Pesantren Jadi Garda Depan Perubahan Perilaku

Ingat Pesan Ibu, Jangan Lupa Pakai Masker. - Antara
17 Oktober 2020 17:37 WIB Arief Junianto News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Beberapa waktu terakhir banyak beredar kabar munculnya klaster pondok pesantren. Pola pendidikan dan interaksi di pondok pesantren dituding menjadi biangnya.

Itulah sebabnya, perubahan perilaku, mulai dari sistem dan pola pendidikan hingga kebiasaan para warga pondok pesantren dinilai menjadi kunci untuk meminimalkan kasus Covid-19 di lingkungan pondok pesantren.

Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Covid-19 Sonny B. Harmadi mengatakan sektor pendidikan, terutama pondok pesantren seharusnya memang bisa jadi garda terdepan dalam upaya mengubah perilaku masyarakat untuk lebih disiplin menerapkan protokol kesehatan.

“Sistem boarding school, termasuk pondok pesantren ini sebenarnya bagus. Pengawasan serta penelusuran kalau ada kasus [Covid-19] akan lebih mudah,” kata Sonny saat menjadi salah satu narasumber dalam gelar wicara bertajuk Perubahan Perilaku di Lingkungan Pesantren yang digelar secara virtual oleh Satgas Covid-19, Jumat (16/10/2020).

Meski begitu, pengelola dan pengasuh pondok pesantren tetap harus disiplin menerapkan protokol kesehatan. Hal utama yang acap luput dilakukan, kata Sonny, adalah kebiasaan makan bersama.

“Jadi sebisa mungkin, setop kebiasaan makan bersama. Apalagi dengan alat makan yang dipakai bersama. Begitu juga alat-alat pribadi, seperti misalnya alat salat, kalau bisa jangan dipakai bergantian. Pakai sendiri-sendiri,” ucap dia.

Sofwan Manaf, Pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah yang juga menjadi narasumber dalam gelar wicara tersebut mengaku persoalan terbesar yang selama ini dialaminya adalah terkait dengan orang tua santri yang kerap ngeyel untuk menemui anaknya di pondok pesantren.

Padahal sejak pandemi, kata Sofwan, pengasuh sudah menetapkan kebijakan pembatasan bagi orang tua santri dalam berinteraksi dengan anak mereka.

“Para orang tua santri yang datang, harus daftar online dulu. Selain itu, jumlahnya pun kami batasi, hanya 80 orang selama sepekan. Kalau sudah bertemu dan berinteraksi dengan santri, kami batasi jaraknya minimal dua meter,” kata dia.

Sejuah ini, imbuh Sofwan, tercatat ada satu orang warga pesantren yang terinfeksi Covid-19. “Itu pun karena dia tertular dari keluarganya. Sejak itu, kami berlakukan pembatasan keluar masuk warga pesantren, yang kami sebut one gate system,” kata dia.