Advertisement
Tak Banyak Pemuda Ngopi di Cafe, Penjualan Arabika Anjlok
Seorang petani memanen kopi Robusta (Coffea canephora) saat panen perdana di perladangan Desa Jambon, Kandangan, Temanggung, Jawa Tengah, Selasa (25/8/2020). ANTARA FOTO - Anis Efizudin
Advertisement
Bisnis.com, JAKARTA —Kopi varietas Arabika di bursa berjangka merosot. Hal itu disebabkan para pelanggan yang masih enggan ke café.
Sementara itu kopi varietas robusta mengalami nasib yang sedikit lebih baik.
Advertisement
Seperti dilansir dari Bloomberg, stok kopi mencapai level yang sangat tinggi hingga membuat gudang-gudang penyimpanan di Brasil yang merupakan negara produsen dan eksportir kopi terbesar di dunia dilaporkan penuh.
Bahkan, pemberitaan sebelumnya menyebutkan truk-truk di surga kopi tersebut harus menunggu berhari-hari untuk melakukan bongkar muat di tengah penurunan permintaan terbesar yang pernah terjadi.
Hal tersebut kemudian menyeret kopi ke penurunan mingguan terburuknya. Sebagai gambaran, harga kopi di bursa New York, yang merupakan acuan harga global jatuh 14 persen minggu ini.
Persediaan kopi kian menumpuk karena permintaan yang terus lemah. Kopi Arabika adalah jenis kopi yang lebih halus yang disukai oleh perusahaan di bidang café seperti Starbucks Corp.
Permintaan akan kopi Arabika yang lesu disebabkan konsumen masih enggan untuk kembali ke kafe dan restoran sehingga konsumsi biji kopi premium turun tajam. Sebaliknya, kopi Robusta yang banyak digunakan dalam kopi instan dan rumahan memiliki kinerja yang sedikit lebih baik.
Di bursa berjangka London, harga kopi Robusta hanya turun kurang dari 2 persen tahun ini, sedangkan di saat yang sama Arabika anjlok 12 persen.
Kejatuhan harga kopi Arabika terjadi setelah kenaikan harga yang dialami tiga bulan sebelumnya. Cuaca kering di Brasil yang memicu kekhawatiran atas panen berikutnya, meskipun akhirnya sejak itu hujan turun dan mengurangi ancaman itu.
"Harga jatuh ini karena ramalan cuaca soal hujan di beberapa daerah utama yakni di Amerika Selatan yang akan meningkatkan hasil panen,” kata Caroline Bain, Kepala Ekonom Komoditas di Capital Economics di London, seperti dikutip Bisnis, Minggu (20/9/2020)
Sementara itu, sejumlah pengiriman langka biji kopi Brasil ke gudang yang disetujui oleh ICE Futures AS bmenandakan bahwa pemasok di negara itu masih memegang sebagian besar hasil panen tahun 2020.
Pada penutupan perdagangan Jumat (18/9/2020), kontrak berjangka Arabika untuk pengiriman Desember turun 3,8 persen menjadi US$1,13 per pound di bursa New York. Harga turun untuk hari kelima berturut-turut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Puncak Arus Balik 2026: Rest Area KM 62B dan 52B Tol Japek Ditutup
- Lonjakan Kendaraan Arus Balik, Rest Area di Tol Ini Ditutup
- Listrik Kuba Kembali Padam Saat Tekanan Krisis Energi Meningkat
- Ledakan Petasan di Pamekasan Bongkar Produksi Berdaya Ledak Tinggi
- China Desak Penghentian Konflik Timur Tengah Saat Idulfitri
Advertisement
Sleman Perluas Trayek Bus Sekolah di Kalasan, Target Mei 2026
Advertisement
Sukolilo Pati Sempat Viral, Ternyata Simpan Banyak Tempat Wisata
Advertisement
Berita Populer
- Dua Wisatawan Terseret Arus Rip Current di Pantai Drini
- Tahan Godaan Opor, Kapten PSIM Reva Pilih Tetap Disiplin Jaga Fisik
- Eks Menara Kopi Kotabaru Mulai Ramai Bus Pariwisata
- Satpol PP Masih Temukan Wisatawan Merokok dan Otoped di Malioboro
- Omzet Penjual Salak Jalan Jogja Solo Turun 40% Akibat Macet
- Kadin Ingatkan WFH Satu Hari Tidak Bisa Berlaku Bagi Semua Sektor
- Penumpang Kereta Api Mendominasi Lonjakan Pemudik Lebaran 2026
Advertisement
Advertisement







