Menlu AS Temui GP Ansor dan Ormas Islam, Sebut Partai Komunis China sebagai Ancaman

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo tiba di Indonesia, Kamis (29/10/2020), dan dijadwalkan bertemu Presiden Joko Widodo. JIBI - Bisnis/Nancy Junita @SecPompeo
29 Oktober 2020 19:47 WIB Nyoman Ary Wahyudi News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA — Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo berpidato di hadapan perwakilan organisasi masyarakat Islam di Indonesia pada forum yang digelar oleh Gerakan Pemuda (GP) Ansor, pada Kamis (29/10/2020) dalam sela-sela lawatannya ke Indonesia.

Pada kesempatan itu, ia mengatakan Chinese Communist Party (CCP) atau Partai Komunis China (PKC) sebagai ancaman serius terhadap nilai kebebasan beragama dan kemanusiaan di masa depan.

“Ancaman terbesar terhadap masa depan kebebasan beragama adalah Partai Komunis China yang berperang melawan seluruh orang beriman, baik itu Muslim, Budhis, Kristian dan lainnya. PKC yang ateis itu berusaha mewajarkan kebrutalan mereka terhadap Muslim Uighur di Xinjiang sebagai bagian dari tindakan perlawanan terhadap terorisme,” kata Mike.

Baca juga: Ini Kecaman Menag Fachrul Razi terhadap Pernyataan Presiden Prancis

Selain itu, Mike menambahkan, PKC menggunakan program pengentasan kemiskinan sebagai alat pembenaran atas kekerasan terhadap Muslim Uighur.

“Tetapi kita tahu tidak ada tindakan perlawanan terhadap terorisme yang dapat dibenarkan untuk memaksa Muslim Uighur makan babi selama Ramadhan atau menghancurkan tempat makam orang muslim,” ujarnya.

Setelah bercerita panjang lebar, dia meminta kepada hadirin yang menyimak untuk menyelidiki hati mereka masing-masing. Maksudnya, untuk menilai secara personal apakah tindakan PKC itu dapat dibenarkan di hadapan nilai kebebasan beragama dan kemanusiaan.

Baca juga: Gawat, RS Jadi Sasaran Kejahatan Siber di Tengah Pandemi Covid

“Ketika kamu mendegar argumentasi ini coba selidiki hati mu, berdasarkan fakta-fakta dan cerita dari para penyintas. Coba pikirkan bagaimana pemerintahan otoriter memperlakukan orang yang menentang aturan seperti itu,” kata dia.

Sebelumnya, dia mengatakan, Amerika Serikat telah meminta Vatikan untuk bersuara lantang terkait hak kebebasan beragama dan memajukan nilai-nilai kemanusiaan. Menurut dia, dunia saat ini memerlukan lebih banyak lagi tokoh agama sekaligus saksi moral.

“Saya meminta kepada Vatikan untuk berbicara terkait hak beragama kepada para minoritas yang dipersekusi di mana saja. Kita membutuhkan lebih banyak lagi tokoh agama yang berbicara sebagai saksi moral,” kata dia.

Sumber : Bisnis.com