2020 18:47 WIB Syaiful Millah News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Pengembang vaksin Covid-19, AstraZeneca dan University of Oxford belum lama ini mengumumkan hasil awal uji klinis akhir yang telah dilakukan. Hasilnya positif bahwa vaksin mereka dilaporkan efektif.

Akan tetapi, AstraZeneca dan Oxford seolah mendapat tekanan karena hasil uji klinis akhir dari Pfizer dan Moderna yang lebih dahulu keluar memiliki tingkat keberhasilan yang lebih tinggi. Kini, para ilmuwan akan meneliti hasil awal dengan cermat.

Dilansir dari Bloomberg, Rabu (25/11) berikut ini adalah hal-hal yang telah diketahui terkait dengan pengembangan vaksin Covid-19 terdepan yang dilakukan oleh para pengembang.

Bagaimana hasil vaksin AstraZeneca-Oxford dibandingkan Pfizer dan Moderna?

Vaksin Astra-Oxford rata-rata mencegah 70 persen kasus dalam uji coba besar di Inggris dan Brasil. Hasil tersebut menggabungkan data data dari dua regimen dosis yang berbeda, yang meninggalkan pertanyaan tentang cara terbaik untuk memberikan vaksin. Satu rejimen menunjukkan kemanjuran hingga 90 persen, sementara yang lainnya menunjukkan keberhasilan 62 persen.

Angka-angka tersebut tidak mampu memenuhi standar tertinggi yang ditetapkan oleh Pfizer-BioNTech yang mengungkap temuan bahwa vaksin mereka 95 persen efektif. Hasil serupa juga diumumkan oleh Moderna, yang menunjukkan posisi sama kuatnya dalam tingkat efektivitas.

AstraZeneca mengatakan tengah bersiap untuk mengajukan datanya ke regulator di seluruh dunia yang memiliki kerangka kerja untuk persetujuan bersyarat, termasuk mendaftar untuk penggunaan darurat dari World Health Organization.

Sementara itu, Pfizer telah meminta izin penggunaan darurat di Amerika Serikat pada 20 November dan pada pekan lalu Moderna mengatakan pihaknya akan meminta persetujuan dari regulator dalam beberapa minggu mendatang.

Apa perbedaan vaksin AstraZeneca dengan Pfizer dan Moderna?

Vaksin dari AstraZeneca dan Oxford menggunakan virus yang tidak berbahaya untuk membawa beberapa materi genetik patogen ke dalam sel, untuk menghasilkan tanggapan kekebalan. Ini menggunakan vektor virus dari virus flu yang dilemahkan.

Sementara itu, vaksin yang dikembangkan Pfizer dan Moderna menggunakan teknologi mRNA. Saat disuntikkan, mRNA menginstruksikan sel untuk membuat protein lonjakan SARS-CoV-2, yang biasanya digunakan untuk menyerang sel.

Perbedaan lainnya, platform rantai dingin yang digunakan. Untuk pfizer, vaksin harus disimpan dalam suhu minus 70 derajat celcius, sedangkan untuk moderna minus 20 derajat. Yang terendah yakni vaksin buatan Pfizer yang bisa disimpan di suhu 2-8 derajat.

Berapa harga masing-masing vaksin?

AstraZeneca mengatakan mereka akan menjual vaksin selama pandemi dengan harga antara US$ hingga US$5 dollar, tergantung pada biaya lokal.

Sementara itu, Amerika Serikat telah menyetujui untuk membayar vaksin Pfizer dengan harga US$1,95 miliar untuk 100 juta dosis vaksin, atau setara dengan US$39 untuk dua kali suntikan imunisasi.

Adapun, Moderna mengatakan bahwa perusahaan anak mengenakan biaya antara US$32 hingga US$37 untuk transaksi yang lebih kecil, dan harganya bisa lebih murah untuk pembelian dalam jumlah yang lebih besar.

Dalam hal ini, vaksin yang dikembangkan oleh Oxford-AstraZeneca memiliki keunggulan untuk didistribusikan ke berbagai negara. Vaksin tersebut dapat disimpan pada suhu lemari es yang pada umumnya telah tersedia.

Sementara itu, vaksin dari Pfizer maupun Moderna menggunakan teknologi mRNA baru, yang memerlukan peralatan pembekuan untuk penyimpanan dan pengangkutan jangka panjang, sehingga diperkirakan bakal lebih sulit didistribusikan atau berbiaya mahal.

Kapan vaksin akan tersedia?

CEO AstraZeneca mengatakan bahwa vaksinasi skala besar bisa dilakukan paling cepat pada akhir tahun ini. Sementara itu, Food and Drug Administration (FDA) diperkirakan bakal menghabiskan beberapa minggu ke depan untuk meninjau data vaksin Pfizer.

Hasil peninjauan itu diperkirakan dapat tersedia pada pertengahan hingga akhir Desember. Ini semua tergantung pada apakah hasil uji coba penuh mendukung optimisme dari temuan awal dan pengembang dapat memuaskan regulator.

Beberapa masalah utama yang belum terselesaikan adalah tentang dosis, berapa lama vaksin akan memberikan perlindungan dalam tubuh, dan seberapa mudah akses vaksin bisa didapatkan oleh masyarakat luas.

Selain itu, perihal lain yang perlu diperhatikan adalah kemungkinan vaksin untuk diberikan dan bekerja sama baiknya pad kelompok orang tua atau kelompok paling rentan lainnya. Ini masih menjadi pekerjaan rumah dari para pengembang vaksin.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia