Kembar Identik Tertua Ditemukan dari Sebuah Permakaman

Temuan kembar identik. - Live Science
13 November 2020 17:07 WIB Desyinta Nuraini News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Sekelompok peneliti berhasil mengidentifikasi kembar identik tertua di dunia. Penemuan itu berasal dari sebuah permakaman kuno di Austria.

Pada 2005, para peneliti menemukan pemakaman kembar berbentuk oval di situs arkeologi Krems-Wachtberg, di tepi Sungai Danube di pusat kota Krems. Pemakaman tersebut disinyalir berusia 31.000 tahun atau berasal dari zaman batu tua atau paleolitikum.

BACA JUGA: Tol Jogja-Bawen Telan Biaya Rp14 Triliun, Ada Terowongan di Temanggung

Di sana terdapat sisa-sisa bayi kembar ditutupi dengan oker, pigmen merah yang sering digunakan di pemakaman kuno di seluruh dunia. Penguburan ganda itu juga berisi 53 manik-manik yang terbuat dari gading mammoth yang kemungkinan pernah diikat pada kalung, dan gigi seri rubah berlubang dan tiga moluska berlubang, yang mungkin merupakan liontin kalung. Sebuah tulang belikat raksasa yang ditempatkan di atas pemakaman melindungi tubuh-tubuh kecil yang dikuburkan di bawahnya selama ribuan tahun.

Menurut analisis para peneliti, bayi pertama meninggal tak lama setelah dilahirkan, sementara saudara kembarnya hidup sekitar 50 hari, atau lebih dari 7 minggu. Tak jauh dari makam si kembar, peneliti menemukan makam bayi ketiga berusia 3 bulan, kemungkinan besar adalah sepupu mereka. Di makam itu terdapat oker, serta pin mammoth-ivory sepanjang 3 inci (8 sentimeter), yang mungkin telah mengikat pakaian kulit pada saat dikubur.

Penemuan ini menjadi berita utama tak lama setelah penemuannya, dan para peneliti bahkan membuat replika pemakaman si kembar, yang dipajang di Museum Sejarah Alam Wina pada 2013. Namun, sekelompok peneliti interdisipliner bekerja sama untuk menguraikan hubungan antara ketiga bayi ini dan untuk menentukan jenis kelamin serta usia mereka saat meninggal.

temuan bayi kembar identik

Studi tersebut menjadi yang pertama dalam catatan penggunakan DNA purba untuk mengkonfirmasi kembar dalam catatan arkeologi. Hasilnya yang didapat peneliti bukan sembarang anak kembar, tapi kembar identik.

"Ini adalah "bukti paling awal kelahiran kembar," kata peneliti senior studi Ron Pinhasi, seorang profesor di Departemen Biologi Evolusi di Universitas Wina, seperti dilansir dari Live Science, Jumat (13/11/2020).

Para peneliti tidak tahu seberapa umum kelahiran kembar selama zaman batu tua tersebut. Namun di zaman sekarang ini, anak kembar terjadi pada sekitar satu dari 85 kelahiran, sementara kembar identik lahir pada sekitar satu dalam 250 kelahiran.

"Untuk menemukan penguburan ganda dari periode Paleolitikum adalah spesialisasi tersendiri," kata pemimpin penelitian Maria Teschler-Nicola, seorang ahli biologi di Museum Sejarah Alam Wina.

Dia mengatakan fakta bahwa DNA tua yang cukup dan berkualitas tinggi dapat diekstraksi dari sisa-sisa kerangka anak yang rapuh untuk analisis genom melebihi semua harapan peneliti.

Teschler-Nicola menambahkan untuk menentukan pada usia berapa bayi meninggal, para peneliti mengamati gigi seri kedua atas setiap bayi. Tim memberikan perhatian khusus pada apa yang disebut "garis bayi baru lahir," garis gelap di enamel gigi yang memisahkan enamel yang terbentuk secara pranatal setelah lahir.

BACA JUGA: Catat Sejarah, Eks Striker Inter Bawa Makedonia Utara Lolos ke Euro 2020

Garis-garis bayi yang baru lahir itu, serta perkembangan kerangka bayi, menunjukkan bahwa si kembar adalah bayi penuh, atau hampir cukup bulan. Tampaknya kelompok pemburu-pengumpul bayi itu menguburkan kembar pertama, kemudian kuburannya dibuka kembali saat mereka menguburkan adiknya.

Temuan ini katanya mengkonfirmasi praktik budaya-sejarah pembukaan kembali kuburan untuk tujuan pemakaman, yang belum pernah didokumentasikan sebelumnya dalam pemakaman Paleolitikum.

Tim juga menganalisis unsur kimia, termasuk isotop karbon, nitrogen, dan barium di email gigi, mengungkapkan bahwa masing-masing si kembar disusui. Meskipun sepupu si kembar bertahan selama tiga bulan, "garis stres" di giginya menunjukkan bahwa dia mengalami kesulitan makan, mungkin karena ibunya menderita infeksi payudara yang menyakitkan yang dikenal sebagai mastitis, atau mungkin karena dia tidak selamat saat melahirkan.

Tidak diketahui secara pasti mengapa bayi-bayi ini meninggal, tetapi kematian kedua anak kembar ini dan sepupu mereka kemungkinan merupakan peristiwa yang menyakitkan bagi orang-orang di zaman batu tua itu, yang mendirikan kemah dan menguburkan bayi mereka di sungai Donau sejak lama.

"Bayi-bayi itu jelas sangat penting bagi kelompok dan sangat dihormati serta dihargai. Penguburan yang luar biasa tampaknya menyiratkan bahwa kematian bayi-bayi itu merupakan kerugian besar bagi komunitas dan kelangsungan hidup mereka," kata Teschler-Nicolas.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia