Pejabat RI Ramai-ramai Kecam Sikap Presiden Prancis

Pelantikan Emmanuel Macron sebagai Presiden Prancis, Minggu (14/5/2017). - Istimewa
30 Oktober 2020 02:37 WIB Rayful Mudassir News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Sejumlah pejabat negara di Indonesia mengecam sikap Presiden Prancis Emmanuel Macron terkait pernyataannya yang dinilai menghina umat Islam dunia.

Macron mengeluarkan pernyataan keras menyasar agama Islam setelah seorang guru Bahasa Prancis Samuel Pary ditemukan tewas pada 16 Oktober di dekat sekolah.

Peristiwa itu terjadi setelah dia diketahui mempertontonkan gambar kartun Nabi Muhammad SAW yang diterbitkan majalah Charlie Hebdo, majalah kontroversial asal Prancis.

Setelah itu, Macron memutuskan untuk menerbitkan ulang kartun Nabi Muhammad yang makin menyulut kecaman dari sejumlah negara termasuk Indonesia.

Pertanyataan yang paling dianggap menyakiti umat muslim saat dia menyebut Islam adalah agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia.

Selain Turki, sejumlah negara lain ikut memberikan kecaman terhadap pernyataan itu, termasuk negara Timur Tengah semisal Qatar, Arab Saudi, Iran hingga Pakistan.

Indonesia juga turut menyampaikan kecaman atas komentar itu. Beberapa pejabat secara terbuka mengkritik pemimpin negara sekuler itu. Siapa saja?

1. Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi

Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi mengecam keras tindakan yang dilakukan oleh Macron dan Charlie Hebdo. Kecaman itu disampaikan melalui akun Twitter @Kemlu_RI pada 28 Oktober.

“Indonesia kecam pernyataan Presiden yang menghina agama Islam. Indonesia condemns the statements made by President Emmanuel Macron of France that insults Islam,” tulis pernyataan itu singkat.

Tak ada pernyataan tambahan dari Menlu termasuk usai pernyataan itu. Namun, Juru Bicara Menlu Teuku Faizasyah pada awal pekan ini sempat mengatakan bahwa pihaknya sempat meminta laporan komprehensif dari KBRI terkait ucapan Macron.

2. Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Mahfud MD

Mahfud MD tak tinggal diam usai agama yang dianutnya dan mayoritas dianut masyarakat Indonesia itu dihina. Melalui akun Twitternya, Mahfud juga menentang keras ucapan yang ditujukan Macron kepada Muslim dunia.

Dia meminta agar otoritas terkait memanggil Duta Besar Prancis untuk Indonesia untuk menyampaikan kritis pedas dari Indonesia. Bahkan, dia menyebut Macron mengalami krisis gagal paham.

“Panggil Dubes Prancis, RI Kecam Presiden Macron soal karikatur Nabi Muhammad: Macron harus tahu bhw agama Islam adalah agama rahmah.”

“Tapi pemeluk agama apa pun akan marah kalau agamanya dihina. Kalau tak paham itu berarti dia mengalami krisis gagal paham,” tulisnya.

Adapun, Kemenlu telah memanggil Dubes Prancis untuk Indonesia Oliver Chambard untuk menyampaikan sikap resmi pemerintah Indonesia.

3. Menteri Agama Fachrul Razi

Sehari setelah pernyataan dua menteri tersebut, Menag Fachrul Razi turut mengecam pernyataan Macron. Dia bahkan menyebut bahkan kebebasan berpendapat tetap memiliki batas-batas tertentu termasuk perihal agama.

Dia menilai setiap umat beragama harus menghormati simbol agama yang dianggap suci oleh pemeluk agama lain termasuk terkait pemahaman visualisasi Nabi Muhammad SAW.

“Kebebasan berpendapat atau berekspresi tidak boleh dilakukan melampaui batas atau kebablasan sehingga mencederai kehormatan, kesucian, dan kesakralan nilai dan simbol agama apapun,” katanya.

“Keagungan Islam tidak bisa ditegakkan dengan melanggar nilai-nilai kemanusiaan. Tunjukkan sikap tegas dengan tetap menjunjung tinggi watak umat beragama yang menolak tindak kekerasan,” tambahnya.

Pertanyaan tersebut sejatinya tidak hanya disampaikan oleh pejabat negara. Sejumlah ormas Islam mengutuk keras aksi tersebut, seperti Majelis Ulama Indonesia, sejumlah politisi seperti Agus Harimurti Yudhoyono, Ahmad Basarah hingga tokoh agama dan pengusaha Ustaz Yusuf Mansur.

Dari berbagai negara, Turki paling keras mengutuk ucapan Presiden termuda dalam sejarah Prancis itu. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan bahkan menyebut Macron seharusnya dapat melakukan pemeriksaan mental.

Mengetahui hal itu, Macron yang mengagungkan kebebasan berpendapat malah tak terima ucapan tersebut. Membalas ucapan itu, Majalah Charlie Hebdo akhirnya turut menerbitkan karikatur tak senonoh Erdogan. Namun pemimpin Turki itu tak ingin menanggapi penerbitan kartun tersebut.

Sumber : Bisnis.com