Pameran Asana Bina Seni, Wujud Pelestarian Ekosistem Seni di Tengah Pandemi

Karya instalasi berjudul "Memindai" kreasi Komunitas Sakatoya di salah sudut ruang pamer Taman Budaya Yogyakarta. - Harian Jogja/Hery Setiawan
12 November 2020 06:57 WIB Hery Setiawan (ST 18) News Share :

Harianjogja.com, JOGJA — Yayasan Bienalle Yogyakarta (YBY) menggelar Pameran Asana Bina Seni bertajuk Your Connection was Interrupted di Taman Budaya Yogyakarta. Pameran tersebut merupakan presentasi karya dari para peserta program kelas Asana Bina Seni Kurator, Asana Bina Seni Seniman, Asana Bina Seni Kolektif dan Seniman Panggilan Terbuka Karya Normal Baru.

“Pameran ini merupakan upaya pelestarian ekosistem seni. Seniman-seniman muda yang terlibat sangat inovatif dalam berkarya dan juga berani mengeksplorasi tentang apa yang terjadi dewasa ini. Ketika pandemi, para seniman bisa mengelaborasi, kira-kira apa sih yang muncul di era seperti ini?” ujar salah satu kurator, Eliesta Handitya, Rabu (11/11/2020), di Taman Budaya Yogyakarta.

Berkaitan dengan tema Your Connection was Interrupted, lanjut Eliesta, merupakan refleksi ihwal konektivitas dan interupsi yang terjadi saat ini. Namun, akhirnya, makna tersebut diperluas. Tak hanya keterhubungan antara manusia dan internet saja. Hubungan antara manusia antar manusia, manusia dengan ekologi, manusia dengan non-manusia serta teknologi ikut disinggung dan kemudian diterjemahkan melalui karya-karya yang dipamerkan.

Baca juga: Diprotes Banyak Kalangan, Uji Coba Pedestrian Malioboro Diubah

Jenis medium seni yang dipakai juga terbilang unik. Seni tak hanya terbatas pada selembar kanvas, sebongkah patung atau medium konvensional lain. Para seniman muda di program Asana Bina Seni 2020 berani tampil dengan medium baru. Video gim, misalnya. Beberapa karya, bahkan ada juga yang terkreasikan berkat kelihaian penggunaan lintas medium.

Program Asana Bina Seni 2020 diikuti oleh sembilan orang seniman individu dan enam seniman kolektif. Mereka memperoleh tiga kelas yakni untuk kurator, seniman dan kolektif. Kelas-kelas itu juga mengandung visi jangka panjang. Para pembicara berpengalaman pun dilibatkan untuk mengisi kelas teori dan wacana, beriringan dengan praktik keterlibatan peristiwa seni serta pemetaan lingkungan.

“Untuk menjadi seniman atau pekerja seni profesional, seperti manajer, penulis, fotografer, jurnalis, atau kritikus, kita membutuhkan satu platform bersama yang mempertemukan semuanya. Asana Bina Seni mungkin menjadi bagian dari usaha untuk mempertemukan teman-teman yang tertarik belajar lebih lanjut menjadi kurator, terutama untuk melatih untuk berjejaring dan berkolaborasi,” terang Direktur YBY, Alia Swastika.

Baca juga: Sterilkan Jalur Evakuasi Merapi, Petugas Pasang LPJU & Bidik Truk Pasir

Perempuan yang sudah malang melintang di kancah kesenian selama 15 tahun itu menganggap Asana Bina Seni 2020 memainkan peranan penting dalam mewujudkan visi YBY ihwal pendidikan kesenian dan terciptanya ekosistem seni rupa Jogja yang berkelanjutan.

Satu poin yang menarik, kata Alia, adalah kelas kolektif. Jogja mendapat sorotan lewat semangat kolektivitas yang ditunjukan. Para seniman Jogja dikatakan gemar berkumpul, mendirikan komunitas, dan berkolaborasi saat penciptaan karya. Menurut Alia, praktik itu sudah demikian mengental sejak tahun 60-an.

“Yang menarik adalah satu generasi kolektif itu bisa berhubungan dan belajar dari kolektif-kolektif sebelumnya. Ini juga soal keterhubungan sejarah dan keberlanjutan wacana,” ujarnya.

Pameran Asana Bina Seni 2020 digelar mulai Rabu, (11/11/2020) sampai (18/11/2020) di Taman Budaya Yogyakarta. Pameran dibuka untuk umum mulai pukul 10.00 hingga 17.00 WIB dan terbagi dalam tiga sesi. Demi penerapan protokol kesehatan, setiap sesinya memberlakukan kuota sebanyak 30 orang pengunjung saja.