Ini Deretan Pesan dari Para Mantan Pasien Covid-19

Ingat Pesan Ibu, Jangan Lupa Pakai Masker. - Harian Jogja/Dok
19 Oktober 2020 12:37 WIB Hery Setiawan (ST18) News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Banyak orang sembuh dari Covid–19 dan kini kembali menjalani rutinitas seperti semula. Bagaimana mereka berjuang melawan krisis? Apa saja pesan-pesan mereka kepada masyarakat?

Yanto dinyatakan sembuh dari Covid-19 pada Juni lalu. Waktu itu ia baru saja pulang dari rumah sakit. Selama 52 hari ia bertarung melawan virus dan rindu kepada keluarga.

“Tak mudah,” katanya.

Tubuhnya sempat susut, wajahnya pucat, rasa lelah masih bertahan. Kesembuhan ibarat hari pembebasan yang sangat dinantikan.

Dia mulai menata ulang kehidupannya. Setelah empat bulan berselang, Yanto sudah banyak berubah. Wajahnya tak lagi pucat. Postur tubuhnya tampak lebih berisi. Sedikit kumis dan jenggot juga tumbuh di sekitar mulutnya. Yanto dulu dan kini sudah jauh berbeda dari sebelumnya.

“Dua pekan habis pulang dari rumah sakit saya langsung berangkat kerja. Syukurlah, sampai sekarang bisa lancar,” kata Yanto beberapa waktu lalu.

Tampaknya ia tak ingin berlama-lama di rumah. Kehidupannya harus bangkit segera. Selama menjalani karantina, pikiran Yanto terbelah dua. Di satu sisi, ia mesti fokus menjalani perawatan. Stres dan sumber beban pikiran, kalau bisa ia buang. Namun, di sisi lain, ia masih khawatir dengan kondisi keluarganya di rumah. Ditambah lagi, istrinya sedang mengandung anak mereka yang kedua.

Yanto bilang karantina di rumah sakit sungguh tidak enak, kendati semua kebutuhannya terjamin, mulai dari makanan, obat-obatan, hingga koneksi Internet. Itu semua sama sekali tak membuatnya betah. Ia tak bisa ke mana-mana selain menunggu dan menanti hasil tes swab menunjukkan hasil negatif.

“Kalau di rumah sakit semua kebutuhan terpenuhi, anggaplah seperti VIP gitulah. Tapi lebih enak di rumah, meskipun cuma makan seadanya, fasilitasnya juga enggak lebih bagus dari rumah sakit. Paling enak itu bisa kumpul sama keluarga, sama anak. Kalau ngomong ketemuan lewat HP itu kurang rasanya. Buat saya, tinggal di rumah itu jauh lebih VIP,” katanya.

Ia menilai kesembuhannya tak bisa lepas dari kualitas perawatan rumah sakit. Tak berlebihan, tapi juga tak kekurangan. Semua upaya yang dibutuhkan untuk kesembuhan Yanto diberikan sesuai porsinya.

Kesembuhan Yanto seperti titik balik. Perlahan, kehidupannya mulai bangkit. Ia telah kembali ke tempat kerja. Kebahagiaan yang sebelumnya tertahan, kini bisa ia rengkuh lagi perlahan-lahan. Semangatnya kian berlipat ganda lantaran istrinya baru saja melahirkan anak kedua.

“Yang penting ikut apa yang sudah dianjurkan pemerintah, aturan kesehatannya, jaga jarak, cuci tangan, pakai masker, olah raga yang rajin. Terus makan makanan yang bergizi dan seimbang. Saya kira kalau imunnya kuat, daya tahan tubuhnya sehat terus, sulit itu virusnya masuk. Jadi bisa menangkal sendiri. Kalau pun kepepetnya kena ya minimal OTG lah, enggak ada gejala,” ujar Yanto.

Cerita kesembuhan bukan hanya datang dari Yanto. Siti Nurhaliza, mahasiswa Universitas Aisyiyah Yogyakarta juga punya cerita serupa. Hebatnya, masa kritis sebagai pasien Covid-19 ia lewati bersamaan dengan perjuangannya membereskan tugas akhir.

Icha, demikian ia akrab disapa, mengatakan kondisi yang paling tidak mengenakan ketika dirinya harus menelan berbagai macam obat. Jumlah obatnya sangat banyak, dosisnya juga tinggi. Efek sampingnya cukup sulit ia tahan. Mulai dari nyeri, demam, pembengkakan, kadang pula ia merasa kejang.

Beruntung, ia berhasil melalui itu semua. Tugas akhirnya pun turut rampung. Ia tinggal menunggu waktu wisuda daring yang jatuh pada Desember 2020 mendatang. D ia berpesan kepada masyarakat agar selalu menjaga protokol kesehatan. Hal itu sangat penting sebab pandemi Covid-19 sungguh benar adanya.

“Kita tetap harus berpatokan kepada pendapat ahli. Pendapat ahli lebih bisa dipercaya. Pandemi Covid-19 itu memang ada. Apalagi sekarang udah mulai seperti normal. Jogja saja sudah ramai banget. Jangan sampai new normal ini jadi gelombang kedua. Jadi ke mana-mana itu wajib pakai masker. Kalau gak pakai masker itu harus merasa ada yang kurang. Terus ke mana-mana juga harus bawa hand sanitizer,” katanya.

Selain Icha, kalangan tenaga kesehatan (nakes) juga punya cerita yang sama. Seorang bidan desa asal Magelang sempat mengidap positif Covid-19. Penularan itu diduga terjadi kala ia menangani pasien positif dari klaster Gowa. “Kaget, tidak percaya, teman-teman nakes di puskesmas juga tidak percaya, karena mereka tahu saya tidak bergejala. Tidak sakit, tapi sakitnya tuh di sini," tuturnya sambil menunjuk dada kala menjelaskan perasaannya saat pertama kali dinyatakan positif Covid - 19.

Saat menjalani isolasi mandiri di rumah, ia mendapat dukungan dari kepala desa. Teman serta keluarga juga turut memberikan dukungan. Sungguh beruntung, pikirnya. Sebab, kala menangani pasien dari klaster Gowa, ia mendengar kabar miring yang mengarah tindak perundungan kepada pasien Covid - 19.

Beruntung, sang bidan mampu sembuh dan kembali bertugas di puskesmas. Kejadian yang menimpanya menjadi pelajaran yang berharga. Protokol kesehatan wajib dijaga oleh siapa pun. Alat perlindungan diri harus dipakai di saat berkegiatan di ruang publik. Terlebih bagi seorang bidan kala menjalankan tugasnya menangani pasien.