Peneliti Temukan 50 Planet Baru

Tata Surya - Reuters
05 September 2020 07:27 WIB Syaiful Millah News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Pada 1995, astronomi Alexander Wolszczan dan Dale Frail mengamati bintang pulsar, ketika mereka memerhatikan ritme terpaut dari cahaya yang berdenyut tampaknya melewatkan satu ketukan.

Cahaya yang berdenyut di luar ritme itu menyebabkan penemuan planet ekstrasurya pertama yang disebut 51 Pegasi b. Sejak saat itu, kita menemukan dunia yang jauh, yang mengorbit bintang selain matahari bumi. Sejauh ini, ada lebih dari 4.000 planet di luar tata surya (exoplanet).

Pencarian terus berlanjut dengan misi luar angkasa yang sedang berlangsung untuk menjelajahi kosmos. Untuk mempercepat prosesnya, tim astronomi telah menemukan algoritma pembelajaran mesin baru yang dapat mengesampingkan informasi palsu dan mengonfirmasi exoplanet sebenarnya.

Dilansir dari Inverse, Jumat (4/9/2020) tim astronomi dari Universitas Warwick, Inggris telah menemukan dan mengonfirmasi keberadaan dari 50 planet baru menggunakan bantuan sistem kecerdasan buatan (artificial intellegence/AI).

Dua misi utama di balik penemuan exoplanet yang sedang berlangsung adalah misi Kepler NASA dan misi Transiting Exoplanet Survey Satellite (TESS). Kepler melihat apakah ada planet yang mengorbit di dalam zona layak huni dan TESS mengamati 200.000 bintang paling terang di langit.

Saat sebuah planet transit di depan bintang induknya, hal itu menyebabkan sedikit penurunan cahaya bintang. Mesin mencari kemiringan exoplanet sebagai petunjuk adanya planet yang mengorbit bintang itu. Setelahnya, astronomi memastikan bahwa itu memang planet yang menyebabkan variasi cahaya. Dilaporkan bahwa ada lebih dari 3.000 titik serupa yang masih menunggu untuk dikonfirmasi sebagai planet.

David Armstrong, profesor di Universitas Warwick ingin membuat algoritma yang akan membantu astronomi menyaring data itu jauh lebih cepat, "Kami ingin mengembangkan algoritma ini untuk bekerja dengan misi yang sedang berlangsung. Prosesnya jauh lebih cepat dan kami dapat menerapkannya ke lebih banyak kandidat planet," katanya.

Tim peneliti melatih algoritma untuk mengenali planet mana yang nyata dan mana yang bukan, dengan memberi sampel besar dari planet yang telah terkonfirmasi asli dan palsu sebelumnya. Dengan pola data itu, sistem pembelajaran mesin mempelajari cara memisahkan data dalam dua kategori.

Selanjutnya, para peneliti menggunakan algoritma tersebut pada kumpulan data ribuan planet yang terkonfirmasi. Hasilnya, algoritma itu mampu mengonfirmasi 50 planet baru dari basis data. Planetnya bervariasi mulai dari yang seukuran bumi hingga neptunus.

"Apa yang telah kami lakukan secara berbeda dari teknik pembelajaran mesin lainnya adalah mencoba membuatnya menjadi bersifat probabilistik, yang secara statistik memungkinkan penemuan planet bukan hanya memeringkatnya," kata Armstrong.

Algoritma yang ada sebelumnya memungkinkan pemberian hasil data dengan peringkat exoplanet dalam hal kemungkinannya menjadi planet, tapi sistem algoritma baru ini menentukan probabilitas setiap planet menjadi Planetnya sendiri.

Armstrong mengatakan bahwa 50 planet yang ditemukan dengan bantuan mesin pembelajaran ini adalah yang telah melewati ambang batas 99 persen kemungkinan dari sebuah planet. Artinya, sangat kecil kemungkinan klaim tersebut salah atau tidak akurat.

Saat penemuan exoplanet baru terus berlanjut, para peneliti akan semakin cepat menindaklanjuti penemuan tersebut dan melakukan analisis lebih lanjut untuk mencari planet atau tempat baru yang layak huni di bumi, di luar angkasa sana.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia