Advertisement

Mirip India, PSBB di Indonesia Dinilai Tak Sukses Diterapkan

Maria Elena
Rabu, 11 November 2020 - 17:47 WIB
Budi Cahyana
Mirip India, PSBB di Indonesia Dinilai Tak Sukses Diterapkan Foto aerial kendaraan melintas di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Minggu (11/10/2020). Pemprov DKI Jakarta memutuskan akan mengurangi kebijakan rem darurat secara bertahap dan akan kembali memasuki Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) masa transisi yang mulai diberlakukan pada 12 - 25 Oktober 2020. ANTARA FOTO - Galih Pradipta

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA - Pemerintah Indonesia telah menerapkan dua kali Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) selama pandemi Covid-19. Penerapan PSBB tersebut bisa dibilang tidak berdampak signifikan.

Ekonom Senior Chatib Basri pun menilai kebijakan PSBB pemerintah bersifat bias, baik terhadap kelompok mayarakat menengah ke atas maupun menengah ke bawah.

Advertisement

Pasalnya, ketika PSBB diterapkan, masyarakat kelas menengah ke atas bisa tetap tinggal di rumah tanpa harus bekerja karena memiliki tabungan yang cukup. Sebaliknya, masyarakat kelas menengah ke bawah tetap harus keluar rumah dan bekerja.

"PSBB tidak akan bisa dijalankan kecuali kelas menengah ke bawah dikasih bantuan langsung tunai," katanya dalam Webinar Economic Outlook 2021: Menebak Arah Ekonomi 2021, Peluang, dan Tantangan, Rabu (11/11/2020).

Hal ini juga tercermin dari perubahan perilaku belanja dari kedua kelompok masyarakat tersebut.

Chatib menjelaskan, berdasarkan studi yang dilakukannya, konsumsi dari kelompok masyarakat kelas menengah ke atas selama pandemi ini menurun ke level 69,7 persen, dari batas normal 100 persen.

Masyarakat kelas ini cenderung menahan belanja untuk barang-barang yang tergolong tersier. Sehingga, jika dipaksa untuk tetap tinggal di rumah, kebutuhan mereka akan menurun, ini juga menjelaskan transaksi pada kartu kredit menurun.

Sementara, konsumsi masyarakat kelas menengah ke bawah tetap tinggi, sebesar 84,2 persen, dari batas normal 100 persen. Namun, barang-barang yang dibelanjakan, yaitu untuk kebutuhan sehari-hari.

Alhasil, meski masyarakat menengah ke bawah tetap berbelanja, konsumsi secara keseluruhan tetap anjlok, karena porsi konsumsi masyarakat kelas ini kecil terhadap PDB Indonesia. Berbeda dengan kelompok menengah ke atas yang memgang porsi yang besar.

Advertisement

"Itu kenapa India dan Indonesia tidak sukses PSBB. Kelas menengah ke bawah belanja, tapi purchasing power-nya lemah," jelasnya.

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement

alt

PLN Jogja Lakukan Pekerjaan Tanpa Padam

Jogja
| Sabtu, 21 Mei 2022, 00:17 WIB

Advertisement

alt

Rute ke Gumuk Pasir, Objek Wisata yang Dikunjungi Pemainnya KKN Desa Penari

Wisata
| Selasa, 17 Mei 2022, 13:37 WIB

Advertisement

Advertisement